Jumat, 18 November 2011

The Embrionic Phases

V. THE EMBRYONIC PHASES
Bab V
Fase Embrio


Catatan penerjemah:
Dokumen asli [dalam Bahasa Inggris] dicetak dengan huruf biasa.
Dokumen terjemahan dicetak dengan huruf seperti ini.

We present to you Dr. G.C. Goeringer, Course Director and Associate Professor of Medical Embryology at the Department of Cell Biology, School of Medicine, Georgetown University, Washington, D.C.. We met with him and asked him whether in the history of embryology there was any mention of the different stages of embryonic development and whether there were any books on embryology at the time of the Prophet Muhammad (sallallahu ‘alaihi wa sallam) or the centuries after him which mention these various stages, or whether the division into these different stages only came to be known in the middle of the nineteenth century. He said that the ancient Greeks were concerned with the study of embryology and many of them attempted to describe what happens to the fetus and how it develops. We agreed with him that Aristotle, among others, attempted to expound some theories on the subject, but was there any mention made of these stages?
Kami hadirkan, Dr. G.C. Goeringer, Direktur Kursus dan Profesor Kepala Embriologi Kedokteran di Departemen Biologi Sel, Sekolah Kedokteran, Universitas Georgetown, Washington, D.C.. Kami bertemu dengan dia dan menanyakan kepadanya apakah dalam sejarah embriologi dikenal atau disebutkan tentang adanya tahap-tahap yang berbeda dari masa perkembangan embriologi dan apakah ada buku-buku di bidang embriologi pada masa kenabian Muhammad atau beberapa abad setelahnya yang menyebutkan tahap-tahap yang berbeda ini, atau apakah pembagian ke dalam beberapa tahap hanya ditemukan di pertengahan abad ke sembilan belas saja? Dia mengatakan bahwa Yunani Kuno telah tertarik untuk mempelajari embriologi dan banyak diantara mereka mencoba untuk menjelaskan apa yang terjadi terhadap janin dan bagaimana janin itu berkembang. Kami setuju dengan pernyataan ini bahwa Aristotle, diantara yang lainnya, mencoba untuk menjelaskan beberapa teori dalam subyek ini, akan tetapi apakah dalam teori-teori tersebut telah disebutkan tentang tahap-tahap ini?
We know that these stages were known until the middle of the nineteenth century and were not proven until the beginning of the twentieth century. After a long discussion, Professor Goeringer concurred that there was no mention of these phases. Thus we asked him if there was any specific terminology applied to these phases similar to that found in the Qur’aan. His reply was negative. We asked him: ‘What is your opinion on these terms which the Qur’aan uses to describe the phases which the fetus goes through?’ After long discussions, he presented a study at the 8th Saudi Medical Conference. He mentioned in the study man's basic ignorance of these phases. He also discussed the comprehensiveness and precision of these Qur’aanic terms in describing the development of the fetus by means of concise and comprehensive terms which convey far reaching truth. Let us listen to Professor Goeringer as he explains his opinion:
Kami mengetahui bahwa tahap-tahap ini belum diketahui sampai pertengahan abad sembilan belas dan belum dibuktikan sampai pada awal abad ke dua puluh. Setelah diskusi yang cukup lama, Profesor Goeringer menyetujui bahwa tahap-tahap ini belum pernah disebutkan sebelumnya. Karenanya, kami menanyakan kepadanya apakah pernah ada terminologi yang khusus diterapkan pada tahap-tahap ini yang serupa dengan yang ada di Al-Quran? Dia menjawab: Negatif (tidak ada). Kami menanyakan: 'Bagaimana pendapat Anda tentang topik tahap-tahap perkembangan janin yang dijelaskan dalam Al-Quran?' Setelah melalui diskusi yang lama, dia menunjukkan sebuah studi pada abad ke-8 dalam Konferensi Kedokteran Saudi. Dia menyebutkan dalam studi ini tentang ketidakpedulian (kebodohan) manusia terhadap tahap-tahap ini. Dia juga mendiskusikan keakuratan dan kejelian pembagian menurut Al-Quran dalam menjelaskan perkembangan janin dengan cara yang ringkas dan dengan istilah yang mudah dimengerti. Mari kita dengarkan Profesor Goeringer menjelaskan pendapatnya:
In a relatively few Aayahs (Qur’aanic verses), is contained a rather comprehensive description of human development from the time of the commingling of the gametes through organogenesis. No such distinct and complete record of human development such as classification, terminology, and description existed previously. In most, if not all, instances, this description antedates by many centuries the recording of the various stages of human embryonic and fetal development recorded in the traditional scientific literature.
Pada beberapa ayat (Al-Quran), terdapat penjabaran yang lebih lengkap tentang perkembangan manusia dari waktu penggabungan gamet sampai dengan organogenesis. Rekaman yang terpisah dengan jelas dan lengkap dalam pengklasifikasian, terminologi, dan deskripsi perkembangan manusia belum pernah ditemukan sebelumnya. Pada kebanyakan contoh, -- jika tidak semuanya, -- deskripsi tentang pentahapan embrio manusia dan perkembangan janin ini muncul beberapa abad lebih dahulu daripada literatur sains tradisional.
The discussion with Professor Goeringer led us to talk about a fact which was discovered recently and which would eliminate any controversy. Although the virgin birth of Christ has been a Christian belief for centuries, some among the Christians insist that Christ must have had a father, as a virgin birth is 'scientifically impossible'. They argue this, and perhaps they do not know, that there could be a creation without a father. The Qur’aan replied to them and has used as an example the creation of Adam. Allah said: The similitude of Jesus before Allah is as that of Adam; He created him from dust, then said to him: 'Be': And he was. (Qur’aan 3:59).
Diskusi dengan Profesor Goeringer telah mendorong kami untuk membicarakan tentang sebuah fakta yang baru saja ditemukan belakangan ini yang akan mengurangi kontroversi. Meskipun kelahiran Yesus dari perawan (Maria) menjadi bagian dari keyakinan ummat kristiani selama beberapa abad, beberapa diantara mereka bersikeras mengatakan bahwa Yesus pasti mempunyai seorang ayah, karena kelahiran dari seorang perawan adalah 'tidak mungkin secara sains'. Mereka memperdebatkan ini karena mungkin mereka tidak mengetahui adanya kemungkinan penciptaan tanpa seorang ayah. Al-Quran menjawab mereka dan telah menggunakan sebuah contoh tentang penciptaan Adam. Allah berfirman:
'Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya: 'Jadilah' (seorang manusia), maka jadilah dia.
(Quran 3:59)
.
There are three types of creation:
  1. Adam, who was created without a mother or father
  2. Eve, who was created without a mother
  3. Jesus Christ, who was created without a father
Ada tiga macam penciptaan:
  1. Adam, yang diciptakan tanpa seorang ibu atau ayah
  2. Hawa (Eve), yang diciptakan tanpa seorang ibu
  3. Yesus Kristus (Isa), yang diciptakan tanpa seorang ayah
Therefore, the One who was able to create Adam without a father or a mother is also able to create Jesus from a mother and without a father. In spite of this, the Christians still continue to argue even though Allah has sent them evidence after evidence and proof after proof. Then when they are asked why they persist in this controversy, they reply that they have never seen or heard of anybody being created without a father and a mother. But modern science now revealed that many animals and beings in this world are born and reproduced without fertilization from the male of the species. For example, a male bee is no more than an egg which has not been fertilized by the male, whereas the egg which has been fertilized by the male functions as a female. Moreover, male bees are created from the eggs of the queen but without fertilization by a male. There are many other examples such as this in the animal world. Moreover, man today has the scientific means of stimulating the female's egg of some organisms so that this egg develops without fertilization by a male.
Oleh karenanya, Dzat yang bisa menciptakan Adam tanpa seorang ayah atau pun juga seorang ibu juga bisa menciptakan Yesus dari seorang ibu dan tanpa seorang ayah. Meskipun demikian, ummat Kristiani akan terus memperdebatkan meskipun Allah telah mengirimkan kepada mereka tanda-tanda dan bukti-bukti yang menguatkan. Ketika mereka ditanya mengapa mereka tetap dalam persengketaan, mereka menjawab bahwa mereka belum pernah melihat atau mendengar seorang pun yang tercipta tanpa seorang ayah dan seorang ibu. Akan tetapi sains modern saat ini membuktikan bahwa banyak binatang dan makhluk hidup di dunia ini yang terlahir dan berkembang biak tanpa proses pembuahan pihak laki-laki (pejantan) dari spesiesnya. Sebagai contoh, seekor lebah jantan tidak lebih dari sekedar telur yang belum dibuahi, sedangkan telur yang telah dibuahi (oleh pejantannya) berkembang menjadi lebah betina (ratu). Selain itu, lebah-lebah jantan tercipta dari telur-telur ratu lebah yang tidak dibuahi oleh pejantannya. Ada banyak sekali contoh yang demikian di dunia hewan. Selain itu, manusia saat ini memiliki sarana sains untuk merangsang telur dari beberapa organisme sehingga telur-telur ini berkembang tanpa pembuahan dari pejantannya.
Let us read the words of Professor Goeringer: In another type of approach, unfertilized eggs of many species of amphibians and lower mammals can be activated by mechanical (such as pricking with a needle), physical (such as thermal shock), or chemical means by any of a number of different chemical substances, and continue to advance to stages of development. In some species, this type of parthenogenetic development is natural.
Mari kita perhatikan kata-kata Profesor Goeringer: Dalam beberapa contoh pendekatan, telur-telur yang tidak dibuahi dari beberapa spesies amfibi dan mamalia tingkat rendah dapat diaktifkan secara mekanik (seperti penusukan dengan sebuah jarum), secara fisik (seperti kejutan panas), atau secara kimia dengan pencampuran dari beberapa substansi kimia yang berbeda, dan berlanjut ke tahap perkembangan. Dalam beberapa spesies, tipe perkembangan secara parthenogenetic seperti ini adalah alami.
Allah has given us the definitive answer and he used Adam, whom they believe in, as an example of a human being who has no father or mother. The Christians regard as deviance the fact that a human being can be born without a father. Thus, Allah has shown them an analogy of a human being who had no father and no father, that is, Adam. The Qur’aan says: The similitude of Jesus before Allah is as that of Adam; He created him from dust, then said to him: 'Be': and he was. (Qur’aan 3:59).
Allah telah memberitahu kita dengan jawaban yang jelas dan Dia menggunakan contoh Adam, yang mereka percayai sebagai contoh manusia yang tercipta tanpa ayah atau ibu. Ummat Kristiani menganggap penyimpangan fakta bahwa seseorang bisa tercipta tanpa seorang ayah. Karenanya, Allah menunjukkan kepada mereka sebuah pemisalan dari seorang yang tercipta tanpa ayah dan tanpa ibu, yaitu, Adam. Al-Quran mengatakan:
Sesungguhnya misal (penciptaan) 'Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, kemudian Allah berfirman kepadanya:'Jadilah' (seorang manusia), maka jadilah dia.
(Quran 3:59)
.
Allah has willed that there be such scientific advancements and discoveries which provide proof after proof of the truth which has been revealed in the Qur’aan. It is in this way that the verses of this glorious book were revealed with the passage of time. The verses become known to the foremost scholars and scientists of our religion and of generations to come. Science will never deplete the wonders of the Qur’aan.
Allah berkehendak bahwa didapatkan perkembangan sains dan penemuan-penemuan dengan bukti-bukti yang mendukung kebenaran tentang apa yang diwahyukan-Nya di dalam Al-Quran. Dengan cara inilah ayat-ayat Kitab yang Suci diwahyukan seiring dengan perjalanan waktu. Ayat-ayat ini diketahui oleh sarjana-sarjana terkemuka dan para ahli sains agama kita dan generasi-generasi yang akan datang. Sains tidak akan pernah menghabiskan keajaiban Al-Quran.
And those to whom knowledge has come see that the (Revelation) sent down to you from your Lord - that is the truth, and that it guides to the path of the Exalted (In Mighty), worthy of all praise. (Qur’aan 34:6).
Dan orang-orang yang diberi ilmu (Ahli Kitab) berpendapat bahwa wahyu yang diturunkan kepadamu dari Tuhan-mu itulah yang benar dan menunjuki (manusia) kepada jalan Tuhan Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji.
(Quran 34:6)
Allah, may He be Exalted and Glorified, said in the Qur’aan:
And you shall certainly know the truth of it (all) after a while. (Qur’aan, 38:88).
Dan sesungguhnya kamu akan mengetahui (kebenaran) berita Al-Quran setelah beberapa waktu lagi.
(Quran 38:88)
Allah also said:
For every prophecy is a limit of time, and soon shall you know it. (Qur’aan 6:67).
Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui.
(Quran 6:67)
And He said:
Soon will we show them our signs in the (furthest) regions (of the earth), and in their own souls, until it becomes manifest to them that this is the truth. Is it not enough that your Lord does witness all things? (Qur’aan 41:53).
Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al-Quran itu benar. Dan apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu?
(Quran 41:53)
IV. STAGES OF THE CREATION OF MAN (B)
Bab IV
Tahap-tahap Penciptaan Manusia (B)


Catatan penerjemah:
Dokumen asli [dalam Bahasa Inggris] dicetak dengan huruf biasa.
Dokumen terjemahan dicetak dengan huruf seperti ini.

The book, 'The Developing Human' written by Professor Keith Moore has been translated into eight languages. This book is considered a scientific reference work, and was chosen by a special committee in the United States as the best book authored by one person. We met with the author of this book and presented to him many Qur’anic verses and Prophetic Ahadeeth which deal with his specialization in embryology.
Buku 'The Developing Human (Perkembangan Manusia)' yang ditulis oleh Profesor Keith Moore telah diterjemahkan ke dalam delapan bahasa. Buku ini diakui sebagai salah satu buku referensi sains, dan dipilih oleh sebuah komite khusus di Amerika sebagai buku terbaik yang ditulis oleh satu orang. Kami bertemu dengan penulis buku ini dan memperlihatkan kepadanya banyak ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Nabi yang bertepatan dengan spesialisasinya di bidang embriologi.
Professor Moore was convinced by our evidence, so we asked him the following question: ‘You mentioned in your book that in the Middle ages there was no advancement in the science of embryology, and that only very little was known at that time. At the same time the Qur’an was being revealed to the Prophet Muhammad (sallallahu ‘alaihi wa sallam), and he was guiding people according to what Allah revealed to him. There is found in the Qur’an a very detailed description of the creation of man and of the different stages of human development.
Profesor Moore dapat kami yakinkan dengan bukti-bukti yang kami bawa, maka kami menanyakan kepadanya: 'Anda menyebutkan di dalam buku Anda bahwa di abad pertengahan tak ada kemajuan dalam ilmu embriologi, dan bahwa hanya sedikit sekali yang diketahui pada waktu itu. Pada saat yang sama, Al-Quran sedang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw, dan dia membimbing ummat berdasarkan apa yang telah diwahyukan oleh Allah kepadanya. Juga ditemukan dalam Al-Quran deskripsi yang sangat detail tentang perkembangan manusia dan tahap-tahap yang berbeda dari perkembangan manusia.
You are a world renowned scientist, so why do you not uphold justice and mention these truths in your book?’ He replied: You have the evidence and not I. So why do you not present it to us?
Anda adalah salah seorang ilmuwan termasyhur, mengapa Anda tidak menjunjung keadilan dan menyebutkan kebenaran ini di buku Anda? Dia menjawab: Anda lah yang mempunyai bukti-bukti, bukan saya. Mengapa bukan Anda saja yang menunjukkannya kepada kami?.
We provided him with the facts and Professor Moore proved to be a great scholar. In the third edition of his book he did make some additions. This book has been translated, as we mentioned previously, into eight languages including Russian, Chinese, Japanese, German, Italian, Portuguese and Yugoslavian. This book enjoys worldwide distribution and is read by many of the world’s foremost scientists.
Kami menyediakan fakta-fakta kepadanya dan Profesor Moore terbukti sebagai salah seorang sarjana yang besar. Di edisi ketiga dari bukunya, dia membuat beberapa penambahan. Buku ini telah diterjemahkan, sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, ke dalam delapan bahasa: Rusia, China, Jepang, Jerman, Italia, Portugis dan Yugoslavia. Buku ini menikmati distribusi mendunia dan telah dibaca oleh banyak ilmuwan-ilmuwan penting dunia.
Professor Moore states in his book about the Middle ages that: Growth of science was slow during the medieval period, and few high points of embryological investigation undertaken during this age are known to us. It is cited in the Qur’an, the Holy Book of the Muslims, that human beings are produced from a mixture of secretions from the male and the female. Several references are made to the creation of a human being from a sperm drop, and it is also suggested that the resulting organism settles in the woman like a seed, six days after its beginning. (The human blastocyst begins to implant about six days after fertilization. See Figure 4.1)
Profesor Moore menyatakan di dalam bukunya tentang abad pertengahan: Perkembangan sains sangat lamban selama masa pertengahan, dan hanya beberapa poin penting yang kita ketahui dalam bidang embriologi yang diteliti selama masa ini. Disebutkan dalam Al-Quran, Kitab Suci ummat Islam, bahwa manusia dihasilkan oleh sebuah campuran sekresi (zat yang dikeluarkan) dari laki-laki dan wanita. Beberapa referensi menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari sebuah tetesan sperma, dan ditunjukkan pula bahwa organisme hasil pembuahan ini menetap dalam rahim wanita seperti sebuah benih, enam hari setelah permulaannya (Blastosit manusia mulai ditanamkan enam hari setelah pembuahan. (Lihat gambar 4.1)
blastocyst.JPG (19708 bytes)
Fig. 4.1
Gambar. 4.1
The Qur’an also states that the sperm drop develops - into a clot of congealed blood. (An implanted blastocyst or spontaneously aborted conceptus would resemble a blood clot.) Reference is also made to the leech-like appearance of the embryo. The embryo is not unlike a leech, or bloodsucker, in appearance. The embryo is also said to resemble – a chewed piece of substance - like gum or wood. (Somites somewhat resemble the teeth marks in a chewed substance - see Fig. 4.2).
Al-Quran juga menyatakan bahwa tetesan sperma berkembang - menjadi sebuah gumpalan darah yang membeku. (Sebuah blastosit yang tertanam atau orok (conceptus) yang gugur secara mendadak akan menyerupai sebuah gumpalan darah). Referensi dalam Al-Quran juga menyebutkannya sebagai penampakan seperti-lintah pada embrio. Embrio juga dikatakan menyerupai - sebuah benda yang dikunyah - seperti permen karet atau kayu. (Somites agak menyerupai bekas gigi pada benda yang dikunyah - lihat Gambar 4.2).
http://abdshomad.8m.com/offline/www.it-is-truth.org/images/1mosomitephoto.gif
Fig. 4.2
Gambar 4.2
The developing embryo was considered to be human at 40 to 42 days and no longer resemble an animal embryo at this stage.(See Fig. 4.3) (The human embryo begins to acquire human characteristics at this stage). The Qur’an also states that the embryo develops with - three veils of darkness. This probably refers to (1) the maternal anterior abdominal wall, (2) the uterine wall, and (3) the amniochorionic membrane. (see Fig. 4.4) Space does not permit discussion of several other interesting references to human prenatal development that appear in the Qur’an.
Embrio yang berkembang bisa dianggap sebagai manusia pada hari ke-40 atau ke-42 dan tidak lagi menyerupai hewan pada tahap ini. (Lihat Gambar 4.3) (Embrio manusia mulai mendapatkan karakteristik manusia pada tahap ini). Al-Quran juga menyebutkan bahwa embrio berkembang dalam - tiga dinding kegelapan. Mungkin hal ini berkenaan dengan (1) dinding abdomin muka, (2) dinding rahim, dan (3) selaput amniochorionic. (Lihat Gambar 4.4) Ruang yang tersedia tidak memungkinkan untuk mendiskusikan beberapa referensi yang menarik pada perkembangan dalam masa sebelum kelahiran manusia yang disebutkan di dalam Al-Quran.
http://abdshomad.8m.com/offline/www.it-is-truth.org/images/head40.jpg
Fig. 4.3
Gambar. 4.3
2mophotolabeled.gif (75275 bytes)
Gambar 4.4
Figure 4.4
This is what Dr. Moore has written in his book, praise be to Allah, and which is now being distributed throughout the world. Scientific knowledge has made it incumbent upon Professor Moore to mention this in his book. He has concluded that the modern classification of embryonic development stages, which is adopted throughout the world, is not easy or comprehensive. It does not contribute to the understanding of the embryonic stages of development because those stages are on a numerical basis, that is, stage 1, stage 2, stage 3, etc. The divisions that have been revealed in the Qur’an do not depend on a numerical system. Rather they are based on the distinct and easily identifiable forms or shapes which the embryo passes through.
Inilah yang ditulis Dr. Moore di dalam bukunya, segala puji bagi Allah, dan saat ini sedang disebarkan ke seluruh dunia. Pengetahuan ilmiah telah membebankan tanggung jawab bagi Profesor Moore untuk menyebutkan hal ini di dalam bukunya. Dia telah menyimpulkan bahwa pengklasifikasian tahap perkembangan embrio modern, yang diadopsi seluruh dunia, tidaklah mudah dicerna dan tidak komprehensif. Pengklasifikasian yang ditawarkan ini tidak mengena dalam menjelaskan tahap-tahap embrionik karena tahap-tahap ini dinyatakan secara numerik, yaitu tahap 1, tahap 2, tahap 3, dsb. Pembagian yang diwahyukan dalam Al-Quran tidak bergantung pada sistem numerik. Akan tetapi didasarkan pada kejelasan dan kemudah-diidentifikasikannya rupa atau bentuk yang dilewati oleh embrio.
The Qur’an identifies the stages of pre-natal development as follows: Nutfah, which means 'a drop' or 'small amount of water'; ‘alaqah which means a 'leech-like structure'; mudghah, which means a 'chewed-like structure'; ‘idhaam, which means 'bones' or 'skeletons'; kisaa ul idham bil-laham, which means the clothing of bones with flesh or muscle, and al-nash'a which means 'the formation of distinct fetus'. Professor Moore has recognized that these Qur’anic divisions are actually based on the different phases of pre-natal development. He has noted that these divisions provide elegant scientific descriptions that are comprehensible and practical.
Al-Quran menjelaskan tahap-tahap perkembangan sebelum kelahiran sebagai berikut: nutfah, yang berarti 'sebuah tetesan' atau 'sejumlah kecil air'; 'alaqah yang berati sebuah 'struktur yang mirip-lintah'; mudghah, yang berarti sebuah 'benda yang dikunyah'; 'idhaam, yang berarti 'tulang' atau 'kerangka'; kisaa ul idham bil-laham, yang berarti 'penutupan tulang dengan daging atau otot', dan al-nash'a yang berarti 'pembentukan janin yang jelas'. Profesor Moore telah mengenali bahwa pembagian secara Al-Quran ini sebenarnya berdasarkan pada fase-fase yang berbeda dalam pertumbuhan janin sebelum dilahirkan. Dia telah menyatakan bahwa pembagian dengan metoda ini menghasilkan deskripsi secara ilmiah yang lebih luwes, elegan, mudah difahami dan praktis [dari pada dengan sistem numerik di atas, pent.]
In one of the conferences he attended, Professor Moore stated the following: The embryo develops in the mother’s womb or uterus protected by three veils, or layers, as shown in this next slide [exact slide not shown - Ed.]. (A) represents the anterior abdominal wall, (B) the uterine wall, and the (C) the amniochorionic membrane. (see Figure 4.5) Because the staging of human embryo is complex, owing to the continuous process of change during development, it is proposed that a new system of classification could be developed using the terms mentioned in the Qur’an and Sunnah. The proposed system is simple, comprehensive, and conforms with present embryological knowledge.
Dalam salah satu konferensi yang dihadirinya, Profesor Moore menyatakan sebagai berikut: 'Embrio berkembang dalam rahim wanita atau uterus dilindungi oleh tiga dinding, atau tiga lapisan, sebagaimana terlihat pada slide berikutnya [slide asli tidak ditampakkan - Ed.]. (A) menggambarkan dinding abdomin muka, (B) dinding rahim, dan (C) selaput amniochorionic. (lihat gambar 4.5) Karena rumitnya pentahapan embrio manusia, melalui proses perubahan yang terus-menerus selama perkembangan, dapat diajukan sebuah sistem pengklasifikasian baru dengan menggunakan tahap-tahap yang disebutkan dalam Al-Quran dan Sunnah. Sistem yang diajukan lebih sederhana, luwes, dan sesuai dengan pengetahuan embriologi saat ini.
http://abdshomad.8m.com/offline/www.it-is-truth.org/images/3moswlabels.gif
Fig. 4.5
Gambar 4.5
The intensive studies of the Qur’an and Ahadeeth in the last four years have revealed a system of classifying human embryos that is amazing since it was recorded in the seventh century A.D. Although Aristotle, the founder of the science of embryology, realized that chick embryos developed in stages from his studies of hens’ eggs in the fourth century B.C., he did not give any details about these stages. As far as it is known from the history of embryology, little was known about staging and classification of human embryos until the twentieth century. For this reason, the descriptions of the human embryo in the Qur’an cannot be based on scientific knowledge in the seventh century. The only reasonable conclusion is that these descriptions were revealed to Muhammad from Allah. He could not have known such details because he was an unlettered man with absolutely no scientific training.
Studi intensif terhadap Al-Quran dan Hadits dalam empat tahun terakhir ini menunjukkan sebuah sistem pengklasifikasian embrio manusia yang mengagumkan sejak hal ini direkam pada abad ke-7. Meskipun Aristotle, penemu sains embriologi, menyadari bahwa embrio ayam berkembang dalam tahap-tahap tertentu dari penelitiannya terhadap telur ayam pada abad ke-4 SM., dia tidak memberikan klasifikasi detail mengenai tahap-tahap ini. Sejauh yang diketahui dari sejarah embriologi, sangat sedikit yang diketahui tentang pentahapan dan pengklasifikasian embrio manusia hingga abad ke-20. Dengan alasan ini, deskripsi embrio manusia dalam Al-Quran tidak bisa didasarkan pada pengetahuan ilmiah (sains) pada abad ke-7 (yaitu pada masa Al-Quran diturunkan). Kesimpulan yang paling masuk akal adalah bahwa deskripsi ini diwahyukan kepada Muhammad saw dari Allah. Dia tidak mungkin memiliki pengetahuan sedetail itu karena dia tidak bisa menulis dan tidak pernah mendapatkan pelatihan ilmiah.
We told Dr. Moore, ‘What you have said is true, but it is far less than the truth and evidence we have presented to you from the Qur’an and the Sunnah and which are related to the science of embryology. So why not do justice and completely bring to light all the Qur’anic verses and Ahadeeth which deal with your field of specialization?’.
Kami mengatakan kepada Dr. Moore, 'Apa yang Anda katakan adalah benar, akan tetapi ini lebih dari sekedar kebenaran dan bukti yang telah kami ditunjukkan dari Al-Quran dan Sunnah yang berhubungan dengan ilmu embriologi. Mengapa kita tidak menjunjung tinggi nilai keadilan dan kita bawa cahaya Al-Quran dan Hadits yang yang berhubungan dengan bidang spesialisasi Anda secara keseluruhan?'.
Professor Moore said that he has inserted the appropriate references at the appropriate places in a specialized scientific book. However, he would invite us to make some Islamic additions, citing all the relevant Qur’anic verses and the prophetic ahadeeth, and highlighting their various miraculous aspects, to be incorporated at appropriate places in the book. This was done, and consequently, Professor Moore wrote an introduction to these Islamic additions and the result was this one which you see here before you. On each page that includes facts about the science of embryology, we have cited the Qur’anic verses and Prophetic Ahadeeth which prove the inimitability of the Qur’an and Sunnah. What we are witnessing today is Islam moving to new grounds within fair and unbiased human minds.
Profesor Moore mengatakan bahwa dia telah memasukkan referensi yang tepat di tempat yang semestinya dalam sebuah buku sains khusus. Akan tetapi, dia akan mengajak kami untuk membuat tambahan-tambahan islami, mengutip semua ayat Al-Quran yang sesuai dan Hadits, kemudian menyorot berbagai aspek yang menakjubkan, agar bisa dipadukan pada tempat yang tepat dalam sebuah buku. Hal ini telah dilakukan, dan secara konsekwen, Profesor Moore menulis sebuah perkenalan kepada tambahan yang islami ini dan hasilnya adalah yang sedang Anda lihat di sini. Pada setiap halaman yang memasukkan fakta tentang sains embriologi, kami telah mengutip ayat-ayat Al-Quran dan Hadits yang membuktikan kemustahilan ditirunya Al-Quran dan Sunnah. Apa yang kita saksikan hari ini adalah Islam bergerak ke arena yang baru di dalam alam fikiran manusia yang tidak bias dan adil.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate