Nama : Nyimas Noviannisa
Nim : M10.02.0034
Kelas : A/Keb/II
Prodi : D-III Kebidanan
Mata
Kuliah : GINEKOLOGI
Dosen MK : Sujiyatini, M.Keb
A. DEFINISI FLUOR ALBUS
Keputihan atau Fluor albus atau leukorrhea merupakan sekresi vaginal abnormal berupa cairan yang berlebihan
pada wanita. Cairan tersebut tidak termasuk darah. Keputihan yang disebabkan
oleh infeksi biasanya disertai dengan rasa gatal di dalam vagina dan di sekitar
bibir vagina bagian luar, rasa terbakar di bibir vagina, kerap disertai bau
busuk, dan menimbulkan rasa nyeri sewaktu bersenggama. Infeksi ini dapat menjalar dan
menimbulkan peradangan ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si
penderita buang air
kecil.
Warna cairan keputihan
bervariasi, dari putih, kekuningan, abu-abu, dengan konsistensi cair hingga
kental atau bahkan berbentuk seperti kepala susu. Bau dari keputihan pun
beragam, dapat tanpa bau, berbau telur busuk, bahkan anyir seperti ikan mentah.
Keputihan dapat
menyerang wanita mulai dari kanak-kanak hingga menopause. Hal ini karena
keputihan terbagi menjadi dua, fisiologik dan patologik. Menurut para pakar sex
(pakar seksologi), perbedaan fisiologik dan patologik adalah, pada fisiologik
cairan kadang-kadang berupa mukus yang mengandung banyak epitel dengan leukosit
yang jarang. Sedangkan pada patologik, terdapat lebih banyak leukosit.
Keputihan karena
fisiologik dapat ditemukan pada bayi yang baru lahir hingga berumur kira-kira
sepuluh hari, waktu menarche, wanita dewasa apabila ia dirangsang sebelum dan
pada waktu koitus (Coitus), waktu ovulasi, pada wanita berpenyakit menahun
dengan neurosis, wanita hamil, dan wanita dengan ektropion porsionis uteri.
Sementara keputihan
patologik utamanya disebabkan infeksi (jamur, kuman, parasit, virus). Namun
dapat pula akibat adanya benda asing dalam liang senggama (vagina), gangguan
hormonal akibat mati haid, kelainan bawaan dari alat kelamin wanita, adanya
kanker atau keganasan pada alat kelamin terutama di leher rahim (servik).
Terdapat banyak pendapat mengenai Fluor albus (keputihan)
ini adalah merupakan suatu penyakit atau bukan. Dalam beberapa buku dituliskan
bahwa Fluor albus (keputihan) ini bukanlah suatu penyakit melainkan
gejala dan merupakan gejala yang paling sering kita jumpai dalam ginekologi.
Sebenarnya, fluor albus adalah keluarnya cairan yang berlebihan dan bukan merupakan darah dari alat kemaluan wanita (vagina).secara normal seseorang wanita selalu
mengeluarkan cairan dari alat kemaluannya yang berasal dari :
ü Transudat dinding vagina
ü Lendir cervix
ü Lendir kelenjar-kelenjar Bartholini dan Skene
Sedangkan keputihan saat hamil merupakan peningkatan
produksi lendir atau cairan yang keluar dari dalam vagina di kelenjar
endoservical tanpa adanya sebab fatologis, terkadang cairan ini berbau kurang
sedap dan mengganggu kenyamanan ibu. Namun lebih sering tidak menimbulkan
keluhan. Menurut Prof. Dr. Ida
Bagus Gde Manuaba dalam bukunya “Ilmu
Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan.” Dituliskan
bahwa : “ Keputihan adalah semua pengeluaran cairan alat genetalia, yang bukan
darah. Keputihan bukan penyakit tersendiri, namun merupakan manifestasi hampir
dari semua penyakit kandungan .” [ hal. 385 ]
Oleh karena
itu, penyebab utama keputihan harus dicari dengan melakukan anamnese
(wawancara), pemeriksaan kandungan, dan pemeriksaan laboratorium.
Asal Fluor albus (Keputihan) :
1.
Vulva
Sekret dalam vulva dihasilkan
oleh kelenjar - kelenjar Bartholini dan skene. Sekret ini bertambah pada
perangsangan, misalnya sewaktu coitus. Kelenjar - kelenjar tersebut di atas
meradang misalnya karena infeksi dengan gonococcus, maka sekret berubah menjadi
fluor.
2.
Vagina
Vagina tidak mempunyai
kelenjar dan dibasahi oleh cairan transudat dan oleh lendir dari cervix. PH
dalam vagina ± 5 (lima) disebabkan kegiatan basil Diderlein yang mengubah
glycogen yang terdapat dalam epitel vagina menjadi acidum lacticum. Dalam kehamilan
cairan vagina bertambah secara fisiologis.
3.
Cervix
Sekret cervix yang
normal bersifat jernih, licin dan alkalis. Sekret ini dipengaruhi hormon -
hormon ovarium baik kwantitas maupun kwalitasnya. Sekret bertambah juga pada infeksi
(cervicitis) yang dipermudah kejadiannya oleh robekan cervix dan tumor cervix.
4.
Corpus
uteri
Corpus uteri Hanya
menghasilkan sekret pada fase post ovulatoar. Sekret bertambah pada endemotritis
akut, kalau ada sisa placenta, polyp, myoma, submucosa dan carcinoma.
5.
Tuba
Walaupun jarang
mengeluarkan flour albus, kadang - kadang terjadi pada hydrosalpinx profluens.
B. ETIOLOGI FLUOR ALBUS
Sepanjang hidupnya, seorang wanita diperkirakan pernah
mengalami Fluor albus (keputihan) minimal satu kali. Fluor albus
banyak dialami oleh wanita usia reproduktif.
E. Tjitra,dkk dari Pusat Penelitian Penyakit
Menular, Departemen Kesehatan RI menemukan, Etiologi terbanyak dari 168 pasien
fluor albus yang datang berobat ke Puskesmas Cempaka Putih Barat I, Jakarta
tahun 1988/1989 adalah :
ü Candidiosis sebesar 52,8%
ü Trichomoniasis 3,7%
ü Infeksi campuran Trichomoniasis dan Candidiosis 4,3%
ü Gonorrhoe 1,2%, dan
ü Bakterial Vaginosis 38%.
Penelitian itu juga melaporkan bahwa dari 18 ibu hamil
dan 25 ibu tidak hamil dan tidak ber-KB yang mengalami fluor albus, sebagian
besarnya terinfeksi Candidiosis yaitu 66,7% dan 48%. Sementara itu, pada 77
akseptor KB AKDR dan 30 akseptor KB hormonal yang mengalami fluor albus,
sebagian besar juga terinfeksi Candidiosis yakni 54,6% dan 53,3%. Melihat
hasil survei tersebut, tak mengherankan kasus candidiosis sering ditemukan di
poli klinik kesehatan ibu dan anak atau poli klinik kebidanan.
Penyebab
utama fluor albus abnormal adalah infeksi daerah genital. Bisa infeksi di daerah vulva, vagina, mulut rahim, selaput
lendir rahim, dan saluran telur. Infeksi ini bisa berwujud jamur, kuman,virus, parasit atau hewan bersel satu. Penyebab lainnya adalah kondisi tubuh yang menurun atau
kelelahan, perubahan hormon tubuh, dan masuknya benda asing. Infeksi ini dapat menjalar dan menimbulkan peradangan
ke saluran kencing, sehingga menimbulkan rasa pedih saat si penderita buang air
kecil.
Penyebab keputihan secara umum yang berhubungan
dengan aktifitas atau kebiasaan sehari-hari adalah :
Ø Sering memakai tissue saat membasuh bagian kewanitaan, sehabis
buang air kecil maupun buang air besar
Ø Memakai pakaian dalam yang ketat dari bahan sintetis
Ø Sering menggunakan WC Umum yg kotor
Ø Tidak mengganti panty liner
Ø Membilas vagina dari arah yang salah. Yaitu dari ke arah anus ke
arah depan vagina
Ø Sering bertukar celana dalam/handuk dgn orang lain
Ø Kurang menjaga kebersihan vagina
Ø Kelelahan yang berlebihan
Ø Stress
Ø Tidak segera mengganti pembalut saat menstruasi
Ø Memakai sembarang sabun untuk membasuh vagina
Ø Tidak mejalani pola hidup sehat (makan tidak teratur, tidak pernah
olah raga, ridur kurang)
Ø Tinggal di daerah tropis yang lembab
Ø Lingkungan sanitasi yang kotor.
Ø Sering mandi berendam dengan air hangat dan panas. Jamur yang
menyebabkan keputihan lebih mungkin tumbuh di kondisi hangat.
Ø Sering berganti pasangan dalam berhubungan sex
Ø Kadar gula darah tinggi
Ø Hormon yang tidak seimbang
Ø Sering menggaruk vagina
Sedangkan sebab – sebab Fluor albus (keputihan) menurut
medis adalah :
Ø Bertambahnya sekret yang normal, sifat jernih.
Ø Konstitusionil : Pada
keadaan astheni, anaemia, nephritis kronis dan pada bendungan umum.(decompensatio
cordis, cirrhosis hepatis).
Ø Kelainan endokrin. Seperti pada fuctional bleending
(kadar oestrogen tinggi), pada kehamilan (kerena hydraemia dan pengaruh
endoktrin).
Ø Infeksi yang biasanya menimbulkan fluor yang berwarna
kuning atau hijau.
Infeksi :
o Vulvitis – vulvovaginitis
Disebabakan oleh :
-
Kuman-kuman : streptococcus,
staphylococcus, haemophilus vaginalis, bacil tbc, bacil coli.
-
Protozoa : trichomonas
vaginalis
-
Fungus : monilia
-
Cacing : oxyuris (pada anak)
o Vaginitis (Klopitis)
Vagina pada wanita dewasa agak resistant
terhadap infeksi yang ditimbulkan oleh :
-
Bacil Döderlein
-
Micrococcus catarrhalis
-
Bacil coli
Kemungkinan infeksi lebih besar pada anak dan wanita
dalam menopause (vaginitis senilis).
3
Jenis Vaginitis :
a) Trichomunaisis. Disebabkan oleh parasit Trichomonaisis vaginalis
yang menimbulkan cairan berbau, banyak, berwarna kuning kehijauan dan kadang
berbusa, sangat gatal dan terasa perih, Bisa menular melalui hubungan seks.
b)
Vaginosis. Disebabkan
oleh bakteri Garnerella vaginalis. Cairan yang keluar sedikit berwarna
abu-abu, dan bau tak sedap.
c)
Infeksi jamur / Candidiosis
vulvovaginal. Disebabkan oleh Candida albicans (salah satu enis jamur
yang normal ditemukan di daerah vagina) jika terjadi perubahan kondisi
ekosistem pada organ vagina. Jamur ini akan membiak melampaui batas normal.
Gejalanya : terdapat cairan kental dalam vagina. berwarna putih dan berbau tak
sedap, timbul rasa gatal, nyeri dan panas saat buang air kecil atau berhubungan
intim. Candida albicans adalah jamur pelahap glukosa/gula, jika terjadi
ketidakseimbangan hormonal dalam tubuh yg memicu naiknya gula darah Candida
albicans akan membiak pesat, maka terjadilah infeksi jamur / Candidiosis.
Candidiosis vulvovaginal (KVV) tidak digolongkan dalam infeksi menular
seksual karena jamur Candida albicans merupakan organisme komensal pada
traktus genitalia dan intestinal wanita. Selain itu, pada kenyataannya KVV
juga ditemukan pada wanita yang hidup selibat (biarawati). Akan tetapi,
kejadian KVV dapat dikaitkan dengan aktivitas seksual. Frekuensi KVV meningkat
sejak wanita yang bersangkutan mulai melakukan aktivitas seksual.
o Cervicitis
Disebabkan oleh
-
Gonococcus
-
Staphylococcus
-
Streptococcus
o Endometritis
Biasanya terjadi apabila
terdapat sisa placenta atau neoplasmaa
o Salpingitis
Disebabkan oleh :
-
Gonococ
-
Streptococ
-
Staphylococ
-
Bac tbc.
Ø Sebab - sebab lain seperti :
o Corpus allienum :
-
pessarium,
-
rambut
kemaluan
-
rambut
wol,
-
kain
atau kapas
o Alat - alat atau obat - obat kontrasepsi (KB)
o Fistula (fistula vasicovasginalis, fistula
rectovaginalis)
Ada beberapa jenis penyakit yang ditandai dengan adanya
keputihan berdasarkan bakteri, parasit, jamur, virus penyebabnya :
1)
Gonococcus, atau lebih dikenal
dengan nama GO. Ditandai dengan warna
putih kekuningan,atau kuning kehijauan yang sebetulnya merupakan nanah yang
terdiri dari sel darah putih yang mengandung kuman Neisseria gonorrhoea.
Kuman ini mudah mati setelah terkena sabun, alkohol, deterjen, dan sinar
matahari. Cara penularannya melalui senggama.

Gambar 1.1 Gonococcus
2)
Trichomonas vaginalis, Parasit Trichomonas
Vaginalis. Biasanya menghasilkan banyak cairan, berupa cairan encer berwarna
kuning kelabu. ditandai dengan cairan putih yang disertai dengan buih.

Gambar 1.2 Trichomonas
vaginalis
3) Candida
albican, ditandai dengan cairan kental, berwarna putih susu
(sering berbentuk kepala susu) yang disertai dengan gumpalan seperti gel dan
menyebabkan rasa gatal. Vagina menjadi kemerahan akibat radang.
Predisposisinya adalah kehamilan, Diabetes melitus, akseptor pil KB.

Gambar 1.3 Candida albican
4) Chlamydia trachomatis, kuman ini sering menyebabkan penyakit mata trakhoma. Ditemukan di cairan
vagina dengan pewarnaan Diemsa.

Gambar 1.4 Chlamydia
trachomatis
5) Gardnerella, menyebabkan peradangan vagina tak spesifik. Biasanya mengisi penuh
sel-sel epitel vagina berbentuk khas clue cell. Menghasilkan asam amino yang
akan diubah menjadi senyawa amin bau amis, berwarna keabu-abuan.

Gambar 1.5 Gardnerella
6) Treponema pallidium, adalah penyebab penyakit kelamin sifilis. Penyakit ini dapat terlihat
sebagai kutil-kutil kecil di liang senggama dan bibir kemaluan.

Gambar.1.6 Treponema pallidium
Parasit penyebab
keputihan terbanyak adalah Trichomonas vaginalis. Cairannya banyak,
berbuih seperti air sabun, berbau, gatal, vulva kemerahan, nyeri bila ditekan
atau perih saat buang air kecil. Sementara keputihan akibat virus disebabkan
oleh Human Papiloma Virus (HPV) dan Herpes simpleks.
C. GEJALA FLUOR ALBUS
Gejala Fluor albus (Keputihan) sebagai brikut ;
1. Keluarnya cairan berwarna putih kekuningan atau
putih kelabu dari saluran vagina. Cairan ini dapat encer atau kental, dan
kadang-kadang berbusa. Kemungkinan, gejala ini merupakan proses normal sebelum atau
sesudah haid pada wanita tertentu.
2. Pada penderita tertentu, terdapat rasa gatal yang
menyertainya. Biasanya Keputihan yang normal tidak disertai dengan rasa gatal.
Keputihan juga dapat dialami oleh wanita yang terlalu lelah atau yang daya
tahan tubuhnya lemah,dengan kata lain dipengaruhi oleh daya imun dalam tubuh
seseorang. Sebagian besar cairan tersebut berasal dari leher rahim, walaupun
ada yang berasal dari vagina yang terinfeksi, atau alat kelamin luar.
3. Pada bayi perempuan yang baru lahir, dalam waktu
satu hingga sepuluh hari, dari vaginanya dapat keluar cairan akibat pengaruh
hormon yang dihasilkan oleh plasenta atau uri.
4. Gadis muda terkadang juga mengalami Fluor albus
(keputihan) sesaat sebelum masa pubertas, biasanya gejala ini akan hilang
dengan sendirinya.
D. DIAGNOSIS FLUOR ALBUS
Keputihan bukan penyakit, tetapi gejala dari berbagai
penyakit sehingga memerlukan tindak lanjut untuk menegakkan diagnosis.
Diagnosis fluor albus (keputihan) :
1.
Anamnesa
:
·
apakah
ada faktor gonorrhoe/partner?
·
Sejak
kapan terjadinya?
·
Bagaimana
hubungannya dengan menstruasi?
·
Apakah
disertai gatal?
·
Apakah
berbau?
·
Apakah
disertai gumpalan?
·
Apakah
bercampur darah?
·
Apakah
disertai panas?
·
Apakah
terasa nyeri dibagian bawah?
·
Apakah
disertai kontak berdarah?
·
Apakah
sedang hamil?
2.
Pemeriksaan
inspekulo
Pemeriksaan spekulum burtujuan untuk mencari penyebab
keputihan
a.
Darimana
asalnya keputihan
•
Mulut
rahim
•
Hanya
bersifat lkal dalam vagina
b.
Bagaimana
dinding vagina
•
Warnanya
•
Apakah
terdapat bintik merah, sepeti digigit nyamuk
•
Apakah
keputihan bergumpal atau encer
•
Apakah
keputihan melekat pada dinding vagina
c.
Bagaimana
mulut rahim (Portio)
•
Apakah
tertutup oleh keputihan
•
Apakah
terdapat perlukaan
•
Apakah
mudah berdarah
3.
Pemeriksaan
Laboratorium
Penyebab keputihan adalah infeksi, benda asing, dan keganasan.
Dengan demikian pemeriksaan laboratorium
untuk menegakkan infeksi ( trikomonas, candida albikan, bakteri, spesifik ) dan
papsmear untuk kemungkinan keganasan. Bidan dapat melakukan tindakan :
·
Melakukan
pertanyaan tentang berbagai masalah keputihan
·
Melakukan
pemeriksaan inspekulo
·
Pengambilan
preparat pemeriksaan laboratorium dan papsmear
·
Melakukan
konsultasi dengan puskesmas dengan puskesmas atau dokter ahli
4.
Keadaan
umum
5.
Pemerikasaan
dalam
6.
Pemerikasaan
mikrobiologis dan bakteriologis
·
Cairan
yang seperti susu biasanya berasal dari vagina.
·
Cairan
yang liat mucopurulent berasal dari cervix.
·
Cairan
yang purulent biasanya biasanya disebabkan Gonococcus.
·
Zat
seperti keju oleh monilia, biasanya disertai gatal yang sangat.
·
Cairan
yang jernih terdapat pada astheni.
·
Fluor
bercampur darah terdapat pada malignitas, endometritis senilis.
·
Fluor
albus pada anak biasanya disebabkan oleh : Gonococcus, Corpus allienum, Oxyuris.
·
Fluor
albus pada pubertas dapat disebabkan : astheni, rangsang seksual (onani).
·
Fluor
pada orang tua : kolpitis dan endometritis senilis, carcinoma.
Perlu pembinaan kerja sama antara bidan dengan
puskesmas, agar dapat memberi pelayanan dan pengayoman medis yang lebih bermutu
dan menyeluruh.
Komplikasi
Komplikasi fluor albus ialah
pruritus, eczema dan condylomata acuminate sekitar vulva.
Terapi
Fluor albus ditangani
tergantung dari etiologi pnyakitnya.
TATALAKSANA KEPUTIHAN oleh BIDAN
![]() |

Diagram 1.1 Tatalaksana keputihan oleh Bidan
Tabel. 1.1 Tatalaksana keputihan oleh Bidan
E. KOMPLIKASI FLUOR ALBUS
Komplikasi Fluor albus (keputihan) ialah Pruritus,
Eczema dan Condylomata acuminata sekitar vulva.
Berikut contoh penderita komplikasi Fluor albus :

Gambar 1.7 Pruritus
jle.com
Gambar 1.8 Eczema textbookofbacteriology.net

Gambar 1.9 Condylomata acuminata savemysystem.co.uk
F. TERAPI FLUOR ALBUS
Terapi Fluor albus (keputihan) tergantung dari
etiologi. Untuk kasus keputihan yang abnormal sebaiknya
konsultasikan terlebih dahulu ke dokter kandungan. Jangan menundanya sampai
parah, karena dapat berdampak infeksi ke arah saluran atas yang tentunya lebih
berbahaya efeknya.
Namun beberapa hal yang bisa dilakukan untuk mencegah
keputihan diantaranya adalah:
- Melakukan Vulva Higiene Penting untuk menjaga kebersihan pribadi (personal hygiene), terutama organ reproduksi.
- Ganti celana jika basah, dan keringkan
- Penggunaan pakaian dalam harus bersih, tidak ketat, dan gunakan bahan yang mudah menyerap keringat.
- Sering mengganti pembalut pada saat haid
- Hindari menggunakan pembersih vagina. Jika tak sedang menderita keputihan, bersihkan vagina dan sekitarnya cukup dengan air bersih saja, tidak usah yang mengandung sabun/antiseptik karena khawatir dapat merusak kuman yang baik.
G. DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku referensi :
http://www.books.google.co.id.
Anonim. 2009. Fluor Albus (Leucorrhoe).
Anonim. 2010. Keputihan. http://id.wikipedia.org/wiki/Keputihan. [ update 13/03/2011 ]
Gde Manuaba Ida Bagus ,Prof. Dr. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan & Keluarga Berencana Untuk Pendidikan Bidan . [hal. 386] / [update 13/03/2011 ]
John Burns. 1987. The principles of midwifery: including the diseases of women and children. [ terjemahan dari hal. 84 ] / [ update 13/03/2011 ]
[
update13/03/2011 ]
[ update13/03/2011 ]
[ update13/03/2011 ]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar