Rabu, 17 Agustus 2011

Psikologi dan Fisiologi ASI



Writer                   : Nyimas Novian Nisa
NIM                       : M10. 02. 0034
Program               : Midwifery Program
 

Matery                  : Biologi Reproduksi
Titlle                      : Air Susu Ibu
Lecture                 : Marmi, S. ST




AIR SUSU IBU
FISIOLOGI PENEGELUARAN AIR SUSU IBU
Pengeluaran ASI merupakan suatu interaksi yang sangat komplek antara rangsangan mekanik, saraf dan bermacam-macam hormon. Pengaturan hormon terhadap pengeluaran ASI dapat dibedakan menjadi 3 bagian yaitu :
1.      Pembentukan kelenjar payudara
2.      Pembentukan air susu
3.      Pemeliharaan penegeluaran air susu

1.      Pembentukan kelenjar payudara
a.       Sebelum pubertas
Duktus primer dan sekunder sudah terbentuk pada masa fetus. Mendekati pubertas terjadi pertumbuhan yang cepat dari sistem duktus tertutama di bawah pengaruh hormon estrogen yang juga ikut berperan dalam alveoli dan hormon progesteron. Hormon yang juga ikut berperan dalam pertumbuhan kelenjar payudara adalah prolaktin yang dikeluarkan oleh kelelnjar adenohipofise (hipofise anterior). Hormon yang kurang peranannya adalah hormon klenjar adrenalin, tiroid, paratiroid dan hormon pertumbuhan.

b.      Masa pubertas
Pada masa ini, terjadi pertumbuhan percabangan-percabangan sistem duktus, proliferasi dan kanalisasi dari unit-unit lobuloalveolar yang terletak pada ujung-ujung distal duktulus. Jaringan penyangga stroma mengalami organisasi dan membentuk septum interlobular.

c.       Masa siklus menstruasi
Perubahan-perubahan kelenjar payudara wanita dewasa berhubungan dengan siklus menstruasi dan perubahan-perubahan hormonal yang mengatus siklus tersebut seperti estrogen dan progesteron yang dihasilkan oleh korpus luteum. Bila kadar hormon ini meningkat maka akan terjadi edema lobulus, penebalan dari basal membran epitel dan keluarnya bahan dalam alveoli. Secara klinis akan dirasakan payudara berat dan penuh. Setelah menstruasi dimana kadar estrogen dan progesteron berkurang, yang berperan hanya prolaktin saja, terjadi degenerasi dari sel-sel kelenjar air susu beserta jaringan yang mengalami proliferasi, edema berkurang sehingga besarnya payudara berkurang namun tidak kembali seperti besar sebelumnya. Hal ini menyebabkan payudara selalu bertambah besar pada tiap siklus ovulasi mulai dari permulaan tahun menstruasi sampai umur 30 tahun.

d.      Masa kehamilan
Pada permulaan kehamilan terjadi peningkatan yang jelas dari duktulus yang baru, percabangan-percabangan dan lobulus, yang dipengaruhi oleh hormon-hormon plasenta dan korpus luteum. Hormon-hormon yang ikut membantu mempercepat pertumbuhan adalah prolaktin, laktogen plasenta, korionik gonadotropin, insulin, kortisol, hormon tiroid, hormon paratiroid, hormon pertumbuhan.

e.       Pad 3 bulan kehamilan
Prolaktin dari adenohipofise (hipofise anterior) mulai merangsang kelenjar air susu pengeluaran kolostrum masih dihambat oleh estrogen dan progesteron. Tetapi jumlah prolaktin meningkat hanya aktifitas dalam pembuatan kolostrum yang ditekan.

f.       Pada trimester kedua kehamilan
Laktogen plasenta mulai merangsang untuk pembuatan kolostrum. Keaktifan dari rangsangan hormon-hormon terhadap pengeluaran air susu telah di demonstrasikan kebenarannya bahwa seorang ibu yang melahirkan bayi berumur 4 bulan di mana bayinya meninggal, tetap mengeluarkan kolostrum.

2.      Pembentukan air susu
Pada seorang ibu yang menyusui dikenal 2 refleks yang masing-masing berperan sebagai pembentukan dan pengeluaran air susu yaitu reflek prolaktin dan reflek “let down” (lawrence RA, 1988 dan 1995).
a.      Reflek prolaktin
Seperti telah dijelaskan bahwa menjelang akhir kehamilan terutama hormon prolaktin memegang peranan untuk membuat kolostrum, namun jumlah kolostrum terbatas, karena aktifitas prolaktin dihambat oleh estrogen dan progesteron yang kadarnya memang tinggi. Setelah partus berhubung lepasnya plasenta dan kurang berfungsinya korpus luteum maka estrogen dan progesteron sangat berkurang, ditambah lagi dengan adanya isapan bayi yang merangsang puting susu dan kalang payudara, akan merangsang ujung-ujung saraf sensoris yang berfungsi sebagai reseptor mekanik.

Rangsangan ini dilanjutkan ke hipotalamus melalui medula spinalis dan mensephalon. Hipotalamus akan menekan pengeluaran faktor-faktor yang menghambat sekresi prolaktin dan sebalinya merangsang pengeluaran faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin. Faktor-faktor yang memacu sekresi prolaktin akan merangsang adenohipofise (hipofise anterior) sehingga keluar prolaktin. Hormon ini merangsang sel-sel alveoli yang berfungsi untuk membuat air susu.

Kadar prolaktin pada ibu yang menyusui akan menjadi normal 3 bulan setelah melahirkan sampai penyepihan anka dan pada saat tersebut tidak akan ada peningkatan prolaktin walaupun ada isapan bayi, anmun pengeluaran susu tetap berlangsung. Pada ibu yang melahirkan anak tetapi tidak menyusui, kadar prolaktin akan menjadi normal pad minggu ke 2-3. Pada ibu yang menyusui, prolaktin akan meningkat dalan keadaan-keadaan seperti :
-          Stres atau pengaruh psikis
-          Anastesi
-          Operasi
-          Rangsangan puting susu
-          Hubungan kelamin
-          Obat-obatan tranquilizer hipotalamus seperti reserpin, klorpromazin, fenotiazid.
Sedangkan keadaan-keadaan yang menghambat pengeluaran prolaktin adalah ;
-          Gizi ibu yang jelek
-          Jalannya

b.      Reflek  let down (milk ejection reflek)
Bersamaan dengan pembentukan prolaktin oleh adenohipofise, rangsangan yang berasal dari isapan bayi ada yang dilanjurkan ke neurohipofise (hipofise posterior) yang kemudian dikelurkan oksitosin. Melalui aliran darah, hormon ini diangkut menuju uterus yang dapat menimbulkan kontraksi pada uterus sehingga terjadi involusi dari organ tersebut. Oksitosin yang sampai pada alveoli akan mempengaruhi sel miopitelium. Kontraksi dari sel akan memeras air susu yang telah terbuat keluar dari alveoli dan masuk ke sistem duktus yang untuk selanjutnya mengalir melalui duktus laktiferus masuk ke mulut bayi.

Faktor-faktor yang meningkatkan reflek let down adalah :
-          melihat bayi
-          mendengarkan suara bayi
-          mencium bayi
-          memikirkan untuk menyusui bayi
Faktor-faktor yang menghambat reflek let down adalah :
-          keadaan bingung/ pikiran kacau
-          takut
-          cemas

Bila ada stres dari ibu yang menyusui maka akan terjadi suatu blokade dari reflek let down.  Ini disebabkan oleh karena adanya pelepasan dari adrenalin (epinefrin) yang menyebabkan vasokontriksi dari pembuluh darah alveoli, sehingga oksitosin sedikit harapannya untuk dapat mencapai target orgam miopitelium. Akibat dari tidak sempurnanya refleks  let down  maka akan terjadi penumpukan air susu didalam alveoli yang secara klinis tampak payudara membesar.

Payudara yang besar dapat berakibat abses, gagal untuk menyusui dan rasa sakit. Rasa sakit ini akan merupakan stres lagi bagi seorang ibu sehingga stres akan bertambah. Karena reflek let down tidak sempurna maka bayi uyang haus jadi tidak puas. Ketidak puasan ini akan merupakan tambahan stres bagi ibunya. Bayi yang haus dan tidak puas ini akan berusaha untuk mendapatkan air susu yang cukup dengan cara menambah kuat isapannya sehingga tidak jarang dapat menimbulkan luka-luka pada puting susu dan sudah barang tentu luka-luka ini akan dirasakan sakit oleh ibunya yang juga akan menambah stres pad ibu tadi. Dengan demikian akan terbentuk satu lingkaran setan yang tertutup (circulus vitiosus) dengan akibat kegagalan dalam menyusui.

3.      Pemeliharaan pengeluaran air susu
Hubungan yang utuh antara hipotalamus dan hipofise akan mengatur kadar pprolaktin dan oksitosin dalam darah. Hormon-hormon ini sangat perlu untuk pengeluaran permulaan dan pemeliharaan penyediaan air susu selama menyusui. Proses menyusui memerlukan pembuatan dan pengeluaran air susu dari alveoli ke sistem duktus. Bila susu tidak dikeluarkan akan mengakibatkan berkurangnya sirkulasi darah kapiler yang menyebabkan terlambatnya proses menyusui. Berkurangnya rangsangan menyusui oleh bayi misalnya bila kekuatan isapan yang berkurang. Frekuensi isapan yang kurang dan singkatnya waktu menyusui ini berarti pelepasan prolaktin dari hipofise berkurang, sehingga pembuatan air susu ibu berkurang, karena diperlukan kadar prolaktin yang cukup untuk mempertahankan pengeluaran air susu mulai sejak minggu pertama kelahiran.
           
Pengeluaran prolaktin dihambat oleh faktor-faktor yang menghambat pengeluaran prolaktin yang belum jelas bahannya, namun beberapa bahan seperti dopamin, serotonin, katekolamin, TSH, dihubungkan ada sangkut pautnya dengan pengeluaran prolaktin.
           
Pengeluaran oksitosin ternyata di samping dipengaruhi oleh isapan bayi, juga oleh suatu yang terletak pada sistem duktus. Bila duktus melebar atau menjadi lunak maka secara reflekstoris dikeluarkan oksitosin oleh hipofise yang berperan untuk memeras keluar air susu dari alveoli. Jadi peranan prolaktin dan oksitosin mutlak perlu disamping faktor-faktor lain selama proses menyusui.

MEKANISME MENYUSUI
Bayi yang sehat mempunyai 3 refleks intrinsik, yang diperlukan untuk berhasilnya menyusui seperti :
1.      Refleks mencari (rooting reflex)
Payudara ibu menempel pada pipi atau daerah sekeliling mulut, yang merupakan rangsangan yang menimbulakan refleks mencari pada bayi. Ini menyebabkan kepala bayi berputar menuju puting susu yang menempel tadi diikuti dengan membuka mulut kemudian puting susu ditarik masuk ke dalam mulut.
2.      Refleks mengisap (sucking reflex)
Tehnik menyusui yang baik adalah apabila kalang payudara sedapat mungkin semuanya masuk ke dalam mulut bayi, tetapi hal ini tidak mungkin dilakukan pada ibu yang kalang payudaranya besar. Untuk ini maka sudah cukup bila rahang bayi supaya menekan sinus laktiferus yang terletak di puncak kalang payudara di belakang puting susu. Tidak benar bila rahang bayi hanya menekan puting susu saja, karena bayi hanya dapat menghisap susu sedikit dan pihak ibu akan timbul lecet-lecet pada puting susunya. Puting susu yang telah masuk kedalam mulut dengan bantuan lidah, dimana lidah dijulurkan di atas gusi bawah puting susu ditarik lebih jauh sampai pada orofaring dan rahang menekan kalang payudara di belakang putingg susu yang pada saat itu sudah terletak pada langit-langit keras (palatum durum). Dengan tekanan bibir dan gerakan rahang secara berirama, maka gusi akan menjepit kalang payudara dan sinus laktiferus, sehingga air susu akan mengalir ke puting susu, selanjutnya bagian belakang lidah menekan puting susu pada langit-langit yang mengakibatkan air susu keluar dari puting susu. Cara yang dilakukan oleh bayi ini tidak akan menimbulkan cedera pada puting susu.

3.      Refleks menelan (swallowing reflex)
Pada saat air susu keluar dari puting susu, akan disusul dengan gerakan mengisap (tekanan negatif) yang ditimbulkan oleh otot-otot pipi, sehingga pengeluaran air susu akan bertambah dan diteruskan dengan mekanisme menelan masuk ke lambung. Keadaan akan terjadi berbeda bila bayi diberi susu botol dimana rahang mempunyai peranan  sedikit didalam menelan dot botol, sebab susu dengan mudah mengalir dari lubang dot. Dengan adanya gaya berat, yah disebabkan oleh posisi botol yang dipegang ke arah bawah dan selanjutnya dengan adanya isapan pipi (tekanan negatif) kesemuanya ini akan membantu aliran susu, sehingga tenaga yang diperlukan oleh bayi untuk menghisap susu menjadi minimal. Kebanyakan bayi-bayi yang masih baru belajar menyusu pada ibunya, kemudian dicoba dengan susu botol secara bergantian, maka bayi tersebut akan menjadi bingung puting (nipple confusion). Sehingga serimg bayi menyusu pada ibunya, sama seperti menghisap dot botol, keadaan ini berakibat kurang baik dalam pengeluaran air susu ibu. Oleh karena itu kalau terpaksa bayi tidak bisa langsung disusui oleh ibunya pada awal-awal kehidupan, sebaiknya bayi diberi minum melalui sendok, cangkir, atau pipet, sehingga bayi tidak mengalami bingung puting (Neifert, 1995).

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PENGGUNAAN ASI
Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi penggunaan ASI antara lain ;
1.      Perubahan sosial budaya
-          Ibu-ibu bekerja atau kesibukan sosial lainnya
-          Meniru teman, tetangga atau orang terkemuka yang memberikan susu botol
-          Merasa ketinggalan zama jika menyusui bayinya
2.      Faktor psikologis
-          Takut kehilangan daya tarik sebagai seorang wanita
-          Tekanan batin
3.      Faktor fisik ibu
-          Ibu sakit, misalnya mastitis, panas, dan sebagainya.
4.      Faktor kurangnya petugas kesehatan, sehingga masyarakat kurang mendapat peranan atau dorongan tentang manfaat pemberian ASI.
5.      Meningkatkan promosi susu kaleng sebagai pengganti ASI.
6.      Penerangan yang salah justru datang dari petugas kesehatan sendiri yang menganjurkan penggantian ASI dengan susu kaleng.
KEBAIKAN AIR SUSU IBU
COW’S MILK IS BEST FOR CALVES, MOTHER’S MILK IS BEST FOR BABIES. Bahwa ASI merupakan susu terbaik untuk bayi kita, tidaklah perlu disangsikan lagi.
Disamping zat-zat yang terkandung didalamnya, pemberian ASI juga mempunyai beberapa keuntungan yaitu :
-          Steril, aman dari pencernaan kuman
-          Selalu tersedia dengan suhu yang optimal
-          Produksi disesuaikan dengan kebutuhan bayi
-          Mengandung antibody yang dapat menghambat pertumbuhan atau membunuh kuman atau virus
-          Bahaya alergi tidak ada
Selain kebaikan ASI sendiri, menyusui juga mampu mempunyai keuntungan lain yaitu :
-          Dengan menyusui terjalin hubungan uyang lebih erat antara ibu dan bayinya karen secara alami dengan adanya kontak kulit, abyi merasa aman. Hal ini sangat penting bagi perkembangan psikis dan emosi dari bayi.
-          Dengan menyusui menyebabkan uterus berkontraksi sehingga pengembalian uterus ke keadaan fisiologis (sebelum kehamilan) lebih cepat.
-          Dengan menyusui akan mengurangi kemungkinan menderita kanker payudara pad masa mendatang.
-          Dengan menyusui kesuburan ibu akan berkurang untuk beberapa bulan (membantu keluarga berencana).
Hubungan antara menyusui dan KB ini telah dilaporkan bahwa dengan menyusui akan terjadi amenore sampai 12-13 bulan, malahan amenore ini menurut beberapa penyelidik dapat mencapai 2 tahun. Adanya amenore ini disebabkan adanya hormon prolaktin dan laktogenik kompleks dari kelenjar hipofise yang akan menghambat ovulasi.

PETUNJUK YANG DAPAT DIPAKAI UNTUK MENGETAHUI PRODUKSI ASI
Untuk mengetahui banyaknya produksi ASI, beberapa kriteria yang dipakai sebagai patokan untuk mengetahui jumlah ASI cukup atau tidak adalah :
-          ASI yang banyak dapat merembes ke luar melalui puting.
-          Sebelum disusukan payudara teras tegang.
-          Berat badan naik dengan memuaskan sesuai dengan umur.


*umur                                     kenaikan berat badan rata-rata
1-3 bulan                                            700 gr/bulan
4-6 bulan                                            600 gr/bulan
7-9 bulan                                            400 gr/bulan
10-12 bualan                                      300 gr/bulan
*pada umur 5 bulan tercapai 2 x berat badan waktu lahir
*pada umur 1 tahun tercapai 3 x berat badan waktu lahir

-          Jika ASI cukup, setelah menyusui bayi akan tertidur/ tenang selama 3-4 jam.
-          Bayi kencing lebih sering, sekitar 8 kali sehari.
KOMPOSISI AIR SUSU IBU
            ASI adalah suatu emulsi lemak dalam larutan protein, laktose dan garam-garam organik yang disekresi oleh kedua belah kelenjar payudara ibu, sebagai makanan utama bagi bayi.
Komposisi ASI ini ternyata tidak konstan dan tidak sama dari waktu ke waktu.
Faktor-faktor yang mempengaruhi komposisi air susu ibu adalah :
-          Stadium laktasi
-          Ras
-          Keadaan nutrisi
-          Diit ibu
AIR SUSU IBUMENURUT STADIUM LAKTASI
§      Kolostrum
§      Air susu transisi / peralihan
§      Air susu matur (mature)
x         Kolostrum
-          Merupakan cairan yang pertama kali disekresi oleh kelenjar payudar, mengandung tissue debris dan residual material yang terdapat dalam alveoli dan duktus dari kelenjar payudar sebelum dan setelah masa puerperium.
-          Disekresi oleh kelenjar payudara dari hari pertama sampai hari ketiga atau keempat.
-          Komposisi dari kolostrum ini dari hari ke hari selalu berubah.
-          Merupakan cairan viscous kental dengan warna kekuning-kuningan, lebih kuning dibandingkan dengan susu yang matur.
-          Merupakan pencahar yang ideal untuk membersihkan mekoneum dari usus bayi yang baru lahir dan mempersiapkan saluran penvernaan makan bayi bagi makanan yang akan datang.
-          Lebih banyak mengandung protein dibandingkan dengan ASI yang matur, tetapi berlainan degan ASI yang matur pada kolostrum protein yan utama adalah globulin (gama globulin)
-          Lebih banyak mengandung antiboi dibandingkan dengan ASI yang matur, dapat memberikan perlindungan bagi bayi sampai umur 6 bulan.
-          Kadar karbohidrat dan lemak rendah jika dibantingkan dengan ASI matur.
-          Mineral, terutama natrium, kalium dan klorida lebih tinggi jika dibandingkan dengan susu matur.
-          Total energi lebih rendah jika dibandingkan dengan susu matur, hanya 58 Kal/100 ml kolostrum.
-          Vitamin yang larut dalam lemak lebih tinggi jika dibandingkan dengan ASI matur, sedangkan vitamin yang larut dlam air dapat lebih tinggi atau lebih rendah.
-          Bila dipanaskan akan menggumpal, sedangkan ASI matur tidak.
-          pH lebih alkalis banyak mengandung kolesterol dan lesitin dibandingkan dengan ASI matur.
-          Terdapat tripsin inhibitor, sehingga hidrolisis protein di dalam usus bayi menjadi kurang sempurna. Hal ini akan lebih banyak menambah kadar antibodi pada bayi.
-          Volume berkisar 150-300 ml/24 jam.

x         Air susu ibu masa peralihan
-          Merupakan ASI peralihan dari kolostrum sampai menjadi ASI yang matur.
-          Sekresi dari hari ke-4 sampai hari ke-10 dari asa laktasi, tetapi ada pula pendapat yang mengatakan bahwa ASI matur terjadi pada minggu ke-3 sampai minggu ke-5
-          Kadar protein makin merendah sedangkan kadar karbohidrat dan lemak makin meninggi.
-          Volume ASI akan meningkat
-          Komposisi ASI menurut penyelidikan dari Kleiner I.S. & Osten J.M

Waktu                   protein             karbohidrat                  lemak
Hari ke-5              2,00                 6,42                             3,2
Hari ke-9              1,73                 6,73                             3,7
Minggu ke-34       1,30                 7,11                             4,0
            Kadar di atas dalam satuan gram/100 ml ASI.
x         Air susu matur
-          Merupakan ASI yang disekresi pad hari ke-10 dan seterusnya, komposisi relatif konstan (ada pula yang mengatakan bahwa komposisi ASI relatif konstan baru mulai minggu ke-3 sampai minggu ke-5).
-          Pada ibu yang sehat dimana produksi ASI cukup, ASI ini merupakan makanan satu-satunya yang paling baik dan cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan.
-          Merupakan suatu cairan berwarna putih kekuning-kuningan yang diakibat warna dari garam Ca-caseinat, riboflavin dan karoten yang terdapat didalamnya.
-          Tidak menggumpal jika dipanaskan
-          Terdapat antimikrobial faktor antara lain :
a.       Antibodi terdapat bakteri dan virus
b.      Sel (fagosit granulosit, makrofag dan limfe tipe T)
c.       Enzim (lisozim, laktoperoksidase, lipase, katalase, fosfatase, amilase, fosfodiesterase, alkalinfosfatase)
d.      Protein (laktoferin, B12 binding protein)
e.       Resistence factor terdapat stafilokokus
f.       Komplemen
g.       Interferron producing cell
h.      Sifat biokimia yang khas, kapasitas bufer yang rendah dan adanya faktor bifidus.
i.        Hormon-hormon
Laktoprotein merupakan suatu iron binding protein  yang bersifat bakteriostatik kuat terhadap Escherichia coli dan juga menghambat pertumbuhan Candida  albicans.
Laktobasilus bifidus merupakan koloni kuman yang memetanolisir laktosa menjadi asam laktat yang menyebabkan rendahnya pH sehingga [ertumbuhan kuman patogen akan dihambat.
Imunoglobulin memberikan mekanisme pertahanan yang efektif terhadap bakteri dan virus (terutama IgA) dan bila bergabung dengan komplemen dan lisozim merupakan suatu antibakterial yang langsung terdapat E. Coli. Faktor lisozim dan komplemen ini adalah suatu antibakterial non spesifik yang mengatur pertumbuhan flora usus.
Faktor lekosit dan pH ASI mempunyai pengaruh mencegah pertumbuhan kuman patogen (efek bakteriostatis dicapai pada pH sekitar 7,20).
PENGARUH WAKTU PADA KOMPOSISI ASI
            ASI yang pertama kali diisap oleh bayi (menit pertama) dibandingkan ASI pada menit terakhir adalah berbeda. ASI pada menit pertama lebih cepat encer, kemudian akan lebih kental, ASI pada menit terakhir mengandung lemak 4-5 x dan protein 11/2 lebih banyak dibandingkan dengan ASI menit-menit pertama.
Bila bayi tersebut menyusu selama 15 menit, maka :
ü  5 menit pertama mendapatkan                       60% total volume ASI
60% total protein ASI
60% total karbohidrat ASI
40% total lemak ASI
50% total energi ASI

ü  5 menit kedua mendapatkan              25% total volume ASI
25% total protein ASI
25% total karbohidrat ASI
33% total lemak ASI
25% total energi ASI
ü  5 menit terakhir adalah sisanya
Dikatakan bahwa, volume ASI akan menurun sesuai dengan waktu.
ü  Tahun pertama          : 400-700 ml/24 jam
ü  Tahun kedua             : 200-400 ml/24 jam
ü  Sesudah itu                : ±200 ml/24 jam
Juga tidak ada perubahan yang bermakna pada konsentrasi protein dari ASI antara bulan ke-6 sampai tahun ke-2 dari masa laktasi meskipun konsentrasi lemak bervariasi luas. Kemungkinan kenaikan total lemak disebabkan menurunnya volume ASI.
Gambar 1.1. Dua sampel air susu ibu. Sampel sebelah kiri adalah Foremilk, air susu yang encer dan bening, susu ini berasal dari payudara yang berisi. Sampel sebelah kanan adalah Hindmilk, air susu yang kental dan putih, susu ini berasal dari payudara yang keriput.
PENGARUH INDIVIDU TERHADAP KOMPOSISI ASI
            Ibu yang cemas akan lebih sedikit mengeluarkan ASI dibandinkan dengan ibu yang tidak cemas. Juga ibu yang umurnya mudah lebih banyak memproduksi ASI dibandingkan dengan ibu-ibu yang sudah tua.
Pada kenaikan jumlah paritas ada sedikit perubahan produksi ASI walaupun tidak bermakna :
ü  Anak pertama                        : jumlah ASI + 580 ml/24 jam
ü  Anak kedua               : jumlah ASI + 654 ml/24 jam
ü  Anak ketiga               : jumlah ASI + 602 ml/24 jam
ü  Anak keempat                       : jumlah ASI + 600 ml/24 jam
ü  Anak kelima              : jumlah ASI + 506 ml/24 jam
ü  Anak keenam                        : jumlah ASI + 524 ml/24 jam

KANDUNGAN YANG TERDAPAT DIDALAM ASI
©       Protein di dalam ASI
ASI mengandung protein lebih rendah dari Air Susu Sapi (ASS), tetapi protein ASI ini mempunyai nilai nutrisi yang tinggi (lebih mudah dicerna).
            Keistimewaan dari protein pada ASI adalah :
-          Rasio protein “whey” : kasein = 60 : 40, dibandingkan dengan ASS yang rasionya 20 : 80. Hal ini menguntungkan bagi bayi karena pengendapan dari protein “whey” lebih halus daripada kasein sehingga protein “whey” lebih mudah dicerna.
-          ASI mengandung alfa –laktalbumin, sedangkan ASS mengandung juga beta-laktoglobulin dan bovine serum albumin yang sering menyebabkan alergi.
-          ASI mengandung asam amino esensiil taurin yang tinggi, yang penting untuk pertumbuhan retina dan konjugasi bilirubin.
-          Kadar methionin dalam ASI lebih rendah dari ASS, sedangkan sistin lebih tinggi. Hal ini sangat menguntungkan karena enzim sistationase yaitu enzim yang akan mengubah methionin menjadi sistin pada bayi sangat rendah atau tidak ada. Sistin ini merupakan asam amino yang sangat penting untuk pertumbuhan otak bayi.
-          Kadar tirosin dan fenilalanin pada ASI rendah, suatu hal yang sangat menguntungkan untuk abyi terutama prematur karena pada bayi prematur kadar tirosin yang tinggi dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan otak.
-          Kadar poliamin dan nukleotid yang sangat penting untuk sintesis protein pada ASI lebih tinggi jika dibandingkan dengan ASS.

©       Karbohidrat dalam ASI
-          ASI mengandung karbohidrat yag relatif lebih tinggi jika dibandingkan dengan ASS (6,5-7 gram%)
-          Karbohidrat yang utama yang terkandung dalam ASI adalah laktosa. Kadar laktosa yang tinggi ini sangat menguntungkan, karena laktosa ini oleh  fermentasi akan diubah menjadi asam laktat. Adanya asam laktat ini memberikan suasana asam di dalam usus bayi. Dengan suasana asam di dalam usus bayi ini memberikan beberapa keuntungan :
a.       Penghambatan pertumbuhan bakteri yang patologis
b.      Memacu pertumbuhan mikroorganisme yang memproduksi asam organik dan mensintesis vitamin.
c.       Memudahkan terjadinya pengendapan Ca-caseinat
d.      Memudahkan absorpsi dari mineral misalnya kalsium, fosfor, dan magnesium.
Laktosa ini juga relatif tidak larut sehingga sehingga waktu proses digesti didalam usus bayi lebih lama tetapi dapat diabsorpsi dengan baik oleh usus bayi. Selain laktosa yang merupakan 7% dari total ASI juga terdapat glukosa, galaktosa, dan glukosamin. Galaktosa ini penting untuk pertumbuhan otak dan medula spinalis, oleh karena pembentukan mielin di medulla spialis dan sintesis galaktosida di otak membutuhkan galaktosa. Glukosamin merupakan bifidus faktor, di samping laktosa, jadi ini memacu pertumbuhan Laktobasilus bifidus yang sangat menguntungkan bayi.
©       Lemak dalam ASI
Kadar lemak dalam ASI dan ASS relatif sama, merupakan sumber kalori yang utama bagi bayi, dan sumber vitamin yang larut dalam lemak (A, D, E, dan K) dan asam lemak yang esensiil.
Keistimewaan lemak dalam ASI jika dibandingkan dengan ASS adalah :
a.       Bentuk imulsi lebih sempurna. Hal ini disebabkan karena ASI  mengandung enzim lipase yang memecah trigliserida menjadi digliserida dan kemudian menjadi monogliserida sebelum pencernaan di usus terjadi.
b.      Kadar asam lemak tak jenuh dalam ASI 7-8 x dalam ASS. Asam lemak tak jenuh yang terdapat dalam kadar yang tinggi yang terpenting adalah ;
ü  Rasio asam linoleik : oleik yang cukup akan memacu absorpsi lemak dan kalsium, dan adnya garam kalsium dari asam lemak ini akan memacu perkembangan otak abyi dan mencegah terjadinya hipokalsemia.
ü  Asam lemak rantai panjang (arachidonic dan docadexaenoic) yang berperan dalam perkembangan otak.
ü  Kolesterol yang diperlukan untuk mielinisasi susunan saraf pusat dan diperkirakan juga berfungsi dalam pembentukan enzim untuk metabolisme kolesterol yang akan mengendalikan kadar kolesterol dikemudian hari (mencegah arteriosklerosis pada usia muda).
ü  Asam palmitat terdapat dalam bentuk yang berlainan dengan asan palmitat dari ASS. Asam palmitat yang akan mengendap dalam usus dan terbuang bersama feses.

©       Mineral dalam ASI
-          ASI mengandung mineral yang lengkap. Walaupun kadarnya relatif rendah tetapi cukup untuk bayi sampai umur 6 bulan.
-          Total mineral selama masa laktasi adalah konstan, tetapi beberapa mineral yang spesifik kadarnya tergantung dari diit dan stadium laktasi.
-          Fe dan Ca paling stabil, tidak dipengaruhi oleh diit ibu.
-          Garam organik yang terdapat dalam ASI terutam adalah kalsium, kalium, dan natrium dari asamklorida dan fosfat. Yang terbanyak adalah kalium, sedangkan kadar Cu, Fe, dan Mn yang merupakan bahan untuk pembentuk tulang kadarnya dalam ASI cukup.

©       Air dalam ASI
Kira-kira 88% dari ASI terdiri dari air. Air ini berguna untuk melarutkan zat-zat yang terdapat didalamnya.
ASI merupakan sumber air yang secara metabolik adalah aman. Air yang relatif tinggi dalam ASI ini akan meredakan rangsangan haus dari bayi.
©       Vitamin dalam ASI
-          Vitamin dalam ASI dapat dikatakan lengkap
-          Vitamin A, D, dan C cukup, sedangkan golongan vitamin B, kecuali riboflavin dan asam pantothenik adalah kurang
©       Kalori dalam ASI
Kalori ASI relatif rendah, hanya 77 kalori/100 ml ASI. 90% berasal dari karebohidrat dan lemak, sedangkan 10% berasal dari protein.
©       Unsur-unsur lain dalam ASI
Laktokrom, kreatin, kreatinin, urea, xanthin, amonia, dan asam sitrat. Substansi tertentu di dalam plasma darah ibu, dapat juga berada dalam ASI, misalnya minyak volatil dari makanan tertentu (bawang merah),  juga obat-obatan tertentu seperti sulfonamid, salisilat, morfin, dan alkohol, juga elemen-elemen anorganik misalnya As, Bi, Fe, I, Hg, dan Pb.
TABEL KOMPOSISI YANG TERKANDUNG DALAM ASI
Tabel 1.1. komponen anti-infeksi dan anti-imflamasi pada ASI
No
Komponen
Fungsi
1.









2.











3.
Komponen anti-infeksi
-          SigA


-          Sel lekosit
-          Sel T
-          Sel B
-          Makrofag
-          Neutrofil

Anti –infeksi yang non-imunologik
-          Laktoferin


-          Lisozim


-          Lipase


-          Alfa2-glikoprotein

Zat anti-inflamasi
-          Katalase, glutathione peroksidase
-          Alfa”tokoferol, sistin, itamin C
-          Histaminase
-          Aril sulfatase
-          Alfa-1-anti tripsin dan alfa-1-antichymotripsin
-          Prostaglandin (E2, F2)

-          Oligosakarida
-          Lemak ASI
-          Antioksidan:
-          Alfa-tokoferol
-          Sistin
-          Vitamin C

-          Mencegah perlekatan kuman
-          Mengurangi penetrasi antigen
-          Menghambat kemotaksis neutrofill

-          Transfer kekebalan tipe lambat
-          Perannya tidak jelas
-          Fagositosis, memebunuh kuman
-          Respon rendah terhadap chemoathrocans
-          Menghambat komplemen

-          Menghambat pertumbuhan bakteri denagn mengikat zat besi (Fe+3)
-          Menghambat : kemotaksis, aktifitas inflamatogenik dan neutrofill an produksi oksigen radikal yang toksik.
-          Produksi asam lemak bebas dan monogliserida yang merusak amplop virus dan lisis protozoa
-          Menghambat limfosit
-          Antibodi-dependen selular sitotoksitas
-          Produksi imunoglobulin
-          Blastogenesis

-          Degradasi hidrogen peroksida
-          Menghambat oksigen radikal
-          Degradasi histamin
-          Degradasi lekotrin
-          Netralisasi enzim yang bekerja dalam proses inflamasi
-          Melindungi sel, menghambat degranulasi neutrofil
-          Menghambat perlekatan mikroba
-          Menghambat produksi superoksida neutrofil, menetralkan virus.
-          Menetralkan superoksida dari neutrofil

Tabel 1.2. faktor-faktor anti-bakterial yang ditemukan dalam ASI
Faktor
Terlihat Secara In Vitro, Aktif Melawan
Pengaruh terhadap panas
IgA sekretori







IgM, IgG

IgD
Faktor pertumbuhan bifidobakterium bifidum
Faktor pengikat    protein-protein (seng, vitamin B12, asam folat).
Komplemen C1-C9 (terutama C3 dan C4)
Laktoferin
Laktoperoksida

Lisozim


Faktor-faktor yang belum dikenal.
Hidrat arang

Lemak
Gangliosid
       (seperti GMI)
Glikoproteins V.kolera seperti reseptor + oligosakarida.
Analog dengan reseptor-reseptor sel epitel (oligosakarida).
Sel-sel ASI (makrofag, neutrofil, B & T, limfosit).



E.coli (juga pili dan antigen-antigen kapsuler) C.tetani, E.dipteria, K. pneumonia, Salmonela (6 grup), Shigela(2 grup), streptococus, S.mutans, S.sangius, S.mitis, E.salivarius, S.pneumonia, E.burneti, H.influenza, E.coli enteroktoksin, V.kolera enterotoksin, C.difisil toksin, H.influenza kapsul.
 V. kolera lipopolisakarida , E.coli

E.coli
Enterobacteriacea, patogen-patogen usus


Dependent E.coli



Efek belum diketahui

E.coli
Streptokokus, pseudomonas, E.coli, S.tiphimurium.
E.coli, salmonela, mikrokokus lisodeiktikus

S.aureus, C.difisis toksin B.

E.coli enterotoksin

S.aureus
E.coli enterotoksin, V.kolera enterotoksin.

-


S.pneumonia, H.influenza


Dengan fagositosis dan mematikan E.coli, S. aureus, S. enteridisis. Dengan limfosit yang sensitif, E.coli. dengan fagositosis : C.albicans, E.coli, stimulasi limfosit : E coli, K.antigen, tuberkulin PPD. Produksi faktor monosit kemotaktik : PPD
Stabil pada 560 C selama 30 menit, beberapa hilang (0-30%) pada 62,50 selama 30 menit, bila dididihkan maka akan rusak.




IgM rusak dan IgM berkurang 1/3nya pada 62,50 selam 30 menit.
Stabil bila dididihkan.
Rusak denagn pendidihan.


Rusak dengan pemanasan pada 560 selama 30 menit


2/3 rusak pada 62,5 0 C selama 30 menit.
Rusak bila dididihkan.
Beberapa hilang (0-23%).

Pada 62,50 C selam 30 menit, rusak benar bila dididihkan selama 15 menit.
Stabil pada penggunaan autoklaf, stabil pada 560 C selama 30 menit.
Stabil pada 850 C selama 30 menit.
Stabil bila dididihkan.
Stabil bila dididihkan.

Stabil bila dididhkan selama 15 menit.

Stabil bila dididihkan


Rusak pada 62,50 C selama 30 menit.


Tabel 1.3 faktor-faktor antivirus yang ditemukan dalam ASI
Faktor
Terlihat In Vitro Aktif Melawan
Pengaruh Terhadap Panas
IgA sekretori.






IgM, IgG


Lemak (as.as lemak tak jenuh dan monogliserida).

Makromolekul dan non-imunoglobulin.


Alfa makro-globulin 2.


Ribonuklease.

Inhibitornae magglutinin.

Sel-sel ASI
Virus Polio tipe 1, 2, 3 Coxsackie tipe A9, B3, B5 echovirus tipe 6, 9 virus semliki forest, virus Ross River, rotavirus, sitomegalovirus, reovirus tipe 3, virus rubela, virus herpes simplek, virus mumps, virus influenza, respiratory syncytial virus (RSV).
Virus rubela, virus sitomegalo, RSV.


Virus herpes simplex, virus semliki forest, influenza, virus dengue, virus Ross River, virus Japanese B, esefalitis, virus Sindbis, virus West Nile.
Virus herpes simpleks, virus vesikular stomatitis, virus Coxsackie B4, virus Semliki Forest, reovirus 3, polio tipe 2, virus sitomegalo, RSV, rotavirus.
Virus influenza haemagglutinin, virus parainfluenza haemagglutinin.

Virus urine leukemia.

Influenza dan mumps (parotitis) usus.

Interferon yang terinduksi : virus atau PHA.
Limfokin yang tereduksi (LDCF): phitohaemaglutinin (PHA).
Sitikine yang terinduksi oleh virus herpes simpleks.
Stimulasi limfosit, virus sitomegalo, rubela, herpes, campak, mumps, RSV.
Stabil pada 560 C selama 30 menit, beberapa hilang (0-30%) pada 62,50C selama 30 menit, rusak bila dididihkan.



IgM rusak dan IgG berkurang 1/3  pada 62,50 C selama 30 menit.

Stabil bila dididihkan selama 30 menit.


Hampir stabil pada 560 C selama 30 menit dan rusa bila dididihkan.


Stabil bila dididihkan selama 15 menit.

Stabil pada 62,50 C selama 30 menit.
Rusak bila dididihkan

Rusak pada 62,50 C selama 30 menit.





Tabel 1.4 faktor-faktor antiparasit yang ditemukan didalam ASI
Faktor
Terlihat In Vitro Aktif Melawan
Pengaruh Pemanasan
IgA sekretori




Lemak (bebas)


Belum dikenal
G.lamblia,
E.histolitika,
S.mansoni,
Cripstosporidium

G.lamblia
E.histolitika
Tvaginalis
T.rhodosiense
Stabil selama 30 menit pada suhu 560 C, beberapa hilang (0-30%) pada suhu 62,50 C selama 30 menit, rusak bila dididihkan.

Stabil bila dididihkan.



Tabel 1.5 elemen seluler pada kolostrum dan ASI
No

1.


2.
3.


4.



5.
Sel makrofag-fatgositik
-          Besar, diameter 20-40 mm
-          Kecil, diameter 8-18 mm
Lekosit polimorfonuklear
Sel epitel
-          Lumenal
-          Mioepitelial
Limfosit
-          Sel T
-          Sel B
-          Limfosit lainnya
Lain sel
-          Bakteri
Makromolekul

Tabel 1.6 hormon dan faktor pertumbuhan pada ASI
No
Hormon
Growth Factor
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.
11.
12.
13.
14.
15.
Steroid adrenal
Kalsitonin
Eritropoitin
GRH
GnRH
Insulin
Neurotensin
Oksitosin
Steroid Ovarium
Prolaktin
Relaksin
Somatoststin
Triiodotironin, Tiroksin
TRH
TSH
1.        Epidermal growth factor (EGF)
2.        Human milk grwoth factor I, II, III
3.        Mammary derived growth factor I
4.        Nerve growth factor (NGF)
5.        Transforming growth factor
6.        Colony stimulating factor
7.        Bifidum growth factor



Tabel 1.7 Enzim pada ASI dan fungsinya pada masa neonatus
No
Emzim
Fungsi
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

8.

9.
10.
11.
Amilase
Lipase
Protease
Santhin oksidase
Glutathione peroksidase
Alkaline phosphatase
Antiprotease

Sulfhidriloksidase

Lisozim
Peroksidase
Lipase  
-          Mencerna polisakarida
-          Mencerna lemak
-          Proteolisis
-          Karier zat besi, molidenum
-          Karier seenium (aktifitas anti oksidan)
-          Karier zinc dan magnesium
-          Proteksi bioaktif komponen enzim. Imunoglobulin dan hormon pertumbuhan.
-          Mempertahankan struktur dan fungsi protein ASI dan GI mukus
-          Bakterisidal
-          Bakterisidal
-          Anti infeksi

KEUNTUNGAN MEMBERIKAN ASI
Beberapa keuntungan yang dapat diperoleh bila memberikan Air Susu Ibu, yang dapat disarika ebagai berikut :
©       ASI mengandung antibodi yang dapat melindungi bayi dari serangan penyakit infeksi
©       ASI n=merupakan makanan bayi yang komplit dan sempurna, mampu mencukupi kebutuhan bayi sampai umur 4-6 bulan.
©       ASI lebih murah daripada susu formula. Makanan tambahan yang diperlukan oleh si ibu biayanya lebih kecil dibandingka dengan biaya bila menggunakan susu formula
©       Ibu yang memberikan susunya biasanya mempunyai periode tidak subur lebih panjang dibandingkan dengan ibu yang tidak menyusui bayinya.
©       Bayi yang disusui beresiko lebih rendah menderita diare, kolik, alergi, dan eksim dibandigkan dengan bayi yang diberikan susu botol.
©       Menyusui bayi segera setelah melahirkan mempengaruhi kontrasi uterus dan membantu memulihkan kondisi ibu lebih cepat.
MANFAAT ASI
B.  Manfaat ASI Untuk Bayi
1.      Pemberian ASI merupakan metode pemberian makan bayi yang terbaik, terutama pada bayi umur kurang dari 6 bulan, selain juga bermanfaat bagi ibu. ASI mengandung semua zat gizi dan cairan yang dibutuhkan untuk memenuhi seluruh gizi bayi pada 6 bulan pertama kehidupannya.
2.      Pada umur 6 sampai 12 bulan, ASI masih merupakan makanan utama bayi, karena mengandung lebih dari 60% kebutuhan bayi. Guna memenuhi semua kebutuhan bayi, perlu ditambah dengan Makanan Pendamping ASI (MP-ASI).
3.      Setelah umur 1 tahun, meskipun ASI hanya bisa memenuhi 30% dari kebutuhan bayi, akan tetapi pemberian ASI tetap dianjurkan karena masih memberikan manfaat.
4.      ASI disesuaikan secara unik bagi bayi manusia, seperti halnya susu sapi adalah yang terbaik untuk sapi .
5.      Komposisi ASI ideal untuk bayi
6.      Dokter sepakat bahwa ASI mengurangi resiko infeksi lambung-usus, sembelit, dan alergi.
7.      Bayi ASI memiliki kekebalan lebih tinggi terhadap penyakit. Contohnya, ketika si ibu tertular penyakit (misalnya melalui makanan seperti gastroentretis atau polio), antibodi sang ibu terhadap penyakit tersebut diteruskan kepada bayi melalui ASI
8.      Bayi ASI lebih bisa menghadapi efek kuning (jaundice). Level bilirubin dalam darah bayi banyak berkurang seiring dengan diberikannya kolostrum dan mengatasi kekuningan, asalkan bayi tersebut disusui sesering mungkin dan tanpa pengganti ASI.
9.      ASI selalu siap sedia setiap saat bayi menginginkannya, selalu dalam keadaan steril dan suhu susu yang pas
10.  Dengan adanya kontak mata dan badan, pemberian ASI juga memberikan kedekatan antara ibu dan anak. Bayi merasa aman, nyaman dan terlindungi, dan ini mempengaruhi kemapanan emosi si anak di masa depan.
11.  Apabila bayi sakit, ASI adalah makanan yang terbaik untuk diberikan karena sangat mudah dicerna. Bayi akan lebih cepat sembuh.
12.  Bayi prematur lebih cepat tumbuh apabila mereka diberikan ASI perah. Komposisi ASI akan teradaptasi sesuai dengan kebutuhan bayi, dan ASI bermanfaat untuk menaikkan berat badan dan menumbuhkan sel otak pada bayi prematur.
13.  Beberapa penyakit lebih jarang muncul pada bayi ASI, di antaranya: kolik, SIDS (kematian mendadak pada bayi), eksim, Chron’s disease, dan Ulcerative Colitis.
14.  IQ pada bayi ASI lebih tinggi 7-9 point daripada IQ bayi non-ASI. Menurut penelitian pada tahun 1997, kepandaian anak yang minum ASI pada usia 9 1/2 tahun mencapai 12,9 poin lebih tinggi daripada anak-anak yang minum susu formula.
15.  Menyusui bukanlah sekadar memberi makan, tapi juga mendidik anak. Sambil menyusui, eluslah si bayi dan dekaplah dengan hangat. Tindakan ini sudah dapat menimbulkan rasa aman pada bayi, sehingga kelak ia akan memiliki tingkat emosi dan spiritual yang tinggi. Ini menjadi dasar bagi pertumbuhan manusia menuju sumber daya manusia yang baik dan lebih mudah untuk menyayangi orang lain. 

C.    Manfaat ASI Untuk Ibu Menyusui 
1.      Hisapan bayi membantu rahim menciut, mempercepat kondisi ibu untuk kembali ke masa pra-kehamilan dan mengurangi risiko perdarahan .
2.      Lemak di sekitar panggul dan paha yang ditimbun pada masa kehamilan pindah ke dalam ASI, sehingga ibu lebih cepat langsing kembali
3.      Penelitian menunjukkan bahwa ibu yang menyusui memiliki resiko lebih rendah terhadap kanker rahim dan kanker payudara.
4.      ASI lebih hemat waktu karena tidak usah menyiapkan dan mensterilkan botol susu, dot.
5.      ASI lebih praktis karena ibu bisa jalan-jalan ke luar rumah tanpa harus membawa banyak perlengkapan seperti botol, kaleng susu formula, air panas.
6.      ASI lebih murah, karena tidak usah selalu membeli susu kaleng dan perlengkapannya .
7.      ASI selalu bebas kuman, sementara campuran susu formula belum tentu steril
8.      Penelitian medis juga menunjukkan bahwa wanita yang menyusui bayinya mendapat manfaat fisik dan manfaat emosional
9.      ASI tak bakalan basi. ASI selalu diproduksi oleh pabriknya di wilayah payudara. Bila gudang ASI telah kosong. ASI yang tidak dikeluarkan akan diserap kembali oleh tubuh ibu. Jadi, ASI dalam payudara tak pernah basi dan ibu tak perlu memerah dan membuang ASI-nya sebelum menyusui.

D.       Manfaat ASI Untuk Keluarga
1.      Tidak perlu uang untuk membeli susu formula, botol susu kayu bakar atau minyak untuk merebus air, susu atau peralatan.
2.      Bayi sehat berarti keluarga mengeluarkan biaya lebih sedikit (hemat) dalam perawatan kesehatan dan berkurangnya kekhawatiran bayi akan sakit.
3.      Penjarangan kelahiran karena efek kontrasepsi LAM dari ASI eksklusif.
4.      Menghemat waktu keluarga bila bayi lebih sehat.
5.      Memberikan ASI pada bayi (meneteki) berarti hemat tenaga bagi keluarga sebab ASI selalu siap tersedia.
6.      Lebih praktis saat akan bepergian, tidak perlu membawa botol, susu, air panas, dll.

E.        Manfaat ASI Untuk Masyarakat dan Negara
1.      Menghemat devisa negara karena tidak perlu mengimpor susu formula dan peralatan lain untuk persiapannya.
2.      Bayi sehat membuat negara lebih sehat.
3.      Terjadi penghematan pada sektor kesehatan karena jumlah bayi sakit lebih sedikit.
4.      Memperbaiki kelangsungan hidup anak dengan menurunkan kematian.
5.      Melindungi lingkungan karena tak ada pohon yang digunakan sebagai kayu bakar untuk merebus air, susu dan peralatannya.
6.      ASI adalah sumber daya yang terus menerus diproduksi dan baru.






REFERENSI


Dr. Soetjiningsih. 1997. Asi Petunjuk Untuk Tenaga Kesehatan. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Suharjo. 1992. Pemberian Makanan Pada Bayi Dana Anak. Kanisius : Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate