BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar belakang
Hipotermia
menggambarkan keadaan di mana mekanisme tubuh untuk pengaturan suhu yang
kewalahan dalam menghadapi stressor dingin. Hipotermia diklasifikasikan sebagai
kebetulan atau disengaja, primer atau sekunder, dan dengan tingkat hipotermia.
Upaya
mencegah hipotermi pada bayi baru lahir sangat penting dan merupakan prioritas
agar bayi terhindar dari kondisi yang tidak dikehendaki.Hipotermi
dapat terjadi setiap saat apabila suhu sekeliling bayi rendah dan
upayamempertahankan suhu tubuh tetap hangat tidak diterapkn dengan tepat,
terutama pada masastabilisasi yaitu 6-12 jam pertama setelah lahir. Contoh,
terjadi hipotermi karena beberapa hal, seperti : bayi baru lahir dibiarkan
basah dan telanjang selama menunggu plasenta lahir, bayi baru lahir mudah sekali terkena
hipotermi. Hal ini disebabkan oleh karena
Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna dan permukaan tubuh bayi relatif lebih luas, tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas, bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar tidak kedinginan. Untuk mencegah terjadinya hipotermia pada bayi baru lahir perlu dilakukan upaya pencegahanyaitu : Ibu melahirkan bayi ditempat yang hangat, Ruangan tempat ibu melahirkan harus hangat dan tertutup dengan sirkulasi udara yang cukup baik serta penyinaran cukup terang, Segera mengeringkan tubuh bayiBayi lahir dengan tubuh basah oleh ketuban akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayilebih cepat kehilangan panas tubuh, akibatnya dapat timbul serangan dingin(cold stress)Bayi baru lahir yang kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena pusat pengatur suhunya belum sempurna. Hal ini menyebabkan gejala awal hipotermi yang sering tidak terdeteksi oleh ibu atau perawat.Untuk mencegah timbulnya serangan dingin tindakan yang dilakukan yaitu : Setelah lahir bayi diletakan pada tempat yang diberi alas haduk kering, bersih dan hangat, Segera keringkan bayi dengan haduk, lakukan dengan tepat mulai dari kepala kemudian seluruh tubuh. Bila handuk basah harus diganti yang kering, bersih dan hangat. Bungkus bayi dengan kain kering dan hangat bayi diberi topi atau tutup kepala dan diberi kaostangan dan kaos kaki, Segera letakan bayi pada dada ibu. Kontak langsung kulit ibu dan bayi agar mendapatkan kehangatan. Ibu merupakan sumber panas yang baik bagi bayi baru lahir. Menunda memandikan bayi. Memandikan bayi dilakukan setelah suhu tubuh bayi stabil, bayi tampak aktif dan sehat. Memandikan bayi ditunda selama 24 jam setelah kelahiran
Pusat pengaturan suhu tubuh pada bayi belum berfungsi dengan sempurna dan permukaan tubuh bayi relatif lebih luas, tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan panas, bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dan pakaiannya agar tidak kedinginan. Untuk mencegah terjadinya hipotermia pada bayi baru lahir perlu dilakukan upaya pencegahanyaitu : Ibu melahirkan bayi ditempat yang hangat, Ruangan tempat ibu melahirkan harus hangat dan tertutup dengan sirkulasi udara yang cukup baik serta penyinaran cukup terang, Segera mengeringkan tubuh bayiBayi lahir dengan tubuh basah oleh ketuban akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayilebih cepat kehilangan panas tubuh, akibatnya dapat timbul serangan dingin(cold stress)Bayi baru lahir yang kedinginan biasanya tidak memperlihatkan gejala menggigil oleh karena pusat pengatur suhunya belum sempurna. Hal ini menyebabkan gejala awal hipotermi yang sering tidak terdeteksi oleh ibu atau perawat.Untuk mencegah timbulnya serangan dingin tindakan yang dilakukan yaitu : Setelah lahir bayi diletakan pada tempat yang diberi alas haduk kering, bersih dan hangat, Segera keringkan bayi dengan haduk, lakukan dengan tepat mulai dari kepala kemudian seluruh tubuh. Bila handuk basah harus diganti yang kering, bersih dan hangat. Bungkus bayi dengan kain kering dan hangat bayi diberi topi atau tutup kepala dan diberi kaostangan dan kaos kaki, Segera letakan bayi pada dada ibu. Kontak langsung kulit ibu dan bayi agar mendapatkan kehangatan. Ibu merupakan sumber panas yang baik bagi bayi baru lahir. Menunda memandikan bayi. Memandikan bayi dilakukan setelah suhu tubuh bayi stabil, bayi tampak aktif dan sehat. Memandikan bayi ditunda selama 24 jam setelah kelahiran
Disengaja hipotermia adalah sebuah negara diinduksi
umumnya diarahkan pada pelindung saraf setelah situasi berisiko (biasanya
setelah serangan jantung, lihat Hipotermia Terapi) [1] hipotermia Primer adalah
karena paparan lingkungan, dengan tidak ada kondisi medis yang mendasari menyebabkan
gangguan regulasi suhu. [ 2] hipotermia sekunder adalah suhu tubuh yang rendah
akibat penyakit medis menurunkan suhu titik setel.
Banyak pasien telah
pulih dari hipotermia parah, sehingga pengenalan dini dan inisiasi prompt dari
pengobatan yang optimal adalah yang terpenting. Hipotermia sistemik juga dapat
disertai oleh luka dingin lokal (lihat frostbite). Lihat gambar di bawah ini.
Osborne (J)
gelombang (V3) pada pasien dengan Osborne dubur (J) gelombang (V3) pada pasien
dengan suhu inti rektal 26,7 ° C (80,1 ° F). EKG milik Heather Murphy-Lavoie
Rumah Sakit Amal, New Orleans.
Patofisiologi Suhu
inti tubuh diatur secara ketat dalam "zona thermoneutral" antara 36,5
° C dan 37,5 ° C, di luar yang biasanya tanggapan thermoregulatory diaktifkan.
Tubuh mempertahankan suhu inti yang stabil melalui produksi menyeimbangkan
panas dan kehilangan panas. Pada saat istirahat, manusia menghasilkan 40-60
kilokalori (kkal) dari panas per meter persegi luas permukaan tubuh melalui
generasi oleh metabolisme sel, yang paling menonjol di hati dan jantung.
Meningkatkan produksi panas dengan kontraksi otot lurik, menggigil meningkatkan
laju produksi panas 2-5 kali.
Kehilangan panas
terjadi melalui beberapa mekanisme, yang paling signifikan yang, di bawah
kondisi kering, adalah radiasi (55-65% dari kehilangan panas). Konduksi
konveksi dan account untuk sekitar 15% dari kehilangan panas tambahan, dan
respirasi dan account penguapan untuk sisanya. Konduktif dan kehilangan panas
konvektif, atau transfer langsung dari panas ke benda atau sirkulasi udara,
masing-masing, adalah penyebab paling umum dari hipotermia disengaja. Konduksi
adalah mekanisme sangat signifikan kehilangan panas menenggelamkan / perendaman
kecelakaan sebagai konduktivitas termal air hingga 30 kali dari udara.
Hipotalamus
mengontrol termoregulasi melalui konservasi panas meningkat (vasokonstriksi
perifer dan tanggapan perilaku) dan produksi panas (menggigil dan meningkatkan
tingkat tiroksin dan epinefrin). Perubahan dari SSP dapat mengganggu mekanisme
ini. Ambang batas untuk menggigil adalah 1 derajat lebih rendah dari
vasokonstriksi dan dianggap mekanisme upaya terakhir oleh tubuh untuk
mempertahankan suhu [3]. Mekanisme untuk pelestarian panas dapat kewalahan
dalam menghadapi stres dingin dan suhu inti bisa drop sekunder untuk kelelahan
atau glikogen deplesi.
Hipotermia
mempengaruhi hampir semua sistem organ. Mungkin efek paling signifikan terlihat
pada sistem kardiovaskular dan SSP. Hipotermia menyebabkan depolarisasi
penurunan sel pacu jantung, menyebabkan bradikardi. Karena bradikardia ini
tidak vagally dimediasi, dapat refrakter terhadap terapi standar seperti
atropin. Berarti tekanan arteri dan penurunan curah jantung, dan
elektrokardiogram (EKG) mungkin menunjukkan karakteristik gelombang J atau Osborne
(lihat gambar di bawah). Sementara umumnya terkait dengan hipotermia, gelombang
J mungkin varian normal dan terlihat kadang-kadang dalam sepsis dan iskemia
miokard.
Osborne (J)
gelombang (V3) pada pasien dengan Osborne dubur (J) gelombang (V3) pada pasien
dengan suhu inti rektal 26,7 ° C (80,1 ° F). EKG milik Heather Murphy-Lavoie
Rumah Sakit Amal, New Orleans.
Aritmia atrium dan
ventrikel dapat hasil dari hipotermia; detak jantung dan fibrilasi ventrikel
telah dicatat untuk mulai secara spontan pada suhu inti di bawah 25-28 ° C.
Hipotermia semakin
menekan SSP, SSP metabolisme menurun secara linear sebagai inti tetes suhu.
Pada suhu inti kurang dari 33 ° C, aktivitas otak listrik menjadi abnormal;
antara 19 ° C dan 20 ° C, sebuah electroencephalogram (EEG) mungkin muncul
konsisten dengan kematian otak. Jaringan mengalami penurunan konsumsi oksigen
pada suhu yang lebih rendah, itu tidak jelas apakah hal ini karena penurunan
tingkat metabolisme pada suhu lebih rendah atau afinitas hemoglobin yang lebih besar
untuk oksigen digabungkan dengan ekstraksi oksigen gangguan jaringan
hipotermia.
Istilah "inti
suhu setelah drop" mengacu pada penurunan lebih lanjut dalam suhu inti dan
kerusakan klinis yang terkait pasien setelah rewarming telah dimulai. Teori
saat ini fenomena didokumentasikan adalah bahwa sebagai jaringan perifer
hangat, vasodilatasi memungkinkan darah dingin pada ekstremitas untuk
mengedarkan kembali ke inti tubuh. Mekanisme lain mungkin sedang berlangsung
juga. Beberapa percaya bahwa turun setelah paling mungkin terjadi pada pasien
dengan radang dingin atau hipotermia lama.
B.
Epidemiologi
Frekuensi Amerika Serikat
Akurat
memperkirakan kejadian hipotermia adalah mustahil, sebagai rumah sakit
pertemuan hanya mewakili "puncak gunung es" dalam bahwa mereka
mencerminkan kasus yang lebih parah. Meskipun demikian, jumlah pertemuan gawat
darurat untuk hipotermia tumbuh, sebagai angka yang terus bertambah orang
mengambil ke luar rumah untuk mencari petualangan. Hipotermia juga merupakan
penyakit perkotaan. Masalah sosial dengan alkoholisme, penyakit mental, dan
tunawisma menciptakan aliran kasus ini ke dalam kota rumah sakit.
Meskipun kebanyakan
kasus terjadi di wilayah negara dengan cuaca musim dingin yang parah, daerah
lain dengan iklim yang lebih ringan juga mengalami kasus secara teratur. Hal
ini terutama berlaku di iklim yang lebih ringan yang mengalami perubahan iklim
yang cepat baik karena perubahan musiman atau hari ke-malam perubahan sekunder
untuk ketinggian. Menurut data saat ini, negara-negara dengan tingkat tertinggi
kematian keseluruhan untuk hipotermia adalah Alaska, New Mexico, North Dakota,
dan Montana.
Jumlah terbesar
kasus hipotermia terjadi di perkotaan dan terkait dengan paparan lingkungan
dikaitkan dengan alkoholisme, penggunaan narkoba, atau penyakit mental, sering
diperburuk oleh tunawisma bersamaan. Hal ini hanya karena fakta bahwa banyak
orang yang ditemukan di daerah perkotaan daripada daerah pedesaan.
Sebuah kelompok
yang terkena dampak kedua mencakup orang di luar ruangan untuk bekerja atau
kesenangan, termasuk pemburu, pemain ski, pendaki, pelaut / kasau, dan
perenang.
C.
Mortalitas / Morbiditas
Menurut sebuah
studi, secara keseluruhan di-pasien mortalitas pada pasien hipotermia adalah
12%. Kebanyakan orang mentolerir hipotermia ringan (32-35 ° C suhu tubuh) cukup
baik, yang tidak terkait dengan morbiditas yang signifikan atau kematian.
Sebaliknya, survei multicenter menemukan tingkat kematian 21% untuk pasien
dengan hipotermia sedang (28-32 ° C suhu tubuh).
Kematian lebih
tinggi pada hipotermia berat (inti suhu di bawah 28 ° C). Meskipun berbasis
rumah sakit pengobatan, kematian akibat hipotermia sedang atau berat mendekati
40%. Pasien mengalami infeksi bersamaan untuk akun kebanyakan kematian akibat
hipotermia. Komorbiditas lain yang terkait dengan tingkat kematian lebih tinggi
termasuk tunawisma, alkoholisme, penyakit kejiwaan, dan usia lanjut.
"Hipotermia
Indoor" lebih mungkin terjadi pada pasien dengan komorbiditas medis yang
signifikan (alkoholisme, sepsis, hipotiroidisme / hipopituitarisme) dan
cenderung untuk membawa hasil lebih buruk dari hipotermia eksposur.
Menurut catatan
saat ini, sekitar 700 orang meninggal di Amerika Serikat dari hipotermia utama
kecelakaan setiap tahun.
Tingkat mortalitas
secara keseluruhan dari hipotermia adalah sama antara Bayi laki-laki dan bayi
perempuan. Karena insiden yang lebih tinggi paparan kalangan bayi laki-laki,
laik-laki account untuk 65% dari kematian terkait hipotermia.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Hipotermi
Hipotermia
adalah penurunan suhu tubuh di bawah 360C (Dep.Kes. RI, 1994).
Prinsip
Dasar Suhu normal bayi, baru lahir berkisar 36,50C ± 37,50C
(suhu ketiak). Gejala awal hipotermiaapabila suhu < 360C atau
kedua kaki, dan tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayi terabadingin,
maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (Suhu 320C ± 360C).
Disebut hipotermia berat bila suhu tubuh < 320C. Hipotermia
menyebabkan terjadinya penyempitan pembuluh darah yang mengakibatkan terjadinya
metoblis anerobik, meningkatkan kebutuhan oksigen,mengakibatkan hipoksemia dan
berlanjut dengan kematian (Saifudin, 2002)
Tubuh mempertahankan suhu relatif
stabil dimana produksi panas seimbang dengan kehilangan panas. Biasanya, suhu
inti tubuh (bila diukur rektal) adalah 98,60 F atau 370 C. Ketika lingkungan
luar terlalu dingin atau panas tubuh menurun produksi, hipotermia terjadi (hipo
= kurang + Thermia = suhu). Hipotermia didefinisikan sebagai memiliki suhu inti
tubuh kurang dari 950
F atau 350
C.
Disebut
sebagai hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 360 C.
Suhu normal pada neonatus adalah 36,5 ± 370C.Bayi baru lahir
mudah sekali terkena hipotermiaBayi hipotermi adalah bayi dengan suhu badan
dibawah normal. Adapun suhu normal bayiadalah 36,5-37,5 °C. Suhu normal pada
neonatus 36,5-37,5°C (suhu ketiak). Gejala awal hipotermi apabila suhu <36°C atau
kedua kaki & tangan teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayiterasa dingin
maka bayi sudah mengalami hipotermi sedang (suhu 32-36°C). Disebut
hipotermi berat bila suhu <32°C, diperlukan termometer ukuran rendah
(low reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25°C. (Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, 2001).
Suhu tubuh dikendalikan di bagian
otak yang disebut hipotalamus, yang bertanggung jawab untuk mengenali perubahan
dalam suhu tubuh dan respon yang tepat. Tubuh menghasilkan panas melalui proses
metabolisme dalam sel yang mendukung fungsi tubuh yang vital. Paling panas
hilang di permukaan kulit dengan konveksi, konduksi, radiasi penguapan, dan.
Jika lingkungan yang semakin dingin, tubuh mungkin perlu untuk menghasilkan
panas lebih banyak dengan menggigil (meningkatkan aktivitas otot yang
mempromosikan pembentukan panas).
Tetapi jika kehilangan panas lebih
besar dari kemampuan tubuh untuk membuat lebih, maka suhu inti tubuh akan
jatuh. Sebagai
suhu jatuh, tubuh shunts darah dari kulit dan eksposur ke elemen. Aliran darah
meningkat ke organ vital tubuh termasuk jantung, paru-paru, ginjal, dan otak.
Jantung dan otak yang paling sensitif terhadap dingin, dan aktivitas listrik
dalam organ-organ ini melambat dalam menanggapi dingin. Jika suhu tubuh terus
menurun, organ mulai gagal, dan akhirnya kematian akan terjadi.
Hipotermia dlam pandangan medis
Pasien pendinginan sebagai bagian
dari perawatan medis mereka disebut hipotermia diinduksi atau terapeutik.
Meskipun ada potensi manfaat praktek untuk berbagai kondisi, saat ini,
hipotermia medis yang paling sering digunakan pada pasien yang telah
menghidupkan kembali dari serangan jantung.
Para ilmuwan medis telah
menunjukkan bahwa pada pasien yang selamat episode henti jantung karena
fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel, pendinginan tubuh untuk 93,20 F (340 C) selama 12-24 jam
dikaitkan dengan tingkat kelangsungan hidup lebih baik dan hasil neurologis
yang lebih baik.
Sedangkan bayi
hipotermi adalah bayi dengan suhu tubuh dibawah normal (kurang dari 36,50 C). Hipotermi merupakan
salah satu penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir, terutama dengan
berat badan kurang dari 2,5 Kg.
B.
Klasifikasi Hipotermi
Hipotermi dibedakan atas :
1.
Hipotermia Ringan /
stres dingin (36 -36,50 C) / 98,6-960 F
Tanda
dan Gejala :
·
Menggigil - tidak di
bawah kontrol kesadaran
·
Tidak dapat melakukan
fungsi motorik yang kompleks (es mendaki atau ski) masih bisa berjalan &
bicara
·
Vasokonstriksi ke daerah tepi
2.
hipotermi sedang (32
-360 C) / 95-930 F
Tanda
dan Gejala :
·
Aktifitas berkurang, letargis
·
Tangisan lemah
·
Kulit berwarna tidak rata (cutis malviorata)
·
Kemampuan menghisap lemah
·
Kaki teraba dingin
·
Jika hipotermia berlanjut akan timbul cidera dingin
·
Bingung kesadaran
·
Kehilangan koordinasi
motorik halus - terutama di tangan - karena aliran darah perifer dibatasi
·
Kekerasan menggigil
3.
hipotermi berat
(dibawah 320 C) / 92-860 (segera mengancam
kehidupan)
Tanda
dan Gejala :
·
Aktifitas berkurang, letargis
·
Bibir dan kuku kebiruan
·
Pernafasan lambat
·
Pernafasan tidak teratur
·
Bunyi jantung lambat
·
Selanjutnya mungkin timbul hipoglikemia dan asidosis
metabolik
·
Resiko untuk kematian bayi
·
Menggigil terjadi dalam
gelombang, kekerasan kemudian jeda, jeda mendapatkan lagi sampai akhirnya
berhenti menggigil - karena output panas dari pembakaran glikogen dalam otot
tidak cukup untuk
melawan suhu inti terus menurun, tubuh menggigil menutup untuk menghemat
glukosa
·
Bayi dlam posisi meringkuk untuk melestarikan
panas tubuhnya
·
Kekakuan otot
berkembang - karena aliran darah perifer berkurang dan karena penumpukan asam
laktat dan CO2 dalam otot
·
Kulit pucat
·
Siswa melebar
·
Tingkat Pulse menurun
·
Pada 900 F tubuh mencoba untuk bergerak ke
hibernasi, mematikan semua aliran darah perifer dan mengurangi kecepatan
pernapasan dan detak jantung.
·
Di 860 F tubuh
adalah dalam keadaan "peti es metabolik."
·
Orang terlihat mati
tetapi masih hidup.
Tanda ±
tanda stadium lanjut hipotermiaa.
·
Muka, ujung kaki dan tangan berwarna merah terang
·
Bagian tubuh lainnya pucatc.
·
Kulit mengeras merah dan timbul edema terutama pada
punggung, kaki dan tangan (sklerema)(Saifudin, 2002)
Bayi-bayi yang sangat rawan terhadap hipotermi yaitu
:
1.
bayi kurang bulan /
premature
2.
bayi berat lahir rendah
3.
bayi sakit
C.
Etiologi
Hipotermi
Etiologi
terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :
1.
Jaringan lemak subkutan tipis.
2.
Perbandingan luas permukaan tubuh dengan berat badan besar.
3.
Cadangan glikogen dan brown fat sedikit.
4.
BBL (Bayi Baru Lahir) tidak mempunyai respon shivering
(menggigil) pada reaksi kedinginan.(Indarso, F, 2001).
5.
Kurangnya pengetahuan perawat dalam pengelolaan bayi yang
beresiko tinggi mengalamihipotermi. ( Klaus, M.H et al, 1998).
Berikut penyebab lain terjadinya penurunan
suhu tubuh pada bayi :
1.
Penyebab utama
Kurang
pengetahuan cara kehilangan panas dari tubuh bayi dan pentingnya mengeringkan
bayisecepat mungkin. Ketika bayi baru lahir
tidak segera dibersihkan, terlalu cepat dimandikan, tidak segera diberi
pakaian, tutup kepala, dan dibungkus, diletakkan pada ruangan yang dingin,
tidak segera didekapkan pada ibunya, dipisahkan dari ibunya, tidak segera
disusui ibunya. Bayi
berat lahir rendah yaitu bayi lahir dengan berat badan kurang dari 2,5 kg atau
bayi dengaan lingkar lengan kurang dari 9,5 cm atau bayi dengan tanda-tanda
otot lembek, kulit kerput. Bayi
lahir sakit seperti asfiksia, infeksi sepsis dan sakit berat.
2.
Faktor pencetus terjadinya hipotermia
a. Faktor lingkungan
b. Syok
c. Infeksid.
d. Gangguan endokrin metabolik
e. Kurang gizi, energi protein (KKP)
f. Obat ± obatan
g. Aneka cuaca
(DepKes
RI, 1992)
3.
Resiko untuk terjadinya hipotermia
a.
Perawatan yang kurang tepat setelah bayi lahir
b.
Bayi dipisahkan dari ibunya segera setelah lahir
c.
Berat lahir bayi yang kurang dan kehamilan prematur
d.
Tempat melahirkan yang dingin (putus rantai hangat).
e.
Bayi asfiksia, hipoksia, resusitasi yang lama, sepsis,
sindrom dengan pernafasan, hipoglikemia perdarahan intra kranial.(DepKes
RI, 1992)
D.
Gejala
Hipotermi
Gejala
awal hipotermi apabila suhu <36°C atau kedua kaki & tangan
teraba dingin. Bila seluruh tubuh bayiterasa dingin maka bayi sudah mengalami
hipotermi sedang (suhu 32-36°C). Disebut hipotermi berat bila suhu
<32°C, diperlukan termometer ukuran rendah (low reading thermometer) yang dapat mengukur sampai 25°C. (Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirahardjo, 2001).
Disamping
sebagai suatu gejala, hipotermi merupakan awal penyakit yang berakhir
dengankematian. (Indarso, F, 2001). Sedangkan menurut Sandra M.T. (1997) bahwa
hipotermi yaitukondisi dimana suhu inti tubuh turun sampai dibawah
35°C.Etiologi terjadinya hipotermi pada bayi yaitu :1)Jaringan lemak subkutan
tipis.
Gejala hipotermia pada bayi baru lahir adalah sebagai
berikut :
1.
Menurunnya suhu
tubuh
2.
Letargis
3.
Hipotonus
4.
Kaki dan tangan bayi
teraba lebih dingin dibandingkan dengan bagian dada
5.
Aktivitas berkurang (bayi kurang aktif)
6.
Kemampuan menghisap ASI lemah
7.
Tangisan lemah
8.
Ujung jari tangan dan
kaki kebiruan
9. Bayi tidak mau minum / menetek
10. Bayi tampak lesu atau mengantuk
11. Tubuh bayi teraba dingin.
12. Dalam keadaan berat, denyut jantung
bayi menurun
13. Pernapasan megap-megap dan lambat
14. Timbul sklerema (kulit mengeras berwarna kemerahan
terutama dibagian punggung, tungkai dan lengan)
15. Muka bayi berwarna merah terang
E.
Proses
Terjadinya Hipotermi
Mekanisme kehilangan panas / proses
terjadinya hipotermi
pada bayi baru lahir menurut teorinya:
1. Radiasi : dari objek ke panas bayi
Contoh
: timbangan bayi dingin tanpa alas
2. Evaporasi : karena penguapan cairan
yang melekat pada kulit
Contoh
: air ketuban pada tubuh bayi, baru lahir, tidak cepat dikeringkan.
3. Konduksi : panas tubuh diambil oleh
suatu permukaan yang melekat ditubuh
Contoh
: pakaian bayi yang basah tidak cepat diganti.
4. Konveski : penguapan dari tubuh ke
udara
Contoh
: angin dari tubuh bayi baru lahir (Wiknjosastro, 1994).
Mekanisme
hilangnya panas pada BBL Mekanisme hilangnya panas pada bayi yaitu dengan :
1.
Radiasi yaitu panas yang hilang dari obyek yang hangat
(bayi) ke obyek yang dingin.
2.
Konduksi yaitu hilangnya panas langsung dari obyek yang
panas ke obyek yang dingin.
3.
Konveksi yaitu hilangnya panas dari bayi ke udara
sekelilingnya.
4.
Evaporasi yaitu hilangnya panas akibat evaporasi air dari
kulit tubuh bayi (misal cairan amnion pada BBL). (Indarso, F, 2001).
F.
Efek dari
Hipotermi bagi Bayi Baru Lahir
Hipotermia
menyebabkan terjadinya perubahan metabolisme tubuh yang akan berakhir dengan kegagalan fungsi jantung, perdarahan
terutama pada paru-paru, ikterus dan kematian. Akibat
yang bisa ditimbulkan oleh hipotermi yaitu :
1.
Hipoglikemi
2.
Asidosis metabolik, karena vasokonstrtiksi perifer dengan
metabolisme anaerob.
3.
Kebutuhan oksigen yang meningkat.
4.
Metabolisme meningkat sehingga pertumbuhan terganggu.
5.
Gangguan pembekuan sehingga mengakibatkan perdarahan
pulmonal yang menyertai hipotermi berat.
6.
Shock.
7.
Apnea.
8.
Perdarahan Intra Ventricular. (Indarso, F, 2001).
G.
Tindakan Segera Pada Hipotermia
Segera
hangatkan bayi, apabila terdapat alat yang canggih seperti inkubaator gunakan
sesuaiketentuan. Apabila tidak tersedia inkubator cara ilmiah adalah
menggunakan metode kangurucara lainnya adalah dengan penyinaran lampu.
1. Hipotermia Sedang
a.
Keringkan tubuh bayi dengan handuk yang kering, bersih,
dapat hangat
b. Segera hangatkan tubuh bayi dengan
metode kanguru bila ibu dan bayi berada dalam satuselimut atau kain hangaat
yang diserterika terlebih dahulu.Bila selimut atau kain mulaimendingin, segera
ganti dengan selimut / kain yang hangat
c. Ulangi sampai panas tubuh ibu
mendingin, segera ganti dengan selimut / kain yang hangat. Mencegah bayi
kehilangan panas dengan cara :
1) Memberi tutup kepala / topi bayi
2) Mengganti kain / popok bayi yang
basah dengan yang kering dan hangat
2. Hipotermi Berat
a. Keringkan tubuh bayi dengan handuk
yang kering, bersih, dan hangat
b. Segera hangatkan tubuh bayi dengan
metode kanguru, bila perlu ibu dan bayi berada dalamsatu selimut atau kain
hangat
c. Bila selimut atau kain mulai
mendingin. Segera ganti dengan selimut atau lainnya hangatulangi sampai panas
tubuh ibu menghangatkan tubuh bayi
d. Mencegah bayi kehilangan panas
dengan cara :
1) Memberi tutup kepala / topi kepala
2) Mengganti kain / pakaian / popok
yang basah dengan yang kering atau hangat
Biasanya bayi hipotermi menderita hipoglikemia. Karena itu
ASI sedini mungkin dapat lebihsering selama bayi menginginkan. Bila terlalu
lemah hingga tidak dapat atau tidak kuatmenghisap ASI. Beri ASI dengan
menggunakan NGT. Bila tidak tersedia alat NGT. Beri infusdextrose 10% sebanyak
60 ±80 ml/kg/liter
e. Segera rujuk di RS terdekat(Dep.Kes.
RI, 1994).
Tindakan
yang harus dilakukan adalah segera menghangatkan bayi di dalam
inkubator atau melalui penyinaran lampu. Cara lain yang sangat sederhana dan
mudah dikerjakan setiap orang ialah metode dekap, yaitu bayi diletakkan
telungkup dalam dekapan ibunya dan keduanya diselimuti agar bayi senantiasa hangat. Bila tubuh bayi masih dingin,
gunakan selimut atau kain hangat yang diseterika terlebihdahulu yang digunakan
untuk menutupi tubuh bayi dan ibu. Lakukan berulangkali sampai tubuh bayi
hangat. Tidak boleh memakai buli-buli panas, bahaya luka bakar.
Biasanya
bayi hipotermi menderita hipoglikemia sehingga bayi harus diberi ASI
sedikit-sedikit dan sesering mungkin. Bila bayi tidak dapat menghisap beri
infus glukosa 10% sebanyak 60-80 ml/kg per hari.
H.
Pengobatan
Hipotermi
Pengelolaan
Menurut Indarso, F (2001) menyatakan bahwa pengelolaan bayi hipotermi :
1.
Bayi cukup bulan
·
Letakkan BBL pada Radiant Warner.
·
Keringkan untuk menghilangkan panasmelalui evaporasi.
·
Tutup kepala.
·
Bungkus tubuh segera.
·
Bila stabil, dapat segera rawat gabungsedini mungkin setelah
lahir bayi dapat disusukan.
2.
Bayi sakit
·
Seperti prosedur di atas [1].
·
Tetap letakkan pada radiant warmer sampai stabil.
3.
Bayikurang bulan (prematur)
·
Seperti prosedur di atas. [1]
·
Masukkan ke inkubator dengan servocontrole atau radiant
warner dengan servo controle.
4.
Bayi yang sangat kecil
·
Dengan radiant warner yang diatur dimana suhu kulit 36,5 °C.
·
Tutup kepala.
·
Kelembaban 40-50%.
·
Dapat diberi plastik pada radiant warner.
·
Dengan servo controlesuhu kulit abdomen 36, 5°C.
·
Dengan dinding double. ± Kelembaban 40-50% atau lebih
(bilakelembaban sangat tinggi, dapat dipakai sebagai sumber infeksi dan
kehilangan panas berlebihan).
·
Bila temperatur sulit dipertahankan, kelembaban dinaikkan.
·
Temperatur lingkungan yang dibutuhkan sesuai umur dan
berat bayi.
Mengatasi bayi hipotermi dilakukan dengan cara :
1.
melaksanakan metode
kanguru, yaitu bayi baru lahir dipakaikan popok dan tutup kepala diletakkan di
dada ibu agar tubuh bayi menjadi hangat karena terjadi kontak kulit
langsung.Bila tubuh bayi masih teraba dingin bisa ditambahkan selimut.
2.
bayi baru lahir
mengenakan pakaian dan selimut yang disetrika atau dihangatkan diatas tungku.
3.
menghangatkan bayi
dengan lampu pijar 40 sampai 60 watt yang diletakkan pada jarak setengah meter
diatas bayi.
4.
meminta pertolongan
kepada petugas kesehatan terdekat.
5.
dirujuk ke rumah sakit.
I.
Pencegahan
Hipotermi
Pencegahan
dan Penanganan HipotermiPemberian panas yang mendadak, berbahaya karena dapat
terjadi apnea sehinggadirekomendasikan penghangatan 0,5-1°C tiap jam (pada bayi
< 1000 gram penghangatanmaksimal 0,6 °C). (Indarso, F, 2001).
Alat-alat
Inkubator Untuk bayi < 1000 gram, sebaiknyadiletakkan dalam inkubator.
Bayi-bayi tersebut dapat dikeluarkan dari inkubator apabilatubuhnya dapat tahan
terhadap suhu lingkungan 30°C. Radiant Warner Adalah alat yangdigunakan untuk
bayi yang belum stabil atau untuk tindakan-tindakan. Dapat menggunakanservo
controle (dengan menggunakan probe untuk kulit) atau non servo controle
(denganmengatur suhu yang dibutuhkan secara manual).
Pencegahan
hipotermia merupakan asuhan neonatal dasar agar BBL tidak mengalamihipotermia.
Disebut hipotermia bila suhu tubuh turun dibawah 36,50C. Suhu normal
pada neonatus adalah 36,5 ± 37,50C pada pengukuran
suhu melalui ketiak BBL mudah sekali terkenahipotermia, hal ini disebabkan
karena :
1.
Pusat pengaturan panas pada bayi belum berfungsi dengan
sempurna
2.
Permukaan tubuh bayi relatif luas
3.
Tubuh bayi terlalu kecil untuk memproduksi dan menyimpan
panas
4.
Bayi belum mampu mengatur posisi tubuh dari pakaiannya agar
ia tidak kedinginan.
Hal-hal
yang perlu dilakukan untuk pencegahan hipotermi adalah:
mengeringkan
bayi sesegera mungkin, menutup bayi dengan selimut
atau topi dan menenmpatkan bayi di atas perut ibu(kontak dari kulit ke kulit).
Jika kondisi ibu tidak memungkinkan untuk menaruh bayi di atasdada (karena ibu
lemah atau syok) maka hal-hal yang dapat dilakukan :
1.
Mengeringkan dan membungkus bayi dengan kain yang
hangar
2. Meletakkan bayi didekat ibu
3. Memastikan ruang bayi yang terbaring
cukup hangat(Dep.Kes. RI, 1994).
Melakukan tujuh rantai hangat, yaitu :
1.
menyiapkan tempat
melahirkan yang hangat, kering, bersih, penerangan cukup.
2.
memberi ASI sedini
mungkin dalam waktu 30 menit setelah melahirkan agar bayi memperoleh kalori.
3.
mempertahankan
kehangatan pada bayi.
4.
memberi perawatan bayi
baru lahir yang memadai.
5.
melatih semua orang
yang terlibat dalam pertolongan persalinan / perawatan bayi baru lahir.
Menunda memandikan bayi baru lahir :
6.
pada bayi normal tunda
memandikannya sampai 24 jam.
7.
pada bayi berat badan
lahir rendah tunda memandikannya lebih lama lagi.
Namun pada prinsip dasar mempertahankan suhu
tubuh bayi baru lahir dan mencegah hipotermia, adalah sebagai berikut :
1.
Mengeringkan bayi baru lahir segera setelah lahir
Bayi
lahir dengan tubuh basah oleh air ketuban. Aliran udara melalui jendela / pintu
yangterbuka akan mempercepat terjadinya penguapan dan bayi lebih cepat
kehilangan panas tubuh.Akibatnya dapat timbul serangan dingin (cols stres) yang
merupakan gejala awal hipotermia.Untuk mencegah terjadinya serangan dingin,
setiap bayi lahir harus segera dikeringkan denganhanduuk yang kering dan bersih
(sebaiknya handuk tersebut dihangatkan terlebih dahulu).Setelah tubuh bayi
kering segera dibungkus dengan selimut, diberi topi / tutup kepala, kaustangan
dan kaki. Selanjutnya bayi diletakkan dengan telungkup diatas dada untuk
mendapatkehangatan dari dekapan bayi.
2.
Menunda memandikan bayi baru lahir sampai suhu tubuh bayi
stabil
Untuk
mencegah terjadinya serangan dingin, ibu / keluarga dan penolong persalinan
harusmenunda memandikan bayi.
a.
Pada bayi baru lahir sehat yaitu lahir cukup bulan, berat
> 2.500 gram, langsung menangis kuat, maka memandikan bayi, ditunda
selama + 24 jam setelah kelahiran.
b.
Pada bayi lahir dengan resiko (tidak termasuk kriteria
diatas), keadaan bayi lemah atau bayidengan berat lahir < 2.000 gram,
sebaiknya bayi, jangan dimandikan, ditunda beberapa harisampai keadaan umum
membaik yaitu bila suhu tubuh bayi, stabil, bayi sudah lebih kuat dandapat
menghisap ASI dengan baik.(DepKes RI, 1992)
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Setelah menyimak uraian diatas maka
penulis menyimpulkan sebagai berikut :
1.
Upaya pencegahan
hipotermi pada bayi baru lahir dilakukan dengan benar bila bayi dikeringkan dan
melakukan kontak kulit langsung dengan ibu.
2.
Suhu lingkungan selama
dan setelah kelahiran sangat besar pengaruhnya pada bayi baru lahir. Semakin
dingin ruangan semakin besar terjadinya hipotermi.
3.
Cara terbaik mencegah
hipotermi adalah mempertahankan tubuh bayi tetap hangat melalui metode
”kanguru” dan memenuhi kebutuhan kalorinya dengan memberi ASI sedini mungkin
(30 menit setelah bayi lahir).
4.
Pencegahan hipotermi
sangat mudah dan dapat dikerjakan dimana saja, kapan saja, oleh siapa saja yang
terlibat dalam persalinan dan perawatan bayi.
5.
Penanganan hipotermi
lebih sulit dibandingkan pencagahannya karena bila bayi mengalami hipotermi
berarti keadaannya sangat berbahaya dengan risiko sakit dan mati meningkat.
6.
Bayi dengan berat lahir
rendah mudah terkena hipotermi karena pusat pengatur suhu belum berfungsi baik,
kehilangan panas melalui permukaan kepala lebih besar, karena permukaan kepala
bayi lebih luas daripada bagian tubuh lainnya dan lapisan lemak bawah kulit
tipis.
B.
Saran
Setelah penulis mencermati maka
penulis berpendapat bahwa hipotermi pada bayi baru lahir perlu mendapat
perhatian dari para petugas kesehatan dan khususnya calon ibu yang akan
memiliki anak. Mereka perlu memiliki pengetahuan tentang bagaimana cara
memperlakukan bayi pertama kali ketika lahir.
Penanganan yang salah terhadap bayi
bisa menyebabkan dampak negatif bagi mereka. Sebagai contoh terjadinya
hipotermi pada bayi disebabkan oleh kebiasaan / perilaku yang salah seperti
mengeringkan dan membersihkan tubuh bayi menunggu setelah plasenta lahir,
memandikan bayi dilakukan segera setelah lahir, membersihkan lemak bayi segera setelah
lahir, memercikkan air hangat / air dingin / air kembang / minyak wangi pada
bayi baru lahir yang tidak menangis (untuk merangsang pernafasan), mengosok
tubuh bayi dengan minyak kayu putih / obat gosok, bayi baru lahir tidak segera
didekapkan / dipisah / tidak
segera disusui oleh ibunya. Semua kebiasaan diatas justru mengakibatkan
penurunan suhu tubuh pada bayi.
Hipotermi merupakan salah satu
penyebab tersering dari kematian bayi baru lahir. Oleh karena itu para petugas
kesehatan harus melakukan tindakan pencegahan terjadinya hipotermi di tingkat
pelayanan dasar. Sebaiknya para petugas kesehatan memiliki penguasaan dalam
mencegah dan menangani hipotermi pada bayi baru lahir untuk memberikan dampak
positif yang sangat berarti dalam mencegah terjadinya kematian. Begitu pula
dengan ibu, penolong persalinan, dan keluarga di rumah yang bisa dengan mudah
mencegah terjadinya hipotermi.
DAFTAR PUSTAKA
Depkes
RI. 1994. Asuhan
Kesehatan Anak Dalam Konteks Keluarga. Departemen Kesehatan RI : Jakarta.
Depkes
RI. 1994. Pedoman
Penanganan Kegawatdaruratan Obstektrik dan Neonatal. Departemen Kesehatan RI : Jakarta.
Saifuddin, Abdul Bari. 2002. Pelayanan
Kesehatan Maternal & Neonatal. INPKKR-POGI &YBS ± SP : Jakarta.
Wiknjosastro
Gulardi H., dkk. 2007.
Asuhan Persalinan Normal. JNPK-KR : Jakarta.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar