Fungsi
reproduksi perempuan
dapat dibagi menjadi dua tahapan utama:
1. Persiapan tubuh wanita untuk menerima
konsepsi dan kehamilan,
2. Masa kehamilan itu sendiri.
Fungsi
sistem reproduksi wanita dikendalikan / dipengaruhi oleh hormon-hormon
gondaotropin / steroid dari poros hormonal thalamus – hipothalamus - hipofisis
– adrenal – ovarium. Selain itu terdapat organ/sistem ekstragonad/ ekstragenital
yang juga dipengaruhi oleh siklus reproduksi yaitu :
- payudara,
- kulit daerah
tertentu,
1. STRUKTUR REPRODUKSI WANITA
Organ reproduksi wanita terdiri atas organ
reproduksi luar (genetalia
ekterna) dan organ
reproduksi dalam (genetalia
internal).
Genetalia
Eksternal (sampai vagina) : berfungsi dalam kopulasi
Genetalia Internal : berfungsi dalam ovulasi, fertilisasi
ovum, transportasi blastocyst, implantasi, pertumbuhan fetus, kelahiran. Alat /
organ eksternal dan internal ini, sebagian besar terletak dalam rongga panggul.
1.1 Organ Reproduksi Luar (
genetalia eksternal)
Organ-organ reproduksi eksternal dalam
arti sempit adalah alat kandungan yang
dapat dilihat dari luar bila wanita dalam posisi litotomi. Genetalia eksterna
secara kesatuan disebut vulva atau pudendum. Vulva adalah bagian alat
kandungan luar yang berbentuk lonjong, berukuran panjang mulai dari klitoris,
kanan-kiri dibatasi bibir kecil, sampi belakang dibatasi perineum. Genetalia eksternal
feminina terdiri dari :
1)
Mons
veneris
2)
Labia
Mayora
3)
Labia
Minora
4)
Klitoris
5)
vestibulum
6)
orifisium uretra aksterna
7)
Introitus
vagina
8)
hymen
9)
perineum
a. Mons
Veneris (mons pubis)
Mons Veneris merupakan
bagian yang menonjol/menggunung yang terdiri dari lapisan lemak di bagian
anterior symphisis os.pubis. Pada masa pubertas kulit dari mons veneris ini
mulai ditumbuhi rambut kemaluan (pubis).
Pada wanita, rambut ini tumbuh
membentuk sudut lengkung sedangkan pada pria membentuk sudut runcing ke atas.
Mons
veneris berfungsi
sebagai pelindung terhadap benturan-benturan dari luar dan dapat menghindari
infeksi dari luar.
b. Labia
Mayora (bibir besar kemaluan)
Labia mayor adalah dua lipatan
kulit longitudinal yang merentang ke bawah dari mons pubis dan menyatu disisi
posterior perineum, yaitu kulit antara pertemuan dua lipatan dan anus. Berbentuk
lonjong dan menonjol, yang berasal dari mons veneris dan berjalan ke bawah dan
belakang.
Terdiri
dari 2 permukaan :
a.
Bagian external, menyerupai kulit biasa
dan ditumbuhi rambut.
b. Bagian internal, menyerupai
selaput lendir dan mengandung banyak keenjar sebacea.
Lapisan lemak lanjutan mons pubis ke arah bawah dan
belakang, banyak mengandung pleksus vena.
Ligamentum rotundum uteri berakhir pada batas atas labia
mayora. Di bagian bawah perineum, labia mayora sinistra dan dextra bersatu
disebelah belakang dan merupakan batas depan dari perinium (commisura
posterior/frenulum).
Labia
mayora Terdiri atas bagian kanan dan kiri
lonjong mengecil ke bawah dan bersatu di bagian bawah. Bagian luar labia mayora
terdiri dari kulit berambut (lanjutan dari mons veveris), kelenjar lemak, dan
kelenjar keringat. Bagian dalamnya tidak berambut dan mengandung kelenjar lemak.
Labia minor homolog embriologik (serupa
dengan struktur dan asalnya) dengan skrotum pada laki-laki.
c.
Labia Minora
Labia minora adalah dua lipatan
jaringan tipis (kulit) diantara labia mayora (disebelah
medial dari labia mayora).
Di daerah ini dijumpai frenulum klitoris, preputium, dan frenulum pudenti. Kedua
lipatan tersebut (sinistra & dextra) bertemu di atas (preputium clitoris)
dan dibawah clitoris (frenulum clitoris). Lipatan ini tidak mempunyai folikel
rambut, tetapi mengandung kelenjar sebasea dan beberapa kelenjar keringat.
Pada jaringan ini banyak terdapat pembuluh darah, otot polos dan ujung serabut
saraf, di bagian belakang kedua lipatan setelah mengelilingi orificium vaginea
bersatu juga, disebut fourchet (hanya nampak pada wanita
yang belum pernah melahirkan anak).
d.
Klitoris
Klitoris
Merupakan
tanggul yang erectil terdiri dari caput/glans clitoridis yang terletak di
bagian superior vulva, dan corpus clitoridis yang tertanam di dalam dinding
anterior vagina.
klitoris
Analoog
embriologik dengan penis pada pria, tetapi
lebih kecil dan tidak memiliki mulut uretra. Klitoris identik dengan penis pada
pria, kira-kira sebesar kacang hijau dan ditutupi oleh frenulum kitoris. Glans
klitoris berisi jaringan yang dapat berereksi, pada klitoris
terdapat reseptor androgen, dan juga mengandung banyak
pembuluh darah, urat-urat saraf sensoris dan ujung serabut saraf ,sehingga
bersifat sangat sensitif.
a.
Klitoris
terdiri dari:
§ Dua
kruka (akar),
§ Satu batang (badan)
§ Satu glans klitoris bundar yang banyak
mengandung ujung saraf dan sangat sensitif.
b. Batang klitoris mengandung dua korpora
kavernosum yang tersusum dari jaringan erektil. Saat mengembung dengan darah
selama eksitasi seksual, bagian ini bertanggung jawab untuk ereksi klitoris.
e. Vestibulum
Vestibulum
adalah area yang dikelilingi labia minora. Vestibulum
Berasal dari sinus urogenital.
Vestibula menutupi mulut uretra, mulut vagina (Introitus Vagina), dan duktus
kelenjar bartolini (vestibular besar). Vestibulum merupakan
rongga, sebelah lateral dibatasi oleh kedua labia minora, anterior oleh
clitoris, dan dorcal oleh fourchet.
Pada bagian vestibulum terdapat muara
vagina (liang senggama) , saluran kencing, kelenjar Bartholini dan kelenjar
Skene (kelenjar ini akan mengeluarkan cairan pada saat permainan pendahuluan
dalam hubungan seks sehingga memudahkan penetrasi penis).
a.
Pada vestibulum terdapat muara-muara
dari vagina – urethra dan terdapat 4 lubang kecil yaitu :
ü 2 muara dari kelenjar
Bartholini yang terdapat di samping dan agak ke belelakang dari introitus
vaginae.
ü 2 muara dari kelenjar
skene di samping dan agak dorsal dari urethra.
b.
Kelenjar
bartholini homolog dengan kelenjar bulbouretral pada laki-laki. Kelenjar ini
memproduksi beberapa tetes sekresi mukus untuk membantu melumasi orifisium
vaginal saat eksitasi seksual.
c.
Bulba
vestibular adalah massa jaringan erektil dalam di substansi jaringan labial.
Bagian ini sebanding dengan korpora spongiosum penis.
d.
Terdapat 6 lubang/orificium pada
vestibulum, yaitu :
ü orificium urethrae
externum
ü introitus vaginae
ü ductus glandulae
ü bartholinii
kanan-kiri danduktus Skene kanan-kiri.
ü fossa navicularis
diantara fourchet dan vagina
ü Introitus / orificium
vagina Terletak di bagian bawah vestibulum.
f.
Orifisium Uretra
Orifisium uretra adalah jalur keluar
urine dari kandung kemih. Tepi lateralnya mengandung duktus untuk dua kelenjar
parauretral (sekene) yang dianggap homolog dengan kelenjar prostat pada
laki-laki.
g.
Introitus Vagina (mulut vagina)
Introirus vagina adalah pintu masuk ke
vagina. Introitus vagina terletak di bawah orifisium uretra.
h. Hymen
(selaput dara)
Hymen
(selaput dara) merupakan selaput yang menutupi intriotus vagina. Merupakan lapisan
yang tipis dan menutupi sebagian besar dari introitus vaginae. Biasanya berlubang sebesar
ujung jari hingga getah dari genitalia interna dan darah haid dapat mengalir ke
luar, membentuk semilunaris,
Anularis, tapisan, septata, atau fimbria. Bila tidak berlubang disebut atresia
himenalis atau himen imperforata.
Pada Coitus
pertama hymen robek dibeberapa tempat. Namun tidak semua wanita mengeluarkan
dara pada coitus pertama. Pada gadis (virgo) tertutup lapisan
tipis bermukosa yaitu selaput dara/hymen, utuh tanpa robekan. Hymen normal
terdapat lubang kecil untuk aliran darah menstruasi, dapat berbentuk bulan
sabit, bulat, oval, cribiformis, septum atau fimbriae. Akibat coitus atau
trauma lain, hymen dapat robek dan bentuk lubang menjadi tidak beraturan dengan
robekan (misalnya berbentuk fimbriae). Bentuk himen postpartum disebut parous.
Setelah partus hanya tinggal sisa-sisa kecil pada pinggir introitus yang
disebut carunculae myrtiformis. Ada beberapa Hymen yang abnormal,
misalnya :
-
Hymen dengan beberapa lubang (hymen kribiformis)
-
primer tidak berlubang/ tertutup sama sekali
(hymen imperforata) menutup total
lubang vagina, dapat menyebabkan darah menstruasi terkumpul di rongga genitalia
interna.
-
himen
septus, dan sebagainya.
i. Perineum
Perineum
(pada laki-laki dan perempuan) adalah area berbentuk seperti intan yang
terbentang dari simfisis pubis di sisi anterior sampai ke koksiks di sisi
posterior dan ke tuberositas iskial di sisi lateral. Perineum terletak diantara tepi bawah
vulva dengan tepi depan anus. Batas otot-otot diafragma pelvis (m.levator ani,
m.coccygeus) dan diafragma urogenitalis (m.perinealis transversus profunda,
m.constrictor urethra). Perineal body adalah raphe median m.levator ani, antara
anus dan vagina. Perineum meregang pada persalinan, kadang perlu dipotong
(episiotomi) untuk memperbesar jalan lahir dan mencegah ruptur.
1.2 Organ Reproduksi Dalam
(genetalia internal)
Genetalia
internal feminina terdiri dari :
1)
Vagina
2)
Uterus
(rahim)
3)
Tuba
Fallopii (tuba uterin)
4)
Ovarium
a. Vagina
Vagina
adalah fibromuskular yang dapat berdistensi,
vagina merupakan Rongga muskulo-membranosa berbentuk tabung mulai dari tepi
cervix uteri di bagian kranial dorsal sampai ke vulva di bagian kaudal ventral.
Terletak antara kandung kencing dan rectum.
Vagina menghubungkan
genetalia eksterna dengan genetalia interna. Introitus vagina tertutup pada
hymen (selaput dara), suatu lipatan selaput setempat. Pada seorang virgo
selaput daranya masih utuh, dan lubang selaput dara (hiatus himenalis) umumnya hanya
dapat dilalui oleh jari kelingking.
Bagian ototnya berasal dari otot
levator ani dan otot sfingter ani (otot dubur) sehingga dapat dikendalikan dan
dilatih. Dinding vagina mempunyai lipatan-lipatan yang berjalan cirkuler
(berkerut) yang disebut rugae, terutama pada bagian bawah
bawah vagina, Setelah melahirkan, sebagian dari pada rugae akan menghilang. Dinding
depan vagina berukuran 9cm dan dinding belakangnya 11cm. Selaput vagina tidak
mempunyai kelenjar sehingga cairan yang selalu membasahi, yang berasal dari
kelenjar rahim atau lapisan dalam rahim, ini menyerupai kulit.
Ke dalam puncak vagina menonjol ujung
dari servix, bagian dari servix yang menonjol ke dalam vagina disebut portio
(leher rahim), Daerah di sekitar cervix disebut fornix, oleh portio ini puncak
vagna dibagi dalam 4 kuadran :
1)
fornix anterior,
2)
fornix posterior,
3)
fornix lateral dextra dan
4)
fornix lateral sinistra.
Vagina memiliki dinding ventral dan dinding dorsal yang
elastis. Dilapisi epitel skuamosa berlapis, berubah mengikuti siklus haid. Lendir vagina banyak mengandung
glikogen yang dapat dipecah oleh bakteri Doderlein, sehingga keasaman cairan
vagina sekitar 4,5 (bersifat asam).
Organ
ini merupakan organ yang mempunyai fungsi penting, seperti :
ü sebagai jalan lahir
bagian lunak,
ü sebagai sarana
hubungan seksual/ kopulasi (persetubuhan),
ü Titik Grayenbergh
(G-spot), merupakan titik daerah sensorik di sekitar 1/3 anterior dinding
vagina, sangat sensitif terhadap stimulasi orgasmus vaginal.
ü saluran untuk
mengalirkan lendir dan untuk mengeluarkan ekskresi uterus pada haid.
ü Bagian atas vagina
terbentuk dari duktus Mulleri, bawah dari sinus urogenitalis. Batas dalam
secara klinis yaitu fornices anterior, posterior dan lateralis di sekitar
cervix uteri.
1)
Ukuran dan lokasi. Vagina terletak diantara saluran
kemih dan rektum. Organ ini menghadap uterus pada sudut sekitar 450
dari vestibula genetalia eksternal dan terletak antara kandung kemih dan uretra
di sisi anterior dan rektum disisi posterior. Dibagian ujung atasnya terletak
mulut rahim. Ukuran panjang vagina dinding depan 8 cm dan dinding belakang 10
cm. Dinding vagina bagian belakang lebih panjang dan memebentuk forniks
posterior yang jauh lebih luas dari pada forniks anterior.
2)
Struktur dinding vagina tersusun dari atventisia terluar, suatu
lapisan otot polos, dan epitelium skuamosa bertingkat nonkeratinisasi yang
dikenal sebagai lapisan vaginal. Sel-sel pada lapisan vaginal memiliki reseptor
yang terikat pada membran untuk estrogen. Mukosa vagina berlipat-lipat
horisontal, lipatan itu dinamakan rugae, sedangkan di tengahnya ada bagian yang
lebih keras disebut kolumna rugarum. Dinding vagina terdiri dari lapisan
mukosa, lapisan otot, dan lapisan jaringan ikat. Berbatasan dengan serviks
membentuk ruangan lengkung antara lain forniks lateral kiri dan kanan, forniks
anterior dan forniks posterior. Suplai darah vagina diperoleh dari arteri uterina,
arteri vesikalis inferior, arteria hemoroidalis mediana, dan arteri pudendus
interna.
a.
Sebelum
pubertas dan setelah menopause, jika konsentrasi estrogen darah rendah, lapisan
vagina menjadi tipis dan hampir seluruhnya terdiri dari sel-sel basal.
b.
Selama
tahun-tahun reproduktif dan karena pengaruh estrogen, lapisan vaginal menjadi
tebal dan terdiri dari 40 lapisan sel basa, sel intermediate, dan sel
superfisial.
3)
Cairan dan haluaran vaginal. Vagina dilembabkan dan lumasi oleh
b. Uterus
(rahim)
Suatu organ muskular berbentuk seperti buah pir, dilapisi
peritoneum (serosa). Dengan berat sekitar 30 gr. Terletak di panggul kecil
diantara rectum (bagian usus sebelum dubur) dan di depannya terletak kandung
kemih. Hanya bagian bawahnya disangga oleh ligamen yang kuat, sehingga bebas
untuk tumbuh dan berkembang saat kehamilan.
Ruangan rahim berbentuk segitiga, dengan bagian besarnya di
atas. Dari bagian atas rahim (fundus) terdapat ligamen menuju lipatan paha
(kanalis inguinalis), sehingga kedudukan rahim menjadi ke arah depan. Lapisan
otot rahim terdiri dari tiga lapis, yang mempunyai kemampuan untuk
tumbuh-kembang sehingga dapat memelihara dan mempertahankan kehamilan
selama sembilan bulan. Rahim juga merupakan jalan lahir yang penting dan
mempunyai kemampuan untuk mendorong jalan lahir. Segera setelah persalinan otot
rahim dapat menutup pembuluh darah untuk menghindari perdarahan. Setelah persalinan,
rahim dalam waktu 42 hari dapat mengecil seperti semula.
Selama kehamilan uterus berfungsi sebagai tempat implatansi,
retensi dan nutrisi konseptus. Pada saat persalinan dengan adanya kontraksi
dinding uterus dan pembukaan serviks uterus, isi konsepsi dikeluarkan. Terdiri
dari corpus, fundus, cornu, isthmus dan serviks uteri. Serviks uteri Bagian
terbawah uterus, terdiri dari pars vaginalis (berbatasan / menembus dinding
dalam vagina) dan pars supravaginalis. Terdiri dari 3 komponen utama: otot polos,
jalinan jaringan ikat (kolagen dan glikosamin) dan elastin. Bagian luar di
dalam rongga vagina yaitu portio cervicis uteri (dinding) dengan lubang ostium
uteri externum (luar, arah vagina) dilapisi epitel skuamokolumnar mukosa
serviks, dan ostium uteri internum (dalam, arah cavum).
Sebelum melahirkan (nullipara/primigravida) lubang ostium
externum bulat kecil, setelah pernah/riwayat melahirkan (primipara/
multigravida) berbentuk garis melintang. Posisi serviks mengarah ke
kaudal-posterior, setinggi spina ischiadica. Kelenjar mukosa serviks
menghasilkan lendir getah serviks yang mengandung glikoprotein kaya karbohidrat
(musin) dan larutan berbagai garam, peptida dan air. Ketebalan mukosa dan
viskositas lendir serviks dipengaruhi siklus haid.
Fungsi uterus (rahim):
ü Sebagai alat tempat
terjadinya menstruasi
ü Sebagai alat tumbuh dan
berkembangnya hasil konsepsi
ü Tempat pembuatan
hormon misal HCG
Bagian-bagian dari rahim (uterus):
ü Servik uteri
ü Korpus uteri
ü Fundus uteri
Secara histologis uterus dibagi menjadi tiga bagian:
ü Endometrium, yaitu
lapisan uterus yang paling dalam yang tiap bulan lepas sebagai darah menstruasi
ü Miometrum, yaitu
lapisan tengah lapisan ini terdiri dari otot polos
ü Perimetrium,
merupakan lapisan luar yang terdiri dari jaringan ikat.
Uterus di dalam perut terapung-apung tetapi terfiksasi oleh
jaringan-jaringan ikat & ligamentum.
Ligamentum-ligamentum yang mengfiksir uterus :
1.
Ligamentum cardinale
sinistra & dextra (Mackenrodt)
Ligamen ini berjalan dari servix uteri
dan puncak vagina ke arah lateral dinding panggul. Ligamen ini berfungsi untuk
mencegah supaya uterus tidak turun, di dalamnya terdapat pembuluh darah yang
arteria & vena uterina. Ada beberapa penyebab uterus menjadi turun, yaitu :
a) Terlalu sering
melahirkan
b) Terlalu sering
dipijat pada bagian sekitar uterus
c) Orang yang sudah tua
2.
Ligamentum Sakro
Uterinum sinistra & dextra
Ligamen ini berfungsi untuk menahan uterus
supaya didak dapat bergerak Berjalan dari servik bagian belakang kiri kanan ke
Os.sacrum
3.
Ligamentum Rotundum
sinistra & dextra
Ligamen ini berjalan dari daerah Fundus
uteri ke dinding panggul
Pada perempuan hamil sering mengalami nyeri pada daerah kaki bawah dikarenakan ligamen rotundum tegang.
Pada perempuan hamil sering mengalami nyeri pada daerah kaki bawah dikarenakan ligamen rotundum tegang.
4.
Ligamentum Latum
sinistra & dextra
Merupakan suatu jaringan lapis tipis
yang menutupi tuba uterina dan uterus di sebelah belakang ligamentum latum
terdapat ovarium/indung telur.
5.
Ligamentum
infundibulum pelvikum sinistra & dextra
Di dalam ligamen ini terdapat urat-urat
syaraf kelenjar limfa serta arteria dan vena ovarika untuk darah yang memberikan
ke ovarium dan uterus.
6.
Ligamentum ovarii
proprium
Yang berjalan dari ovarium menuju ke
bagian belakang Fundus uteri
Ligamentum ini secara embriologi berasal dari Gubernaculum seperti juga ligamentum rotundum
Ligamentum ini secara embriologi berasal dari Gubernaculum seperti juga ligamentum rotundum
Uterus adalah suatu struktur otot yang
cukup kuat, bagian luarnya ditutupi oleh peritonium sedangkan rongga dalamnya
dilapisi oleh mukosa rahim. Dalam keadaan tidak hamil, rahim terletak dalam
rongga panggul kecil di antara kandung kemih dan dubur. Rahim berbetuk seperti
bola lampu pijar atau buah pear, mempunyai rongga yang terdiri dari tiga bagian
besar, yaitu :
ü Korpus uteri (badan rahim) berbentuk
segitiga.
ü Serviks uteri (leher rahim) berbentuk
silinder,
ü Kavum uteri (rongga rahim).
Bagian
rahim antara kedua pangkal tuba, yang disebut fundus uteri merupakan bagian
proksimal rahim.
Besarnya
rahim berbeda-beda, bergantung pada usia dan pernah melahirkan anak atau belum.
Ukurannya kira-kira sebesar telur ayam kampung. Pada nulipara ukurannya 5,5-8
cm x 3,5-4 cm x 2-2,5 cm; multipara 9-9,5 cm.
c.
Tuba
Fallopii
Tuba Fallopii berasal dari ujung ligamentum latum berjalan
ke arah lateral, dengan panjang sekitar 12 cm. Tuba Fallopii bukan merupakan saluran
lurus, tetapi mempunyai bagian yang lebar sehingga membedakannya menjadi empat
bagian. Di ujungnya terbuka dan mempunyai fimbriae (rumbai-rumbai), sehingga
dapat menangkap ovum (telur) saat terjadi pelepasan telur (ovulasi). Saluran
telur ini menyalurkan saluran hasil konsepsi (hasil pembuahan) menuju rahim.
Tuba fallopii merupakan bagian yang paling sensitif terhadap infeksi dan
menjadi penyebab utama terjadinya kemandulan (infertilitas). Fungsi tuba
fallopii sangat vital dalam proses kehamilan, yaitu menjadi saluran tempat
bertemunya spermatozoa dan ovum, mempunyai fungsi penangkap ovum, tempat
terjadinya pembuahan (fertilitas), menjadi saluran dan tempat pertumbuhan hasil
pembuahan sebelum mampu menanamkan diri pada lapisan dalam rahim.
Fungsi tuba:
ü Tempat terjadinya
fertilisasi
ü Saluran yang
mengeluarkan hasil konsepsi
ü Fimbria mengangkat
ovum yang keluar dari ovarium
d.
Indung Telur
(Ovarium)
Indung telur terletak antara rahim dan dinding panggul, dan
digantung ke rahim oleh ligamentum ovarii proprium dan ke dinding panggul oleh
ligamentum infundibulo-pelvikum. Indung telur merupakan sumber hormonal
perempuan yang paling utama, sehingga mempunyai dampak keperempuanan dalam
pengatur proses menstruasi. Indung telur mengeluarkan telur (ovum) setiap bulan
silih berganti kanan dan kiri. Pada saat telur (ovum) dikeluarkan perempuan di
sebut “dalam masa subur”.
Produksi telur pada perempuan sesuai dengan usia adalah
sebagai berikut:
ü Saat lahir bayi : mempunyai sel telur 750.000
ü Umur 6-15 tahun : mempunyai sel telur 439.000
ü Umur 6-25 tahun : mempunyai sel telur 159.000
ü Umur 26-35 tahun : mempunyai sel telur 59.000
ü Umur 35-45 tahun : mempunyai sel telur 34.000
ü Masa menopause semua
sel telur menghilang
Fungsi ovarium:
ü Sebagai penghasil sel
telur / ovum
ü Sebagai organ yang menghasilkan
hormon (estrogen dan progesteron)
e.
Parametrium
(Penyangga Rahim)
Merupakan lipatan peritonium dengan berbagai penebalan, yang
menghubungkan rahim dengan tulang panggul. Lipatan atasnya mengandung tuba
fallopii dan ikut serta menyangga indumg telur. Bagian ini sensitif terhadap
infeksi sehingga mengganggu fungsinya. Hampir keseluruhan alat reproduksi
perempuan berada di rongga panggul. Setiap individu perempuan mempunyai rongga
panggul (pelvis ) yang berbeda satu sama lain. Bentuk dan ukuran ini
mempengaruhi kemudahan suatu proses persalinan. Dan perubahan ukuran pada
panggul ini pula untuk mengukur umur kehamilan seorang perempuan.
3. ORGAN
REPRODUKSI / ORGAN SEKSUAL EKSTRAGONODAL
a.
Payudara
Seluruh susunan
kelenjar payudara berada di bawah kulit di daerah pektoral. Terdiri dari massa
payudara yang sebagian besar mengandung jaringan lemak, berlobus-lobus (20-40
lobus), tiap lobus terdiri dari 10-100 alveoli, yang di bawah pengaruh hormon
prolaktin memproduksi air susu. Dari lobus-lobus, air susu dialirkan melalui
duktus yang bermuara di daerah papila / puting. Fungsi utama payudara adalah
laktasi, dipengaruhi hormon prolaktin dan oksitosin pascapersalinan. Kulit
daerah payudara sensitif terhadap rangsang, termasuk sebagai sexually
responsive organ.
b.
Kulit
Di berbagai area
tertentu tubuh, kulit memiliki sensitifitas yang lebih tinggi dan responsif
secara seksual, misalnya kulit di daerah bokong dan lipat paha dalam. Protein
di kulit mengandung pheromone (sejenis metabolit steroid dari keratinosit
epidermal kulit) yang berfungsi sebagai ‘parfum’ daya tarik seksual
(androstenol dan androstenon dibuat di kulit, kelenjar keringat aksila dan
kelenjar liur). Pheromone ditemukan juga di dalam urine, plasma, keringat dan
liur.
4. POROS
HORMONAL SISTEM REPRODUKSI
Badan pineal Suatu kelenjar
kecil, panjang sekitar 6-8 mm, merupakan suatu penonjolan dari bagian posterior
ventrikel III di garis tengah. Terletak di tengah antara 2 hemisfer otak, di
depan serebelum pada daerah posterodorsal diensefalon. Memiliki hubungan dengan
hipotalamus melalui suatu batang penghubung yang pendek berisi serabut-serabut
saraf. Menurut kepercayaan kuno, dipercaya sebagai “tempat roh”. Hormon
melatonin : mengatur sirkuit foto-neuro-endokrin reproduksi. Tampaknya
melatonin menghambat produksi GnRH dari hipotalamus, sehingga menghambat juga
sekresi gonadotropin dari hipofisis dan memicu aktifasi pertumbuhan dan sekresi
hormon dari gonad. Diduga mekanisme ini yang menentukan pemicu / onset mulainya
fase pubertas.
a. Hipotalamus
Kumpulan nukleus pada
daerah di dasar otak, di atas hipofisis, di bawah talamus. Tiap inti merupakan
satu berkas badan saraf yang berlanjut ke hipofisis sebagai hipofisis posterior
(neurohipofisis).
Menghasilkan
hormon-hormon pelepas :
-
GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone),
-
TRH (Thyrotropin Releasing Hormone),
-
CRH (Corticotropin Releasing Hormone),
-
GHRH (Growth Hormone Releasing
Hormone),
-
PRF (Prolactin Releasing Factor).
Menghasilkan juga hormon-hormon
penghambat:
-
PIF (Prolactin Inhibiting Factor)
b.
Pituitari / hipofisis
Terletak di dalam
sella turcica tulang sphenoid. Menghasilkan hormon-hormon gonadotropin yang
bekerja pada kelenjar reproduksi, yaitu perangsang pertumbuhan dan pematangan
folikel (FSH – Follicle Stimulating Hormone) dan hormon lutein (LH –
luteinizing hormone). Selain hormon-hormon gonadotropin, hipofisis menghasilkan
juga hormon-hormon metabolisme, pertumbuhan, dan lain-lain.
c. Ovarium
Berfungsi
gametogenesis / oogenesis, dalam pematangan dan pengeluaran sel telur (ovum). Selain
itu juga berfungsi steroidogenesis, menghasilkan estrogen (dari teka interna
folikel) dan progesteron (dari korpus luteum), atas kendali dari hormon-hormon
gonadotropin.
d. Endometrium
Lapisan dalam dinding
kavum uteri, berfungsi sebagai bakal tempat implantasi hasil konsepsi. Selama
siklus haid, jaringan endometrium berproliferasi, menebal dan mengadakan
sekresi, kemudian jika tidak ada pembuahan / implantasi, endometrium rontok
kembali dan keluar berupa darah / jaringan haid. Jika ada pembuahan /
implantasi, endometrium dipertahankan sebagai tempat konsepsi. Fisiologi
endometrium juga dipengaruhi oleh siklus hormon-hormon ovarium.
5. HORMON-HORMON
REPRODUKSI
v GnRH (Gonadotrophin Releasing Hormone)
Diproduksi
di hipotalamus, kemudian dilepaskan, berfungsi menstimulasi hipofisis anterior
untuk memproduksi dan melepaskan hormon-hormon gonadotropin (FSH / LH ).
v FSH (Follicle Stimulating Hormone)
Diproduksi
di sel-sel basal hipofisis anterior, sebagai respons terhadap GnRH. Berfungsi
memicu pertumbuhan dan pematangan folikel dan sel-sel granulosa di ovarium
wanita (pada pria : memicu pematangan sperma di testis).Pelepasannya periodik /
pulsatif, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 3 jam), sering tidak
ditemukan dalam darah. Sekresinya dihambat oleh enzim inhibin dari sel-sel granulosa
ovarium, melalui mekanisme feedback negatif.
v LH (Luteininzing Hormone) / ICSH
(Interstitial Cell Stimulating Hormone).
Diproduksi
di sel-sel kromofob hipofisis anterior. Bersama FSH, LH berfungsi memicu
perkembangan folikel (sel-sel teka dan sel-sel granulosa) dan juga mencetuskan
terjadinya ovulasi di pertengahan siklus (LH-surge). Selama fase luteal siklus,
LH meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum pascaovulasi dalam
menghasilkan progesteron. Pelepasannya juga periodik / pulsatif, kadarnya dalam
darah bervariasi setiap fase siklus, waktu paruh eliminasinya pendek (sekitar 1
jam). Kerja sangat cepat dan singkat.(Pada pria : LH memicu sintesis
testosteron di sel-sel Leydig testis).
v Estrogen
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis. Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta. Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita.
Estrogen (alami) diproduksi terutama oleh sel-sel teka interna folikel di ovarium secara primer, dan dalam jumlah lebih sedikit juga diproduksi di kelenjar adrenal melalui konversi hormon androgen. Pada pria, diproduksi juga sebagian di testis. Selama kehamilan, diproduksi juga oleh plasenta. Berfungsi stimulasi pertumbuhan dan perkembangan (proliferasi) pada berbagai organ reproduksi wanita.
-
Pada uterus : menyebabkan proliferasi endometrium.
-
Pada serviks : menyebabkan pelunakan serviks & pengentalan
lendir serviks.
-
Pada vagina : menyebabkan proliferasi epitel
vagina.
-
Pada payudara : menstimulasi pertumbuhan payudara.
Estrogen
juga mengatur distribusi lemak tubuh. Pada tulang, estrogen juga menstimulasi
osteoblas sehingga memicu pertumbuhan / regenerasi tulang. Pada wanita pascamenopause,
untuk pencegahan tulang keropos / osteoporosis, dapat diberikan terapi hormon
estrogen (sintetik) pengganti.
v Progesteron
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi.
Progesteron (alami) diproduksi terutama di korpus luteum di ovarium, sebagian diproduksi di kelenjar adrenal, dan pada kehamilan juga diproduksi di plasenta. Progesteron menyebabkan terjadinya proses perubahan sekretorik (fase sekresi) pada endometrium uterus, yang mempersiapkan endometrium uterus berada pada keadaan yang optimal jika terjadi implantasi.
v HCG (Human Chorionic Gonadotrophin)
Mulai
diproduksi sejak usia kehamilan 3-4 minggu oleh jaringan trofoblas (plasenta).
Kadarnya makin meningkat sampai dengan kehamilan 10-12 minggu (sampai sekitar
100.000 mU/ml), kemudian turun pada trimester kedua (sekitar 1000 mU/ml), kemudian
naik kembali sampai akhir trimester ketiga (sekitar 10.000 mU/ml). Berfungsi
meningkatkan dan mempertahankan fungsi korpus luteum dan produksi hormon-hormon
steroid terutama pada masa-masa kehamilan awal. Mungkin juga memiliki fungsi
imunologik. Deteksi HCG pada darah atau urine dapat dijadikan sebagai tanda
kemungkinan adanya kehamilan (tes Galli Mainini, tes Pack, dsb).
v LTH (Lactotrophic Hormone) / Prolactin
Diproduksi
di hipofisis anterior, memiliki aktifitas memicu / meningkatkan produksi dan
sekresi air susu oleh kelenjar payudara. Di ovarium, prolaktin ikut
mempengaruhi pematangan sel telur dan mempengaruhi fungsi korpus luteum. Pada
kehamilan, prolaktin juga diproduksi oleh plasenta (HPL / Human Placental
Lactogen). Fungsi laktogenik / laktotropik prolaktin tampak terutama pada masa
laktasi / pascapersalinan. Prolaktin juga memiliki efek inhibisi terhadap GnRH
hipotalamus, sehingga jika kadarnya berlebihan (hiperprolaktinemia) dapat
terjadi gangguan pematangan follikel, gangguan ovulasi dan gangguan haid berupa
amenorhea.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar