Di masa lalu, tindakan pencukuran rambut pubis merupakan prosedur rutin untuk persiapan persalinan. Tindakan pencukuran tersebut dipercaya membawa beberapa manfaat, yaitu mengurangi risiko infeksi pasca robekan alami atau episiotomi dan mempermudah proses penjahitan pasca robekan atau episiotomi.
Berbagai penelitian terkini menyatakan bahwa tindakan pencukuran
pra-persalinan ternyata tidak terbukti bermanfaat, bahkan menimbulkan
efek negatif. Review tersebut antara lain dilakukan oleh Basevi V dan
Lavender T yang melakukan tinjauan berbagai penelitian tentang tindakan
pencukuran pra-persalinan yang kemudian dipublikasikan melalui The
Cochrane Collaboration tahun 2001. Kajian WHO juga menunjukkan hal
serupa, dan kini sudah menjadi kebijakan WHO untuk tidak menyarankan
tindakan pencukuran rambut pubis sebelum persalinan.
Tindakan pencukuran pra-persalinan tersebut juga terbukti dapat
menimbulkan berbagai dampak negatif, antara lain menimbulkan perasaan
malu dan tidak nyaman pada diri ibu/pasien, serta dapat menimbulkan
masalah lokal di daerah pubis dan vulva seperti kemerahan, luka/jejas,
nyeri, dan gatal. Jika pisau cukur yang digunakan adalah pisau cukur
bekas, bahkan akan berisiko menularkan berbagai penyakit termasuk HIV.
Disadur dari: Better Birth Initiative, 2001
Rujukan:
1. Basevi V, Lavender T. Routine perineal shaving on
admission in labour (Cochrane Review). In: The Cochrane Librar y. Issue
2, 2001.Oxford: Update Software.
2. Department of Reproductive Health and Research, WHO
(1999). Care in Normal Bir th; a practical guide. Geneva: World Health
Organisation.
3. World Health Organisation. The WHO Reproductive Health Library, Issue 4, 2001. WHO/RHR/HRP/RHL/3/00. Oxford: Update Software

Tidak ada komentar:
Posting Komentar