V.
THE EMBRYONIC PHASES
Bab
V
Fase Embrio
Fase Embrio
Catatan penerjemah:
Dokumen asli [dalam Bahasa Inggris] dicetak dengan huruf biasa.
Dokumen asli [dalam Bahasa Inggris] dicetak dengan huruf biasa.
Dokumen terjemahan dicetak dengan huruf seperti ini.
We present to you Dr. G.C. Goeringer,
Course Director and Associate Professor of Medical Embryology at the Department
of Cell Biology, School of Medicine, Georgetown University, Washington, D.C..
We met with him and asked him whether in the history of embryology there was
any mention of the different stages of embryonic development and whether there
were any books on embryology at the time of the Prophet Muhammad (sallallahu
‘alaihi wa sallam) or the centuries after him which mention these various
stages, or whether the division into these different stages only came to be
known in the middle of the nineteenth century. He said that the ancient Greeks
were concerned with the study of embryology and many of them attempted to
describe what happens to the fetus and how it develops. We agreed with him that
Aristotle, among others, attempted to expound some theories on the subject, but
was there any mention made of these stages?
Kami hadirkan, Dr. G.C. Goeringer,
Direktur Kursus dan Profesor Kepala Embriologi Kedokteran di Departemen Biologi
Sel, Sekolah Kedokteran, Universitas Georgetown, Washington, D.C.. Kami bertemu
dengan dia dan menanyakan kepadanya apakah dalam sejarah embriologi dikenal
atau disebutkan tentang adanya tahap-tahap yang berbeda dari masa perkembangan
embriologi dan apakah ada buku-buku di bidang embriologi pada masa kenabian
Muhammad atau beberapa abad setelahnya yang menyebutkan tahap-tahap yang
berbeda ini, atau apakah pembagian ke dalam beberapa tahap hanya ditemukan di
pertengahan abad ke sembilan belas saja? Dia mengatakan bahwa Yunani Kuno telah
tertarik untuk mempelajari embriologi dan banyak diantara mereka mencoba untuk
menjelaskan apa yang terjadi terhadap janin dan bagaimana janin itu berkembang.
Kami setuju dengan pernyataan ini bahwa Aristotle, diantara yang lainnya,
mencoba untuk menjelaskan beberapa teori dalam subyek ini, akan tetapi apakah
dalam teori-teori tersebut telah disebutkan tentang tahap-tahap ini?
We know that these stages were known
until the middle of the nineteenth century and were not proven until the
beginning of the twentieth century. After a long discussion, Professor
Goeringer concurred that there was no mention of these phases. Thus we asked
him if there was any specific terminology applied to these phases similar to
that found in the Qur’aan. His reply was negative. We asked him: ‘What is your
opinion on these terms which the Qur’aan uses to describe the phases which the
fetus goes through?’ After long discussions, he presented a study at the 8th
Saudi Medical Conference. He mentioned in the study man's basic ignorance of
these phases. He also discussed the comprehensiveness and precision of these
Qur’aanic terms in describing the development of the fetus by means of concise
and comprehensive terms which convey far reaching truth. Let us listen to
Professor Goeringer as he explains his opinion:
Kami mengetahui bahwa tahap-tahap ini
belum diketahui sampai pertengahan abad sembilan belas dan belum dibuktikan
sampai pada awal abad ke dua puluh. Setelah diskusi yang cukup lama, Profesor
Goeringer menyetujui bahwa tahap-tahap ini belum pernah disebutkan sebelumnya.
Karenanya, kami menanyakan kepadanya apakah pernah ada terminologi yang khusus
diterapkan pada tahap-tahap ini yang serupa dengan yang ada di Al-Quran? Dia menjawab:
Negatif (tidak ada). Kami menanyakan: 'Bagaimana pendapat Anda tentang topik
tahap-tahap perkembangan janin yang dijelaskan dalam Al-Quran?' Setelah melalui
diskusi yang lama, dia menunjukkan sebuah studi pada abad ke-8 dalam Konferensi
Kedokteran Saudi. Dia menyebutkan dalam studi ini tentang ketidakpedulian
(kebodohan) manusia terhadap tahap-tahap ini. Dia juga mendiskusikan keakuratan
dan kejelian pembagian menurut Al-Quran dalam menjelaskan perkembangan janin
dengan cara yang ringkas dan dengan istilah yang mudah dimengerti. Mari kita
dengarkan Profesor Goeringer menjelaskan pendapatnya:
In a relatively few Aayahs (Qur’aanic
verses), is contained a rather comprehensive description of human development
from the time of the commingling of the gametes through organogenesis. No such
distinct and complete record of human development such as classification,
terminology, and description existed previously. In most, if not all,
instances, this description antedates by many centuries the recording of the various
stages of human embryonic and fetal development recorded in the traditional
scientific literature.
Pada beberapa ayat (Al-Quran), terdapat
penjabaran yang lebih lengkap tentang perkembangan manusia dari waktu
penggabungan gamet sampai dengan organogenesis. Rekaman yang terpisah dengan
jelas dan lengkap dalam pengklasifikasian, terminologi, dan deskripsi
perkembangan manusia belum pernah ditemukan sebelumnya. Pada kebanyakan contoh,
-- jika tidak semuanya, -- deskripsi tentang pentahapan embrio manusia dan
perkembangan janin ini muncul beberapa abad lebih dahulu daripada literatur
sains tradisional.
The discussion with Professor Goeringer
led us to talk about a fact which was discovered recently and which would
eliminate any controversy. Although the virgin birth of Christ has been a
Christian belief for centuries, some among the Christians insist that Christ
must have had a father, as a virgin birth is 'scientifically impossible'. They
argue this, and perhaps they do not know, that there could be a creation
without a father. The Qur’aan replied to them and has used as an example the
creation of Adam. Allah said: The similitude of Jesus before Allah is as that
of Adam; He created him from dust, then said to him: 'Be': And he was. (Qur’aan
3:59).
Diskusi dengan Profesor Goeringer telah
mendorong kami untuk membicarakan tentang sebuah fakta yang baru saja ditemukan
belakangan ini yang akan mengurangi kontroversi. Meskipun kelahiran Yesus dari
perawan (Maria) menjadi bagian dari keyakinan ummat kristiani selama beberapa
abad, beberapa diantara mereka bersikeras mengatakan bahwa Yesus pasti
mempunyai seorang ayah, karena kelahiran dari seorang perawan adalah 'tidak
mungkin secara sains'. Mereka memperdebatkan ini karena mungkin mereka tidak
mengetahui adanya kemungkinan penciptaan tanpa seorang ayah. Al-Quran menjawab
mereka dan telah menggunakan sebuah contoh tentang penciptaan Adam. Allah
berfirman:
'Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa
di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari
tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah' (seorang manusia), maka
jadilah dia.
(Quran 3:59).
(Quran 3:59).
There are three types of creation:
- Adam,
who was created without a mother or father
- Eve,
who was created without a mother
- Jesus
Christ, who was created without a father
Ada tiga macam penciptaan:
- Adam,
yang diciptakan tanpa seorang ibu atau ayah
- Hawa
(Eve), yang diciptakan tanpa seorang ibu
- Yesus
Kristus (Isa), yang diciptakan tanpa seorang ayah
Therefore, the One who was able to
create Adam without a father or a mother is also able to create Jesus from a
mother and without a father. In spite of this, the Christians still continue to
argue even though Allah has sent them evidence after evidence and proof after
proof. Then when they are asked why they persist in this controversy, they
reply that they have never seen or heard of anybody being created without a
father and a mother. But modern science now revealed that many animals and
beings in this world are born and reproduced without fertilization from the
male of the species. For example, a male bee is no more than an egg which has
not been fertilized by the male, whereas the egg which has been fertilized by
the male functions as a female. Moreover, male bees are created from the eggs
of the queen but without fertilization by a male. There are many other examples
such as this in the animal world. Moreover, man today has the scientific means
of stimulating the female's egg of some organisms so that this egg develops
without fertilization by a male.
Oleh karenanya, Dzat yang bisa
menciptakan Adam tanpa seorang ayah atau pun juga seorang ibu juga bisa
menciptakan Yesus dari seorang ibu dan tanpa seorang ayah. Meskipun demikian,
ummat Kristiani akan terus memperdebatkan meskipun Allah telah mengirimkan
kepada mereka tanda-tanda dan bukti-bukti yang menguatkan. Ketika mereka
ditanya mengapa mereka tetap dalam persengketaan, mereka menjawab bahwa mereka
belum pernah melihat atau mendengar seorang pun yang tercipta tanpa seorang
ayah dan seorang ibu. Akan tetapi sains modern saat ini membuktikan bahwa
banyak binatang dan makhluk hidup di dunia ini yang terlahir dan berkembang
biak tanpa proses pembuahan pihak laki-laki (pejantan) dari spesiesnya. Sebagai
contoh, seekor lebah jantan tidak lebih dari sekedar telur yang belum dibuahi,
sedangkan telur yang telah dibuahi (oleh pejantannya) berkembang menjadi lebah
betina (ratu). Selain itu, lebah-lebah jantan tercipta dari telur-telur ratu
lebah yang tidak dibuahi oleh pejantannya. Ada banyak sekali contoh yang
demikian di dunia hewan. Selain itu, manusia saat ini memiliki sarana sains
untuk merangsang telur dari beberapa organisme sehingga telur-telur ini
berkembang tanpa pembuahan dari pejantannya.
Let us read the words of Professor
Goeringer: In another type of approach, unfertilized eggs of many species of
amphibians and lower mammals can be activated by mechanical (such as pricking
with a needle), physical (such as thermal shock), or chemical means by any of a
number of different chemical substances, and continue to advance to stages of
development. In some species, this type of parthenogenetic development is
natural.
Mari kita perhatikan kata-kata Profesor
Goeringer: Dalam beberapa contoh pendekatan, telur-telur yang tidak dibuahi
dari beberapa spesies amfibi dan mamalia tingkat rendah dapat diaktifkan secara
mekanik (seperti penusukan dengan sebuah jarum), secara fisik (seperti kejutan
panas), atau secara kimia dengan pencampuran dari beberapa substansi kimia yang
berbeda, dan berlanjut ke tahap perkembangan. Dalam beberapa spesies, tipe
perkembangan secara parthenogenetic seperti ini adalah alami.
Allah has given us the definitive
answer and he used Adam, whom they believe in, as an example of a human being
who has no father or mother. The Christians regard as deviance the fact that a
human being can be born without a father. Thus, Allah has shown them an analogy
of a human being who had no father and no father, that is, Adam. The Qur’aan says:
The similitude of Jesus before Allah is as that of Adam; He created him from
dust, then said to him: 'Be': and he was. (Qur’aan 3:59).
Allah telah memberitahu kita dengan
jawaban yang jelas dan Dia menggunakan contoh Adam, yang mereka percayai
sebagai contoh manusia yang tercipta tanpa ayah atau ibu. Ummat Kristiani
menganggap penyimpangan fakta bahwa seseorang bisa tercipta tanpa seorang ayah.
Karenanya, Allah menunjukkan kepada mereka sebuah pemisalan dari seorang yang
tercipta tanpa ayah dan tanpa ibu, yaitu, Adam. Al-Quran mengatakan:
Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di
sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari
tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya:'Jadilah' (seorang manusia), maka
jadilah dia.
(Quran 3:59).
(Quran 3:59).
Allah has willed that there be such
scientific advancements and discoveries which provide proof after proof of the
truth which has been revealed in the Qur’aan. It is in this way that the verses
of this glorious book were revealed with the passage of time. The verses become
known to the foremost scholars and scientists of our religion and of
generations to come. Science will never deplete the wonders of the Qur’aan.
Allah berkehendak bahwa didapatkan
perkembangan sains dan penemuan-penemuan dengan bukti-bukti yang mendukung
kebenaran tentang apa yang diwahyukan-Nya di dalam Al-Quran. Dengan cara inilah
ayat-ayat Kitab yang Suci diwahyukan seiring dengan perjalanan waktu. Ayat-ayat
ini diketahui oleh sarjana-sarjana terkemuka dan para ahli sains agama kita dan
generasi-generasi yang akan datang. Sains tidak akan pernah menghabiskan
keajaiban Al-Quran.
And those to whom knowledge has come
see that the (Revelation) sent down to you from your Lord - that is the truth,
and that it guides to the path of the Exalted (In Mighty), worthy of all
praise. (Qur’aan 34:6).
Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli
Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu itulah
yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi
Maha Terpuji.
(Quran 34:6)
(Quran 34:6)
Allah, may He be Exalted and Glorified,
said in the Qur’aan:
And you shall certainly know the truth
of it (all) after a while. (Qur’aan, 38:88).
Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui
(kebenaran) berita Al-Quran setelah beberapa waktu lagi.
(Quran 38:88)
(Quran 38:88)
Allah also said:
For every prophecy is a limit of time,
and soon shall you know it. (Qur’aan 6:67).
Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa
oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.
(Quran 6:67)
(Quran 6:67)
And He said:
Soon will we show them our signs in the
(furthest) regions (of the earth), and in their own souls, until it becomes
manifest to them that this is the truth. Is it not enough that your Lord does
witness all things? (Qur’aan 41:53).
Kami akan memperlihatkan kepada mereka
tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri,
sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu
tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
(Quran 41:53)
(Quran 41:53)
IV. STAGES OF THE
CREATION OF MAN (B)
Bab IV
Tahap-tahap Penciptaan Manusia (B)
Tahap-tahap Penciptaan Manusia (B)
Catatan penerjemah:
Dokumen asli [dalam Bahasa Inggris] dicetak dengan huruf biasa.
Dokumen asli [dalam Bahasa Inggris] dicetak dengan huruf biasa.
Dokumen terjemahan dicetak dengan huruf seperti ini.
The book, 'The Developing Human'
written by Professor Keith Moore has been translated into eight languages. This
book is considered a scientific reference work, and was chosen by a special
committee in the United States as the best book authored by one person. We met
with the author of this book and presented to him many Qur’anic verses and
Prophetic Ahadeeth which deal with his specialization in embryology.
Buku 'The Developing Human
(Perkembangan Manusia)' yang ditulis oleh Profesor Keith Moore telah
diterjemahkan ke dalam delapan bahasa. Buku ini diakui sebagai salah satu buku
referensi sains, dan dipilih oleh sebuah komite khusus di Amerika sebagai buku
terbaik yang ditulis oleh satu orang. Kami bertemu dengan penulis buku ini dan
memperlihatkan kepadanya banyak ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Nabi yang
bertepatan dengan spesialisasinya di bidang embriologi.
Professor Moore was convinced by our
evidence, so we asked him the following question: ‘You mentioned in your book
that in the Middle ages there was no advancement in the science of embryology,
and that only very little was known at that time. At the same time the Qur’an
was being revealed to the Prophet Muhammad (sallallahu ‘alaihi wa sallam), and
he was guiding people according to what Allah revealed to him. There is found
in the Qur’an a very detailed description of the creation of man and of the
different stages of human development.
Profesor Moore dapat kami yakinkan
dengan bukti-bukti yang kami bawa, maka kami menanyakan kepadanya: 'Anda
menyebutkan di dalam buku Anda bahwa di abad pertengahan tak ada kemajuan dalam
ilmu embriologi, dan bahwa hanya sedikit sekali yang diketahui pada waktu itu.
Pada saat yang sama, Al-Quran sedang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, dan
dia membimbing ummat berdasarkan apa yang telah diwahyukan oleh Allah
kepadanya. Juga ditemukan dalam Al-Quran deskripsi yang sangat detail tentang
perkembangan manusia dan tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan manusia.
You are a world renowned scientist, so
why do you not uphold justice and mention these truths in your book?’ He
replied: You have the evidence and not I. So why do you not present it to us?
Anda adalah salah seorang ilmuwan
termasyhur, mengapa Anda tidak menjunjung keadilan dan menyebutkan kebenaran
ini di buku Anda? Dia menjawab: Anda lah yang mempunyai bukti-bukti, bukan
saya. Mengapa bukan Anda saja yang menunjukkannya kepada kami?.
We provided him with the facts and
Professor Moore proved to be a great scholar. In the third edition of his book
he did make some additions. This book has been translated, as we mentioned
previously, into eight languages including Russian, Chinese, Japanese, German,
Italian, Portuguese and Yugoslavian. This book enjoys worldwide distribution
and is read by many of the world’s foremost scientists.
Kami menyediakan fakta-fakta kepadanya
dan Profesor Moore terbukti sebagai salah seorang sarjana yang besar. Di edisi
ketiga dari bukunya, dia membuat beberapa penambahan. Buku ini telah
diterjemahkan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ke dalam delapan
bahasa: Rusia, China, Jepang, Jerman, Italia, Portugis dan Yugoslavia. Buku ini
menikmati distribusi mendunia dan telah dibaca oleh banyak ilmuwan-ilmuwan
penting dunia.
Professor Moore states in his book
about the Middle ages that: Growth of science was slow during the medieval
period, and few high points of embryological investigation undertaken during
this age are known to us. It is cited in the Qur’an, the Holy Book of the
Muslims, that human beings are produced from a mixture of secretions from the
male and the female. Several references are made to the creation of a human
being from a sperm drop, and it is also suggested that the resulting organism
settles in the woman like a seed, six days after its beginning. (The human
blastocyst begins to implant about six days after fertilization. See Figure
4.1)
Profesor Moore menyatakan di dalam
bukunya tentang abad pertengahan: Perkembangan sains sangat lamban selama masa
pertengahan, dan hanya beberapa poin penting yang kita ketahui dalam bidang
embriologi yang diteliti selama masa ini. Disebutkan dalam Al-Quran, Kitab Suci
ummat Islam, bahwa manusia dihasilkan oleh sebuah campuran sekresi (zat yang
dikeluarkan) dari laki-laki dan wanita. Beberapa referensi menyebutkan bahwa
manusia diciptakan dari sebuah tetesan sperma, dan ditunjukkan pula bahwa
organisme hasil pembuahan ini menetap dalam rahim wanita seperti sebuah benih,
enam hari setelah permulaannya (Blastosit manusia mulai ditanamkan enam hari setelah
pembuahan. (Lihat gambar 4.1)

Fig. 4.1
Gambar. 4.1
The Qur’an also states that the sperm
drop develops - into a clot of congealed blood. (An implanted blastocyst or
spontaneously aborted conceptus would resemble a blood clot.) Reference is also
made to the leech-like appearance of the embryo. The embryo is not unlike a
leech, or bloodsucker, in appearance. The embryo is also said to resemble – a
chewed piece of substance - like gum or wood. (Somites somewhat resemble the
teeth marks in a chewed substance - see Fig. 4.2).
Al-Quran juga menyatakan bahwa tetesan
sperma berkembang - menjadi sebuah gumpalan darah yang membeku. (Sebuah
blastosit yang tertanam atau orok (conceptus) yang gugur secara mendadak akan
menyerupai sebuah gumpalan darah). Referensi dalam Al-Quran juga menyebutkannya
sebagai penampakan seperti-lintah pada embrio. Embrio juga dikatakan menyerupai
- sebuah benda yang dikunyah - seperti permen karet atau kayu. (Somites agak
menyerupai bekas gigi pada benda yang dikunyah - lihat Gambar 4.2).

Fig. 4.2
Gambar 4.2
The developing embryo was considered to
be human at 40 to 42 days and no longer resemble an animal embryo at this
stage.(See Fig. 4.3) (The human embryo begins to acquire human characteristics
at this stage). The Qur’an also states that the embryo develops with - three
veils of darkness. This probably refers to (1) the maternal anterior abdominal
wall, (2) the uterine wall, and (3) the amniochorionic membrane. (see Fig. 4.4)
Space does not permit discussion of several other interesting references to
human prenatal development that appear in the Qur’an.
Embrio yang berkembang bisa dianggap
sebagai manusia pada hari ke-40 atau ke-42 dan tidak lagi menyerupai hewan pada
tahap ini. (Lihat Gambar 4.3) (Embrio manusia mulai mendapatkan karakteristik
manusia pada tahap ini). Al-Quran juga menyebutkan bahwa embrio berkembang
dalam - tiga dinding kegelapan. Mungkin hal ini berkenaan dengan (1) dinding
abdomin muka, (2) dinding rahim, dan (3) selaput amniochorionic. (Lihat Gambar
4.4) Ruang yang tersedia tidak memungkinkan untuk mendiskusikan beberapa
referensi yang menarik pada perkembangan dalam masa sebelum kelahiran manusia
yang disebutkan di dalam Al-Quran.

Fig. 4.3
Gambar. 4.3

Gambar 4.4
Figure 4.4
This is what Dr. Moore has written in
his book, praise be to Allah, and which is now being distributed throughout the
world. Scientific knowledge has made it incumbent upon Professor Moore to
mention this in his book. He has concluded that the modern classification of
embryonic development stages, which is adopted throughout the world, is not
easy or comprehensive. It does not contribute to the understanding of the
embryonic stages of development because those stages are on a numerical basis,
that is, stage 1, stage 2, stage 3, etc. The divisions that have been revealed
in the Qur’an do not depend on a numerical system. Rather they are based on the
distinct and easily identifiable forms or shapes which the embryo passes
through.
Inilah yang ditulis Dr. Moore di dalam
bukunya, segala puji bagi Allah, dan saat ini sedang disebarkan ke seluruh
dunia. Pengetahuan ilmiah telah membebankan tanggung jawab bagi Profesor Moore
untuk menyebutkan hal ini di dalam bukunya. Dia telah menyimpulkan bahwa
pengklasifikasian tahap perkembangan embrio modern, yang diadopsi seluruh
dunia, tidaklah mudah dicerna dan tidak komprehensif. Pengklasifikasian yang
ditawarkan ini tidak mengena dalam menjelaskan tahap-tahap embrionik karena
tahap-tahap ini dinyatakan secara numerik, yaitu tahap 1, tahap 2, tahap 3,
dsb. Pembagian yang diwahyukan dalam Al-Quran tidak bergantung pada sistem
numerik. Akan tetapi didasarkan pada kejelasan dan kemudah-diidentifikasikannya
rupa atau bentuk yang dilewati oleh embrio.
The Qur’an identifies the stages of
pre-natal development as follows: Nutfah, which means 'a drop' or 'small amount
of water'; ‘alaqah which means a 'leech-like structure'; mudghah, which means a
'chewed-like structure'; ‘idhaam, which means 'bones' or 'skeletons'; kisaa ul
idham bil-laham, which means the clothing of bones with flesh or muscle, and
al-nash'a which means 'the formation of distinct fetus'. Professor Moore has
recognized that these Qur’anic divisions are actually based on the different
phases of pre-natal development. He has noted that these divisions provide
elegant scientific descriptions that are comprehensible and practical.
Al-Quran menjelaskan tahap-tahap
perkembangan sebelum kelahiran sebagai berikut: nutfah, yang berarti
'sebuah tetesan' atau 'sejumlah kecil air'; 'alaqah yang berati sebuah
'struktur yang mirip-lintah'; mudghah, yang berarti sebuah 'benda yang
dikunyah'; 'idhaam, yang berarti 'tulang' atau 'kerangka'; kisaa ul
idham bil-laham, yang berarti 'penutupan tulang dengan daging atau otot',
dan al-nash'a yang berarti 'pembentukan janin yang jelas'. Profesor
Moore telah mengenali bahwa pembagian secara Al-Quran ini sebenarnya
berdasarkan pada fase-fase yang berbeda dalam pertumbuhan janin sebelum
dilahirkan. Dia telah menyatakan bahwa pembagian dengan metoda ini menghasilkan
deskripsi secara ilmiah yang lebih luwes, elegan, mudah difahami dan praktis
[dari pada dengan sistem numerik di atas, pent.]
In one of the conferences he attended,
Professor Moore stated the following: The embryo develops in the mother’s womb
or uterus protected by three veils, or layers, as shown in this next slide
[exact slide not shown - Ed.]. (A) represents the anterior abdominal wall, (B)
the uterine wall, and the (C) the amniochorionic membrane. (see Figure 4.5)
Because the staging of human embryo is complex, owing to the continuous process
of change during development, it is proposed that a new system of
classification could be developed using the terms mentioned in the Qur’an and
Sunnah. The proposed system is simple, comprehensive, and conforms with present
embryological knowledge.
Dalam salah satu konferensi yang
dihadirinya, Profesor Moore menyatakan sebagai berikut: 'Embrio berkembang
dalam rahim wanita atau uterus dilindungi oleh tiga dinding, atau tiga lapisan,
sebagaimana terlihat pada slide berikutnya [slide asli tidak ditampakkan -
Ed.]. (A) menggambarkan dinding abdomin muka, (B) dinding rahim, dan (C)
selaput amniochorionic. (lihat gambar 4.5) Karena rumitnya pentahapan embrio
manusia, melalui proses perubahan yang terus-menerus selama perkembangan, dapat
diajukan sebuah sistem pengklasifikasian baru dengan menggunakan tahap-tahap
yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Sistem yang diajukan lebih
sederhana, luwes, dan sesuai dengan pengetahuan embriologi saat ini.

Fig. 4.5
Gambar 4.5
The intensive studies of the Qur’an and
Ahadeeth in the last four years have revealed a system of classifying human
embryos that is amazing since it was recorded in the seventh century A.D.
Although Aristotle, the founder of the science of embryology, realized that
chick embryos developed in stages from his studies of hens’ eggs in the fourth
century B.C., he did not give any details about these stages. As far as it is
known from the history of embryology, little was known about staging and classification
of human embryos until the twentieth century. For this reason, the descriptions
of the human embryo in the Qur’an cannot be based on scientific knowledge in
the seventh century. The only reasonable conclusion is that these descriptions
were revealed to Muhammad from Allah. He could not have known such details
because he was an unlettered man with absolutely no scientific training.
Studi intensif terhadap Al-Quran dan
Hadits dalam empat tahun terakhir ini menunjukkan sebuah sistem pengklasifikasian
embrio manusia yang mengagumkan sejak hal ini direkam pada abad ke-7. Meskipun
Aristotle, penemu sains embriologi, menyadari bahwa embrio ayam berkembang
dalam tahap-tahap tertentu dari penelitiannya terhadap telur ayam pada abad
ke-4 SM., dia tidak memberikan klasifikasi detail mengenai tahap-tahap ini.
Sejauh yang diketahui dari sejarah embriologi, sangat sedikit yang diketahui
tentang pentahapan dan pengklasifikasian embrio manusia hingga abad ke-20.
Dengan alasan ini, deskripsi embrio manusia dalam Al-Quran tidak bisa
didasarkan pada pengetahuan ilmiah (sains) pada abad ke-7 (yaitu pada masa
Al-Quran diturunkan). Kesimpulan yang paling masuk akal adalah bahwa deskripsi
ini diwahyukan kepada Muhammad saw dari Allah. Dia tidak mungkin memiliki pengetahuan
sedetail itu karena dia tidak bisa menulis dan tidak pernah mendapatkan
pelatihan ilmiah.
We told Dr. Moore, ‘What you have said
is true, but it is far less than the truth and evidence we have presented to
you from the Qur’an and the Sunnah and which are related to the science of
embryology. So why not do justice and completely bring to light all the
Qur’anic verses and Ahadeeth which deal with your field of specialization?’.
Kami mengatakan kepada Dr. Moore, 'Apa
yang Anda katakan adalah benar, akan tetapi ini lebih dari sekedar kebenaran
dan bukti yang telah kami ditunjukkan dari Al-Quran dan Sunnah yang berhubungan
dengan ilmu embriologi. Mengapa kita tidak menjunjung tinggi nilai keadilan dan
kita bawa cahaya Al-Quran dan Hadits yang yang berhubungan dengan bidang
spesialisasi Anda secara keseluruhan?'.
Professor Moore said that he has
inserted the appropriate references at the appropriate places in a specialized
scientific book. However, he would invite us to make some Islamic additions,
citing all the relevant Qur’anic verses and the prophetic ahadeeth, and
highlighting their various miraculous aspects, to be incorporated at
appropriate places in the book. This was done, and consequently, Professor
Moore wrote an introduction to these Islamic additions and the result was this
one which you see here before you. On each page that includes facts about the
science of embryology, we have cited the Qur’anic verses and Prophetic Ahadeeth
which prove the inimitability of the Qur’an and Sunnah. What we are witnessing
today is Islam moving to new grounds within fair and unbiased human minds.
Profesor Moore mengatakan bahwa dia
telah memasukkan referensi yang tepat di tempat yang semestinya dalam sebuah
buku sains khusus. Akan tetapi, dia akan mengajak kami untuk membuat
tambahan-tambahan islami, mengutip semua ayat Al-Quran yang sesuai dan Hadits,
kemudian menyorot berbagai aspek yang menakjubkan, agar bisa dipadukan pada
tempat yang tepat dalam sebuah buku. Hal ini telah dilakukan, dan secara
konsekwen, Profesor Moore menulis sebuah perkenalan kepada tambahan yang islami
ini dan hasilnya adalah yang sedang Anda lihat di sini. Pada setiap halaman
yang memasukkan fakta tentang sains embriologi, kami telah mengutip ayat-ayat
Al-Quran dan Hadits yang membuktikan kemustahilan ditirunya Al-Quran dan
Sunnah. Apa yang kita saksikan hari ini adalah Islam bergerak ke arena yang
baru di dalam alam fikiran manusia yang tidak bias dan adil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar