Disusun oleh
: Nyimas Noviannisa
Nim : M10.02.0034
Materi kuliah : 0BSTETRI
Dosen Pengajar:
Sujiyatini, M.Keb
Topik : Proses Kehamilan
PROSES KEHAMILAN
Proses dan fase embriogenesis dari
fertilisasi sampai nidasi
Pengantar
Perkembangan bayi manusia dari konsepsi hingga
lahir merupakan hal yang esensial bagi bidan yang akan memberikan asuhan
kebidanan pada ibu dan anak. Bidan menggunakan pengetahuan ini untuk dapat
memberikan konseling dan pengajaran kepada para orang tua tentang perkembangan
bayinya, asuhan kebidanan pada orang tua dan bayinya serta penyegaran bagi
dirinya sendiri.
Pengetahuan akan menghilangkan rasa
kekhawatiran orang tua tentang bayinya sebelum lahir. Ia mungkin mendengar
cerita-cerita yang mengerikan dari ibu-ibu yang sudah tua misalnya tentang
hal-hal yang dapat membahayakan bila
ibu hamil melilitkan kain ke lehernya akan
menyebabkan bayinya terlilit talipusat. Kekhawatiran seperti ini dapat
dihilangkan dengan memberikan informasi yang akurat ilmiah, sederhana, dan
positif tentang perkembangan bayinya.
Calon orang tua yang sudah maju akan mengikuti
perkembangan dan ukuran janin mereka. Mereka akan membayangkan tentang plasenta,
tentang tali pusat, kapan ibu ”merasakan bayinya bergerak”, bagaiman janin
”bernafas”, dan banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak disebabkan rasa
khawatir tetapi rasa keingintahuan, bidan harus mempersiapkan diri untuk
menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara sederhana dan jelas. Terkadang
bidan juga ditanyakan berapa umur janin yang dilahirkan.
Bidan harus mengetahui tentang perkembangan
normal janin sehingga kita akan mengetahui bila ada gejala-gejala yang
abnormal, misalnya terjadi perubahan pada pola gerakan janin karena dalam
kondisi gawat janin, asuhan yang berbeda untuk bayi prematur dan matur, dan
lain-lain.
PENGERTIAN FERTILISASI
Fertilisasi merupakan suatu proses awal
terbentuknya suatu kehamilan. Proses ini berlanjut dengan pembelahan sampai
terjadinya implantasi, yaitu sekitar 6 hari setelah fertilisasi. Sesorang dapat
dinyatakan hamil apabila hasil konsepsi tertanam di dalam rahim ibu, yang biasa
disebut dengan kehamilan intra uterin. Jika hasil konsepsi tertanam di luar rahim,
hal itu disebut kehamilan ekstra uterin. Apabila fertilisasi, proses pembelahan
dan nidasi tidak berlangsung baik, hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya
abortus ataupun kelainan pada bayi. Sehingga fertilisasi merupakan tonggak awal
penciptaan seorang manusia.
Fertilisasi adalah suatu peristiwa penyatuan
antara sel mani / sperma dengan sel telur di tuba falopii. Pada saat kopulasi
antara pria dan wanita (sanggama / coitus), dengan ejakulasi sperma dari
saluran reproduksi pria di dalam vagina wanita, akan dilepaskan cairan mani
yang berisi sel – sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita.
Jika sanggama terjadi dalam sekitar masa
ovulasi (disebut ”masa subur” wanita), maka ada kemungkinan sel sperma dalam
saluran reproduksi wanita akan bertemu dengan
sel telur wanita yang baru dikeluarkan pada saat ovulasi. Untuk menentukan masa subur, dipakai 3 patokan,
yaitu :
1.
Ovulasi
terjadi 14± 2 hari sebelum haid yang akan dating
2.
Sperma
dapat hidup & membuahi dalam 48 jam setelah ejakulasi
3.
Ovum dapat
hidup 24 jam setelah ovulasi Pertemuan / penyatuan sel sperma dengan sel telur
inilah yang disebut sebagai pembuahan atau fertilisasi.
Dalam keadaan normal in vivo, pembuahan terjadi
di daerah tuba falopii
umumnya di daerah ampula / infundibulum. Perkembangan teknologi kini
memungkinkan penatalaksanaan kasus infertilitas (tidak bisa
mempunyai anak ) dengan cara mengambil oosit wanita dan dibuahi dengan sperma
pria di luar tubuh, kemudian setelah terbentuk embrio, embrio tersebut
dimasukkan kembali ke dalam rahim untuk pertumbuhan selanjutnya. Teknik ini
disebut sebagai pembuahan in vitro (in vitro fertilization – IVF) – dalam
istilah awam bayi tabung.
PROSES FERTILISASI
Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke dalam
rahim, masuk ke dalam tuba. Gerakan ini mungkin dipengaruhi juga oleh peranan
kontaksi miometrium dan dinding tuba yang juga terjadi saat sanggama.
Ovum yang dikeluarkan oleh ovarium, ditangkap
oleh fimbrae dengan umbai pada ujung proksimalnya dan dibawa ke dalam tuba
falopii. Ovum yang dikelilingi oleh perivitelina, diselubungi oleh bahan opak
setebal 5–10 µm, yang disebut zona pelusida. Sekali ovum sudah dikeluarkan,
folikel akan mengempis dan berubah menjadi kuning, membentuk korpus luteum.
Sekarang ovum siap dibuahi apabila sperma mencapainya.
Dari 60 – 100 juta sperma yang diejakulasikan
ke dalam vagina pada saat ovulasi, beberapa juta berhasil menerobos saluran
heliks di dalam mukus serviks dan mencapai rongga uterus beberapa ratus sperma
dapat melewati pintu masuk tuba falopii yang sempit dan beberapa diantaranya
dapat bertahan hidup sampai mencapai ovum di ujung fimbrae tuba fallopii. Hal
ini disebabkan karena selama beberapa jam, protein plasma dan likoprotein yang
berada dalam cairan mani diluruhkan. Reaksi ini disebut reaksi kapasitasi.
Setelah reaksi kapasitasi, sperma mengalami reaksi akrosom, terjadi setelah
sperma dekat dengan oosit.
Sel sperma yang telah menjalani kapasitasi akan
terpengaruh oleh zat – zat dari korona radiata ovum, sehingga isi akrosom dari
daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontak dengan lapisan korona radiata.
Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang dapat melarutkan korona radiata,
trypsine – like agent dan lysine – zone yang dapat melarutkan dan membantu
sperma melewati zona pelusida untuk mencapai ovum.
Hanya satu sperma yang memiliki kemampuan untuk
membuahi, karena sperma tersebut memiliki konsentrasi DNA yang tinggi di
nukleusnya, dan kaputnya lebih mudah menembus karena diduga dapat melepaskan
hialuronidase. Sekali sebuah spermatozoa menyentuh zona pelusida, terjadi
perlekatan yang kuat dan penembusan yang sangat cepat. Setelah itu terjadi
reaksi khusus di zona pelusida (zone reaction) yang bertujuan mencegah
terjadinya penembusan lagi oleh sperma lainnya. Dengan demikian, sangatjarang
sekali terjadi penembusan zona oleh lebih dari satu sperma.
Gambar. 1
fertilisasi
Pada
saat sperma mencapai oosit, terjadi :
1.
Reaksi
zona / reaksi kortikal pada selaput zona pelusida
2.
Oosit
menyelesaikan pembelahan miosis keduanya, menghasilkan oosit definitif yang
kemudian menjadi pronukleus wanita
3.
Inti
sperma membesar membentuk pronukleus pria.
4.
Ekor sel
sperma terlepas dan berdegenerasi.
5.
Pronukleus
pria dan wanita. Masing – masing haploid, bersatu dan membentuk zygot yang
memiliki jumlah DNA genap / diploid.
Gambar. 2 pembuahan ovum
Keterangan :
A, B, C
dan D : Ovum dengan korona radiate
E : Ovum dimasuki
spermatozoa
F dan G : Pembentukan benda kutub kedua
dan akan bersatunya kedua pronukleus yang haploid untuk menjadi zigot
Hasil utama pembuahan :
1.
Penggenapan
kembali jumlah kromosom dari penggabungan dua paruh haploid dari ayah dan dari
ibu menjadi suatu bakal baru dengan jumlah kromosom diploid.
2.
Penentuan
jenis kelamin bakal individu baru, tergantung dari kromosom
X atau Y yang dikandung sperma yang membuahi ovum tersebut.
X atau Y yang dikandung sperma yang membuahi ovum tersebut.
3.
Permulaan
pembelahan dan stadium – stadium pembentukan dan
perkembangan embrio (embriogenesis).
perkembangan embrio (embriogenesis).
PEMBELAHAN
Gambar. 3 pembelahan zigot
Zigot mulai menjalani pembelahan awal mitosis
sampai beberapa kali. Sel–sel yang dihasilkan dari setiap pembelahan berukuran
lebih kecil dari ukuran induknya yang disebut blastomer. Sesudah 3 – 4 kali
pembelahan : zigot memasuki tingkat 16 sel, disebut stadium morula (kira – kira
pada hari ke 3 sampai ke 4 pasca fertilisasi).
Morula terdiri dari inner cell mass (kumpulan
sel – sel di sebelah dalam, yang akan tumbuh menjadi jaringan – jaringan embrio
sampai janin) dan outer cell mass (lapisan sel di sebelah luar, yang akan
tumbuh menjadi trofoblast sampai plasenta).
Kira – kira pada hari ke 5 sampai ke 6, di rongga
sela – sela inner cell mass merembes cairan menembus zona pelusida, membentuk
ruang antar sel. Ruang antar sel ini kemudian bersatu dan memenuhi sebagian
besar massa zigot membentuk rongga blastokista. Inner cell mass tetap berkumpul
di salah satu sisi, tetap berbatasan dengan lapisan sel luar. Pada stadium ini
disebut embrioblas dan outer cell mass disebut
trofoblas.
trofoblas.
Gambar. 4 pembentukan embrio
NIDASI
Nidasi atau implantasi adalah masuknya atau
tertanamnya hasil konsepsi
ke dalam endometrium.
ke dalam endometrium.
Pada akhir minggu pertama ( hari ke 5 sampai ke
7 ) zygot mencapai cavum uteri. Pada saat itu uterus sedang berada dalam fase
sekresi lendir dibawah pengaruh progesteron dari korpus luteum yang masih
aktif. Sehingga lapisan endometrium dinding rahim menjadi kaya pembuluh darah
dan banyak muara kelenjar selaput lendir rahim yang terbuka dan aktif.
Kontak antara zigot stadium blastokista dengan
dinding rahim pada keadaan tersebut akan mencetuskan berbagai reaksi seluler,
sehingga sel – sel trofoblast zigot tersebut akan menempel dan mengadakan
infiltrasi pada lapisan epitel endometrium uterus ( terjadi nidasi ).
Setelah nidasi, sel– sel trofoblas yang
tertanam di dalam endometrium terus berkembang membentuk jaringan bersama
dengan sistem pembuluh darah maternal untuk menjadi plasenta, yang kemudian
berfungsi sebagai sumber nutrisi dan oksigenasi bagi jaringan embrioblas yang
akan tumbuh menjadi janin. Di bawah ini terdapat gambar proses perkembangan dan
perjalanan ovum dari ovarium sampai kavum uteri dan terjadi nidasi.
PERKEMBANGAN DAN PERJALANAN OVUM
Gambar.5 perkembangan dan
perjalanan
Keterangan:
A : Oosit tidak bersegmen
B : Fertilisasi
C : Terbentuk pro-nuklei
D : Pembelahan kumparan pertama
E : Stadium 2 sel
F : Stadium 4 sel
G : Stadium 8 sel
H : Morula
I &
J : Pembentukan blastokista
K : Zona pelusida menghilang, nidasi
terjadi
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HASIL KONSEPSI JANIN
Kehamilan berlangsung selama kira-kira 10 bulan
lunar atau 9 bulan kalender
atau 40 minggu atau 280 hari, dihitung dari hari pertama haid yang terakhir. Bila dihitung dari konsepsi 266 hari atau 38 minggu.
atau 40 minggu atau 280 hari, dihitung dari hari pertama haid yang terakhir. Bila dihitung dari konsepsi 266 hari atau 38 minggu.
Perkembangan intrauterin dibagi dalam 3 tahap :
ü Ovum :
sejak konsepsi sampai hari ke-14 (terjadi replikasi seluler, pembentukan
blastosis, perkembangan awal selaput embrio lapisan germinal primer.
ü Embrio :
berlangsung dari hari ke-15 sampai 8 minggu setelah konsepsi atau sampai ukuran
embrio sekitar 3 cm dari puncak kepala ke bokong.
Tahap ini merupakan masa yang paling kritis
dalam perkembangan sistem organ dan penampilan luar utama janin, sangat rentan
terhadap malformasi akibat teratogen.
©
Minggu
ke-4
Dari diskus embrionik, bagian
pertama muncul yang kemudian akan menjadi tulang belakang, otak dan saraf tulang
belakang. Jantung, sirkulasi darah dan saluran pencernaan terbentuk. Badan
tampak membentuk huruf C. Ukuran puncak kepala-bokong 0,4 – 0,5 cm. Berat 0,4
gr.
© Minggu ke-8
Perkembangan cepat. Badan
mulai terbentuk. Hidung rata, mata jauh terpisah, jari-jari sudah terbentuk,
kepala mulai terangkat, ekor hampir hilang, mata,telinga dan mulut dapat
dikenali. Ukuran 2,5 cm – 3 cm, berat 2 gram Jantung mulai memompa darah. Vili
usus berkembang, usus halus menggulung dalam tali pusat, hati sangat besar.
©
Minggu
ke-12
Embrio menjadi janin. Kuku
terbentuk, lebih menyerupai manusia, kepala tegak tetapi besarnya tidak
sebanding, kulit merah muda, lembut.
Ukuran 6-9 cm, berat 19 gram.
Ukuran 6-9 cm, berat 19 gram.
Denyut jantung dapat terlihat
dengan ultrasound. Diperkirakan lebih berbentuk manusia karena tumbuh dan
berkembang. Gerakan pertama dimulai selama minggu ke- 12. jenis kelamin dapat
diketahui. Ginjal memproduksi urine.
©
Minggu
ke-16
Kepala masih dominan, wajah
menyerupai manusia, mata, telinga dan hidung menyerupai bentuk yang sebenarnya,
perbandingan lengan-kaki sesuai, muncul rambut kepala. Ukuran 11,5- 13,5 cm,
berat 100 gram Sistem muskuloskeletal sudah matang, sistem syaraf mulai
melaksanakan kontrol. Pembuluh darah berkembang dengan cepat. Tangan janin
dapat menggenggam. Kaki menendang dengan aktif. Semua organ mulai matang dan
tumbuh. Berat janin sekitar 0,2 kg. Denyut jantung janin dapat didengar dengan
Doppler. Pankreas memproduksi insulin.
©
Minggu
ke-20
Verniks kaseosa muncul,
lanugo muncul, tungkai sangat bertambah panjang, mulai terlihat kelenjar
sabasea. Ukuran 16-18,5 cm, berat 300 gram.
Verniks melindungi tubuh.
Lanugo menutupi tubuh dan menjaga minyak pada kulit. Alis, bulu mata dan ranbut
terbentuk. Janin mengembangkan jadwal yang teratur untuk tidur, menelan dan
menendang.
©
Minggu
ke-24
Tubuh menjadi langsing tetapi
dengan perbandingan yang sesuai, kulit menjadi merah dan keriput, terdapat
verniks kaseosa, pembentukan kelenjar keringat.
Ukuran 23 cm, berat 600 gram.
Kerangka berkembang dengan cepat
karena sel pembentukan tulang meningkatkan aktifitasnya. Perkembangan pernafasan dimulai. Berat janin 0,7 – 0,8 kg.
karena sel pembentukan tulang meningkatkan aktifitasnya. Perkembangan pernafasan dimulai. Berat janin 0,7 – 0,8 kg.
©
Minggu
ke-28
Badan langsing, keriput
berkurang dan berwarna merah,
terbentuk kuku. Ukuran 27 cm, berat 1100 gram. Janin dapat bernafas, menelan dan mengatur suhu. Surfaktan terbentuk di dalam paru-paru. Mata janin mulai membuka dan menutup. Ukuran janin 2/3 ukuran pada saat lahir.
terbentuk kuku. Ukuran 27 cm, berat 1100 gram. Janin dapat bernafas, menelan dan mengatur suhu. Surfaktan terbentuk di dalam paru-paru. Mata janin mulai membuka dan menutup. Ukuran janin 2/3 ukuran pada saat lahir.
©
Minggu
ke-32
Lemak sub kutan mulai
terkumpul, tampak lebih bulat, kulit
merah muda dan licin, mengambil posisi persalinan. Ukuran 32 cm, berat 2100 gram. Simpanan lemak coklat berkembang di bawah kulit untuk persiapan pemisahan bayi setelah lahir. Bayi tumbuh 38-43 cm. Mulai menyimpan zat besi, kalsium dan fosfor.
merah muda dan licin, mengambil posisi persalinan. Ukuran 32 cm, berat 2100 gram. Simpanan lemak coklat berkembang di bawah kulit untuk persiapan pemisahan bayi setelah lahir. Bayi tumbuh 38-43 cm. Mulai menyimpan zat besi, kalsium dan fosfor.
©
Minggu
ke-36
Kulit merah muda, tubuh
bulat, lanugo menghilang di seluruh tubuh, tubuh biasanya gemuk. Ukuran 35 cm,
berat 2200 – 2900 gram, Seluruh uterus terisi oleh bayi sehingga ia tidak bisa
bergerak/berputar banyak. Antibodi ibu di transfer ke bayi. Hal ini akan
memberikan kekebalan untuk 6 bulan pertama sampai sistem kekebalan bayi bekerja
sendiri.
©
Minggu
ke-40
Kulit halus dan berwarna
merah muda, verniks kaseosa sedikit, rambut sedang atau banyak, lanugo hanya
pada bahu dan tubuk bagian atas, tampak tulang rawan hidung dan cuping hidung. Ukuran
40 cm, berat 3200 gram atau lebih. Gerakan aktif, tonus baik, dapat mengangkat
kepala., testis ada dalam skrotum pada laki-laki, labia mayora berkembang baik
pada wanita.
Sistem peredaran darah
fetomaternal
Proses Sirkulasi
Darah Janin :
Peredaran darah janin berbeda dengan orang dewasa,hal ini dikarenakan, pada
janin organ vital untuk metabolisme masih belum berfungsi. Organ tersebut
adalah paru janin dan alat gastrointestinal yang seluruhnya diganti oleh
plasenta.Dalam sirkulasi darah janin ini diperlukan beberapa faktor untuk
berlansungnya sirkulasi darah pada janin diantaranya adalah foramen ovale,
duktus arteriosus bothalii, duktus venousus aranthii, vena umbilikalis, arteri
umbilikalis dan plasenta .
Namun setelah janin lahir sirkulasi darah janin akan
berubaha pada saat bayi lahir dan menangis,hal ini akan dapat meberikan
perubahan pada organ paru dimana paru-paru mulai berkembang dan aliran darah
akan berubah pada sirkulsi pada orang dewasa.
Sistem
peredaran darah fetomaternal atau sirkulasi darah dari ibu ke janin yaitu ;
(1)
Foramen
ovale
(2)
Duktus
arteriosus Botali
(3)
Arteriae
umbilikales lateralis
(4)
Duktus
venosus arantii
Darah
yang kaya O₂ dan nutrisi yang berasal dari uri masuk ke tubuh janin melalui
vena umbilikalis. Melalui duktus venosus arantii sebagian besar darh tersebut
mengalir kevena kava inferior lalu masuk ke atrium dextra jantung. Sebagian
kecil darah tadi mengalir ke hati dan seterusnya ke vena kava inferior seperti
tadi. Dalam atrium dextra, sebagian besar darah ini akan mengalir secara
fisiologi ke dalam atrium sinistra melalui foramen ovale. Dari atrium sinistra,
darah mengalir ke ventrikel sinistra yang selanjutnya dipompakan ke aorta.
Hanya sebagian kecil darah dari atrium
dextra mengalir ke ventrikel dextra bersama-sama dengan darah yang datang dari
vena kava superior. Karena tekanan dari paru-paru yang belum berkembang, maka
sebagian besar darah dari ventrikel dextra ini, yang semestinya mengalir ke
paru-paru melalui aa.pulmonales, akan mengalir melalui duktus Botali ke Aorta.
Sebagian kecil darah menuju paru-paru kemudian melalui vv.pulmonales ke atrium sinistra. Dari aorta, darah akan
mengalir ke seluruh tubuh membawa O₂ dan nutrisi pada sel-sel organ tubuh janin. Hb yang dibuatoleh
janin adalah hemoglobin fetal tipe F (HbF) sedangkan pada orang dewasa adalah
HbA. Eritrosit yang mengadung HbF mempunyai daya penarik lebih tinggi terhadap
oksigen dibanding HbA dalam keadaan PO₂ dan pH darah yang sama.
Pada
pernapasan janin intra-uterin, apabila saturitas O₂
meningkat sampai melebihi 50% maka terjadi apnoe, tidak bergantung pada
konsentrasi CO₂. Bila saturasi O₂ menurun, maka pusat pernapasan menjadi menjadi sensitif terhadap
rangsangan CO₂ namun akan lebih sensitif bila kadar O₂
turun dan saturasi O₂ mencapai 25%. Sirkulasi utero-plasenter jelas berpengaruh terhadap
pernapasan janin intra-utrin. Bila ada gangguan pada sirkulasi ini sehingga
saturasi O₂ turun, misalnya pada tetania uteri, eklamsi, tali pusat terjepit
dan sebagainya, maka terjadi ketidakseimbangan asam basa pada janin yang
berakibat lumpuhnya pernapasan janin.
Maturitas
paru-paru dapat ditentukan dengan mengukur rasio lesitin-sfingomielin.
Lipoprotein ini berfungsi untuk mengurangi tekanan pada permukaan alveoli dan
memudahkan paru-paru berkembang pada penarikan napas pertama janin, refleks
Marey adalah keadaan dimana bunyi denyut jantung janin melemah dan lambat
setelah rahim berkontraksi. Keadaan ini adalah normal dan disebabkan adanya
gangguan sememtara pada peredaran darah utero-plasenter. Di klinik, monitor
denyut jantung janin adalah penting untuk mendeteksi adanya gawat janin.
Darah
yang kembali dari sel-sel tubuh yang miskin O₂
serta penuh sampah metabolisme dan lainnya akan dialirkan ke uri melalui
aa.umbilikales.
Sewaktu
bayi lahir, ia segera menangis fan menghirup udara yang menyebabkan paru-paru
berkembang. Tekanan dalam paru-paru berkurang/mengecil dan darah tersebur ke
dalam paru-paru. Dengan demikian duktus Botali tidak berfungsi lagi, karena
tekanan dalam atrium sinistra meningkat, foramen ovale akan tertutup.
Aa.umbilikales dan duktus Arantii akan mengalami obliterasi karena tali pusat
dipotong dan diikat. Bayi yang baru lahir, kebutuhan O₂-nya
hanya pada udara yang diisap ke paru-paru, dan kebutuhan makanan dan makanan
yang dimakan.
PEREDARAN DARAH JANIN
Sebelum lahir, darah dari plasenta kira-kira 80% jenuh dengan 0₂
dialirkan kembali ke janin melalui vena umbilialis. Pada saat mendekati hati,
sebagian besar darah ini mengalir melalui duktus venosus langsung masuk ke
dalam vena kava inferior, dengan demikian memintas dari hati. Sebagian kecil
daripadanya masuk ke sinusoid hati dan bercampur dengan darah yang berasal dari
sirkulasi portal. Semacam mekanisme
sfingter di dalam duktus venosus, di dekat tempat masuknya vena umbilikalis,
mengatur aliran darah vena umbilikalis melalui sinusoid hati. Diperkirakan
bahwa sfingter ini menutup apabila, karena kontrasi uterus, aliran balik vena
terlampau tinggi, dengan demikiian dapat dicegah pembebanan jantung yang
tiba-tiba.
Setelah melalui vena kava inferior yang pndek dan bercampur dengan
darah yang tidak mengandung O₂ yang kembali dari anggota badan bawah, darah ini memasuki atrium
dextra. Disini darah diarahkan ke foramen ovale oleh katup vena kava inferior,
dan sebagian besar darah mengalir langsung ke atrium sinistra. Tetapi sebagian
kecil darah tidak dapat mengikuti jalan tersebut karena dihambat oleh tepi
bawah septum sekundum, yaitu krista
dividens, dan tetap berada di atrium dextra. Disini darah tersebut
bercampur dengan darah desaturasi yang kembali dari bagian kepala dan lengan
melalui vena kava superior.
Dari atrium sinistra, yang merupakan tempat percampuran darah ini
dengan sedikit darah yang kembali dari paru-paru, darah memasuki ventrikel
sinistra dan aorta asende. Oleh karena arteri koronaria dan arteri karotis
merupakan cabang pertama aorta asenden, otot-otot jantung dan otak memperoleh
darah yang kaya O₂. Darah yang rendah O₂ dari vena kava superior mengalir melalui ventrikel dextra menuju
ke trunkus pulmonalis. Oleh karena tahanan di dalam pembuluh pulmonal selama
masajanin tinggi, sebagian besar darah ini mengalir langsung melaui duktus arteriosus menuju aorta
desenden, dan bercampur dengan darah yang berasal dari aorta proksimal. Mulai
berjalan melewati aorta desenden, darah mengalir menuju ke plasenta melalui
kedua aa.umbilicales. angka kejenuhan O₂ dalam aa,umbilicales kira-kira 58%.
Selama berjalan dari plasenta ke organ-organ janin, kadar O₂
yang tinggi di dalam vena umbilikalis berangsur-angsur menurun karena bercampur
darah yang jenuh CO₂. Secara teoritis, percampuran dapat terjadi di tempat-tempat
berikut ;
-
Di
hati (I),darah bercampur dengan sejumlah kecil darah yang datang dari sistem
vena porta;
-
Di
vena kava nferior (II),yang mengangkut darah yang jenuh CO₂
yang kembali dari tungkai, panggul, dan ginjal,
-
Di
atrium dextra (III), darah bercampur dengan arah yang kembali dari kepala dan
lengan
-
Di
atrium sinistra(IV), darah bercampur dengan arah yang kembali dari paru-paru
-
Di
muara duktus arteriosus ke dalam aorta desendens (V).
Sirkulasi darah janin dalam rahim tidak sama
dengan sirkulasi darah pada bayi, anak dan orang dewasa. Pada janin organ vital
untuk metabolisme masih belum berfungsi. Organ tersebut adalah paru janin dan
alat gastrointestinal yang seluruhnya diganti oleh plasenta. Dengan tidak
berfungsinya mekanisme tersebut,harus terdapat mekanisme yang berfungsi
sebagaialat ganti untuk :
1. Paru Janin
Terjadi pergantian O₂ dengan CO₂ melalui
plasenta sehinggga paru-paru tidak memerlukan aliran darah.
2. Gastro intestinal
Gastro ientestinal yang belum berfungsi
sebagaia alat penyerapan nutrisi,maka pembuluh darahnaya belum berfunngsi,
kecuali pada janin digunakan untuk tumbuh kembang sendiri.
Perbedaan antara sirkulasi darah janin intra
uterine dan ekstra uterine
antara lain adalah :
antara lain adalah :
- Aliran darah arteri pulmonalis dari ventrikel kanan,darahnya akan dialirkan menuju aorta melalui erteria duktus Bothaki
- Darah dari vena umbilikal melalui liver langsung menuju vena cava inferior melalui duktus venous aranthi
- Darah dari vena cava inferior menuju jantung sebagian langsung menuju atrium kiri melalui foramen ovale
- Sebagian menuju ventrikel kiri dan selanjutnya ke aorta sebagian besar digunakan untuk konsumsi O₂ dan nutrisi susunan saraf pusat jantung .
Gambar.1 sirkulasi darah fetus intra dan ekstra
urine
Faktor-faktor yang Mentukan Sirkulasi Darah
Janin
a. Foramen Ovale
ü
Lubang antara atrum kanan dan atrium
kirifadlie.web.id
ü
Aliran daranhnya : atrium kanan kiri
ü
Setelah janin lahir akan menutup
b. Duktus Arteriosus Bothali
ü Pembuluh yang
menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta
ü
Menutup setelah lahir
c. Duktus venousus Aranthii
ü
Pembuluh yang berada dalam hepar menuju vena
cava inferior
ü
Menutup setelah lahir
d. Vena Umbilcalis
ü
Berjumlah dua buah
ü
Membawa zat makanan dan O₂ dari sirkulasi
darh ibu ( plasenta ) ke peredaran darh janin
e. Arteri Umbilicalis
ü
Berjumlah dua buah
ü
Membawa sisa zat makanan dan CO₂ dari janin ke
sirkulasi darah ibu
ü
Pembuluh darah yang menghubungkan vena
umbilikalis dengan vena cava inferior
f. Palsenta
ü
Jaringan yang menempel pada endometrium
ü
Tempat pertukaran antara darah janin dengan
darah ibu .
Proses Sirkulasi Darah Janin ( Fetus )
Gambar.2 Sirkulasi darah fetus
- Darah janin dialirkan ke plasenta melalui aa.umbilicaliesyang membawa bahan makanan ang berasal dari ibu .
- Darah ini akan masuk ke badan janin melalui vena umbilikacalis yang bercabang dua setelah memasuki dinding perut janin .
- Cabang yang kecil akan bersatu dengan vena porta,darahnya akan beredar dalam hati dan kemudian dianggkut melalui vena cava hepatica kedalam vena cava inferior. Dan cabang satu lagi ductus venusus aranthii,akhirnya masuk ke vena cava inferior. Sebagian O₂ dalam darah vena umbilikalis akan direabsorbsi sehingga konsentrasi O₂ menurun .
- Vena cava inferior, langsung masuk ke atrium kanan, darah ini merupakan darah yang berkonsentrasi tinggi nutrisi dan O₂ yang sebahagian menuju ventrikel kanan dan sebahagian besar menuju atrium kiri melalui foramen ovale.
- Dari ventrikel kanan masuk ke paru-paru,tetapi karena paru-paru belum berkembang maka darah yang tredapat pada arteri pulmonalis dialirkan menuju aorta melalui ductus arteriosus Bothalli. Darah yang ke paru-paru bukan untuk pertukaran gas tetapi untuk memberi makanan kepada paru-paru yang sedang tumbuh.fadlie.web.id
- Darah ynag berda di aorta disebarkan ke alat-alat badan,tetapi sebelumnya darah menuju ke aa.hypogastricae ( cabang dari arteri iliaca comunis ) lalu ke aa. Umbilicalles dan selanjutnya ke plasenta.
- Selanjutnya sirkulasi darah janin akan berulang kembali. Menerima nutrisi dan O₂ dari plasenta melalui ductus venousus aranthii, menuju vena cava inferior yang kaya akan O₂ dan nutrisi .
Gambar.3 proses sirkulasi darah fetus
Sirkulasi Darah Janin Setelah Lahir
Pada saat persalinan sebahagian besar bayi
langsung menangis maka akan terjadi perubahan besar terhadap sirkulasi darah,
diantaranya adalah :
1. Paru-paru berkembang dengan sempurna dan
langsung dapat berfungsi untuk pertukaran O₂ dan CO₂. Akibat perkembangan paru-paru terjadi
perubahan sirkulasi darah diantaranya adalah :
- Arteri pulmonalis kini langsung mengalirkan darah ke paru sehingga ductus arteriosus Bothalli akan menutup.
- Perkembangan paru-paru menyebabkan tekanan negatif pada atrium kiri,karena drah diserahkan langsung oleh ventrikel kanan dan dialirkan menuju paru-paru yang telah berfungsi.
- Akibat tekanan negatif pada atrium kanan, foramen ovale akan menutup dengan sendirinya,dan tidak lagi menjadi tempat aliran darah menuju atrium kiri.
2. Pemotongan Tali Pusat
- Tali pusat di potong setelah bayi menangis dengan nyaring sehingga akan menambah jumlah darah bayi sekitar 50 % .
- Dengan dilkaukannya pemotongan tali pusat berarti perubahan sirkulasi pada bayi telah berubah menjadi sirkulasi orang dewasa.
Kesimpulan
Peredaran darah janin berbeda dengan orang
dewasa,hal ini dikarenakan, pada janin organ vital untuk metabolisme masih
belum berfungsi. Organ tersebut adalah paru janin dan alat gastrointestinal
yang seluruhnya diganti oleh plasenta.Dalam sirkulasi darah janin ini
diperlukan beberapa faktor untuk berlansungnya sirkulasi darah pada janin
diantaranya adalah:
- foramen ovale
- duktus arteriosus bothalii
- duktus venousus aranthii
- vena umbilikalis
- arteri umbilikalis dan plasenta
Jalur peredaran darah janin dapat digambarkan
sebagai berikut :
Plasenta – vena umbilicalis -hati – ductus
venosus /vena hepatica – vena cava inferior – atrium kanan – foramen oval –
Atrium kiri – ventrikel kiri – aorta – kepala, tangan/ abdomen, thorax, kaki –
arteri umbilicalis – plasenta.
Ini aliran darah yg kaya dengan nutrisi dan
oksigen yang berasal dari sirkulasi darah ibu, namun setelah janin lahir
sirkulasi darah janin akan berubaha pada saat bayi lahir dan menangis,hal ini
akan dapat meberikan perubahan pada organ paru dimana paru-paru mulai
berkembang dan aliran darah akan berubah pada sirkulsi darah seperti orang
dewasa.
Referensi
Fadlie. 2011. Proses Sirkulasi darah Janin.
Yogyakarta : http://www.fadlie.web.id/?p=2294 Dibuka Tanggal 03/04/2011 Pukul:
21:08 AM
Manuaba I.BG.2007.Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Prawirohardjo, Sarwono.2010. Ilmu Kebidanan.Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Sadler.T.W. 2000.EMBRIOLOGI KEDOKTERAN LANGMAN.Jakarta
: Penerbit Buku Kedokteran.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar