Sabtu, 03 November 2012

Proses dan Fase Embriogenesis





Disusun oleh   : Nyimas Noviannisa
Nim                 : M10.02.0034
Materi kuliah   : 0BSTETRI
Dosen Pengajar: Sujiyatini, M.Keb
Topik               : Proses Kehamilan
PROSES KEHAMILAN
Proses dan fase embriogenesis dari fertilisasi sampai nidasi
Pengantar
Perkembangan bayi manusia dari konsepsi hingga lahir merupakan hal yang esensial bagi bidan yang akan memberikan asuhan kebidanan pada ibu dan anak. Bidan menggunakan pengetahuan ini untuk dapat memberikan konseling dan pengajaran kepada para orang tua tentang perkembangan bayinya, asuhan kebidanan pada orang tua dan bayinya serta penyegaran bagi dirinya sendiri.
Pengetahuan akan menghilangkan rasa kekhawatiran orang tua tentang bayinya sebelum lahir. Ia mungkin mendengar cerita-cerita yang mengerikan dari ibu-ibu yang sudah tua misalnya tentang hal-hal yang dapat membahayakan bila
ibu hamil melilitkan kain ke lehernya akan menyebabkan bayinya terlilit talipusat. Kekhawatiran seperti ini dapat dihilangkan dengan memberikan informasi yang akurat ilmiah, sederhana, dan positif tentang perkembangan bayinya.
Calon orang tua yang sudah maju akan mengikuti perkembangan dan ukuran janin mereka. Mereka akan membayangkan tentang plasenta, tentang tali pusat, kapan ibu ”merasakan bayinya bergerak”, bagaiman janin ”bernafas”, dan banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan ini tidak disebabkan rasa khawatir tetapi rasa keingintahuan, bidan harus mempersiapkan diri untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut secara sederhana dan jelas. Terkadang bidan juga ditanyakan berapa umur janin yang dilahirkan.
Bidan harus mengetahui tentang perkembangan normal janin sehingga kita akan mengetahui bila ada gejala-gejala yang abnormal, misalnya terjadi perubahan pada pola gerakan janin karena dalam kondisi gawat janin, asuhan yang berbeda untuk bayi prematur dan matur, dan lain-lain.
PENGERTIAN FERTILISASI
Fertilisasi merupakan suatu proses awal terbentuknya suatu kehamilan. Proses ini berlanjut dengan pembelahan sampai terjadinya implantasi, yaitu sekitar 6 hari setelah fertilisasi. Sesorang dapat dinyatakan hamil apabila hasil konsepsi tertanam di dalam rahim ibu, yang biasa disebut dengan kehamilan intra uterin. Jika hasil konsepsi tertanam di luar rahim, hal itu disebut kehamilan ekstra uterin. Apabila fertilisasi, proses pembelahan dan nidasi tidak berlangsung baik, hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya abortus ataupun kelainan pada bayi. Sehingga fertilisasi merupakan tonggak awal penciptaan seorang manusia.
Fertilisasi adalah suatu peristiwa penyatuan antara sel mani / sperma dengan sel telur di tuba falopii. Pada saat kopulasi antara pria dan wanita (sanggama / coitus), dengan ejakulasi sperma dari saluran reproduksi pria di dalam vagina wanita, akan dilepaskan cairan mani yang berisi sel – sel sperma ke dalam saluran reproduksi wanita.
Jika sanggama terjadi dalam sekitar masa ovulasi (disebut ”masa subur” wanita), maka ada kemungkinan sel sperma dalam saluran reproduksi wanita akan bertemu dengan sel telur wanita yang baru dikeluarkan pada saat ovulasi. Untuk menentukan masa subur, dipakai 3 patokan, yaitu :
1.       Ovulasi terjadi 14± 2 hari sebelum haid yang akan dating
2.       Sperma dapat hidup & membuahi dalam 48 jam setelah ejakulasi
3.      Ovum dapat hidup 24 jam setelah ovulasi Pertemuan / penyatuan sel sperma dengan sel telur inilah yang disebut sebagai pembuahan atau fertilisasi.
Dalam keadaan normal in vivo, pembuahan terjadi di daerah tuba falopii umumnya di daerah ampula / infundibulum. Perkembangan teknologi kini memungkinkan penatalaksanaan kasus infertilitas (tidak bisa mempunyai anak ) dengan cara mengambil oosit wanita dan dibuahi dengan sperma pria di luar tubuh, kemudian setelah terbentuk embrio, embrio tersebut dimasukkan kembali ke dalam rahim untuk pertumbuhan selanjutnya. Teknik ini disebut sebagai pembuahan in vitro (in vitro fertilization – IVF) – dalam istilah awam bayi tabung.
PROSES FERTILISASI
Spermatozoa bergerak cepat dari vagina ke dalam rahim, masuk ke dalam tuba. Gerakan ini mungkin dipengaruhi juga oleh peranan kontaksi miometrium dan dinding tuba yang juga terjadi saat sanggama.
Ovum yang dikeluarkan oleh ovarium, ditangkap oleh fimbrae dengan umbai pada ujung proksimalnya dan dibawa ke dalam tuba falopii. Ovum yang dikelilingi oleh perivitelina, diselubungi oleh bahan opak setebal 5–10 µm, yang disebut zona pelusida. Sekali ovum sudah dikeluarkan, folikel akan mengempis dan berubah menjadi kuning, membentuk korpus luteum. Sekarang ovum siap dibuahi apabila sperma mencapainya.
Dari 60 – 100 juta sperma yang diejakulasikan ke dalam vagina pada saat ovulasi, beberapa juta berhasil menerobos saluran heliks di dalam mukus serviks dan mencapai rongga uterus beberapa ratus sperma dapat melewati pintu masuk tuba falopii yang sempit dan beberapa diantaranya dapat bertahan hidup sampai mencapai ovum di ujung fimbrae tuba fallopii. Hal ini disebabkan karena selama beberapa jam, protein plasma dan likoprotein yang berada dalam cairan mani diluruhkan. Reaksi ini disebut reaksi kapasitasi. Setelah reaksi kapasitasi, sperma mengalami reaksi akrosom, terjadi setelah sperma dekat dengan oosit.
Sel sperma yang telah menjalani kapasitasi akan terpengaruh oleh zat – zat dari korona radiata ovum, sehingga isi akrosom dari daerah kepala sperma akan terlepas dan berkontak dengan lapisan korona radiata. Pada saat ini dilepaskan hialuronidase yang dapat melarutkan korona radiata, trypsine – like agent dan lysine – zone yang dapat melarutkan dan membantu sperma melewati zona pelusida untuk mencapai ovum.
Hanya satu sperma yang memiliki kemampuan untuk membuahi, karena sperma tersebut memiliki konsentrasi DNA yang tinggi di nukleusnya, dan kaputnya lebih mudah menembus karena diduga dapat melepaskan hialuronidase. Sekali sebuah spermatozoa menyentuh zona pelusida, terjadi perlekatan yang kuat dan penembusan yang sangat cepat. Setelah itu terjadi reaksi khusus di zona pelusida (zone reaction) yang bertujuan mencegah terjadinya penembusan lagi oleh sperma lainnya. Dengan demikian, sangatjarang sekali terjadi penembusan zona oleh lebih dari satu sperma.
Gambar. 1 fertilisasi
Pada saat sperma mencapai oosit, terjadi :
1.       Reaksi zona / reaksi kortikal pada selaput zona pelusida
2.       Oosit menyelesaikan pembelahan miosis keduanya, menghasilkan oosit definitif yang kemudian menjadi pronukleus wanita
3.      Inti sperma membesar membentuk pronukleus pria.
4.      Ekor sel sperma terlepas dan berdegenerasi.
5.      Pronukleus pria dan wanita. Masing – masing haploid, bersatu dan membentuk zygot yang memiliki jumlah DNA genap / diploid.
Gambar. 2 pembuahan ovum
Keterangan :
A, B, C dan D   : Ovum dengan korona radiate
E                             : Ovum dimasuki spermatozoa
F dan G               : Pembentukan benda kutub kedua dan akan bersatunya kedua pronukleus yang haploid untuk menjadi zigot
Hasil utama pembuahan :
1.       Penggenapan kembali jumlah kromosom dari penggabungan dua paruh haploid dari ayah dan dari ibu menjadi suatu bakal baru dengan jumlah kromosom diploid.
2.       Penentuan jenis kelamin bakal individu baru, tergantung dari kromosom
X atau Y yang dikandung sperma yang membuahi ovum tersebut.
3.      Permulaan pembelahan dan stadium – stadium pembentukan dan
perkembangan embrio (embriogenesis).
PEMBELAHAN
Gambar. 3 pembelahan zigot
Zigot mulai menjalani pembelahan awal mitosis sampai beberapa kali. Sel–sel yang dihasilkan dari setiap pembelahan berukuran lebih kecil dari ukuran induknya yang disebut blastomer. Sesudah 3 – 4 kali pembelahan : zigot memasuki tingkat 16 sel, disebut stadium morula (kira – kira pada hari ke 3 sampai ke 4 pasca fertilisasi).
Morula terdiri dari inner cell mass (kumpulan sel – sel di sebelah dalam, yang akan tumbuh menjadi jaringan – jaringan embrio sampai janin) dan outer cell mass (lapisan sel di sebelah luar, yang akan tumbuh menjadi trofoblast sampai plasenta).
Kira – kira pada hari ke 5 sampai ke 6, di rongga sela – sela inner cell mass merembes cairan menembus zona pelusida, membentuk ruang antar sel. Ruang antar sel ini kemudian bersatu dan memenuhi sebagian besar massa zigot membentuk rongga blastokista. Inner cell mass tetap berkumpul di salah satu sisi, tetap berbatasan dengan lapisan sel luar. Pada stadium ini disebut embrioblas dan outer cell mass disebut
trofoblas.
Gambar. 4 pembentukan embrio
NIDASI
Nidasi atau implantasi adalah masuknya atau tertanamnya hasil konsepsi
ke dalam endometrium.
Pada akhir minggu pertama ( hari ke 5 sampai ke 7 ) zygot mencapai cavum uteri. Pada saat itu uterus sedang berada dalam fase sekresi lendir dibawah pengaruh progesteron dari korpus luteum yang masih aktif. Sehingga lapisan endometrium dinding rahim menjadi kaya pembuluh darah dan banyak muara kelenjar selaput lendir rahim yang terbuka dan aktif.
Kontak antara zigot stadium blastokista dengan dinding rahim pada keadaan tersebut akan mencetuskan berbagai reaksi seluler, sehingga sel – sel trofoblast zigot tersebut akan menempel dan mengadakan infiltrasi pada lapisan epitel endometrium uterus ( terjadi nidasi ).
Setelah nidasi, sel– sel trofoblas yang tertanam di dalam endometrium terus berkembang membentuk jaringan bersama dengan sistem pembuluh darah maternal untuk menjadi plasenta, yang kemudian berfungsi sebagai sumber nutrisi dan oksigenasi bagi jaringan embrioblas yang akan tumbuh menjadi janin. Di bawah ini terdapat gambar proses perkembangan dan perjalanan ovum dari ovarium sampai kavum uteri dan terjadi nidasi.
PERKEMBANGAN DAN PERJALANAN OVUM
Gambar.5 perkembangan dan perjalanan
Keterangan:                                                                       
A             : Oosit tidak bersegmen
B             : Fertilisasi
C             : Terbentuk pro-nuklei
D             : Pembelahan kumparan pertama
E             : Stadium 2 sel
F             : Stadium 4 sel
G             : Stadium 8 sel
H             : Morula
I & J      : Pembentukan blastokista
K             : Zona pelusida menghilang, nidasi terjadi
PERTUMBUHAN DAN PERKEMBANGAN HASIL KONSEPSI JANIN
Kehamilan berlangsung selama kira-kira 10 bulan lunar atau 9 bulan kalender
atau 40 minggu atau 280 hari, dihitung dari hari pertama haid yang terakhir. Bila dihitung dari konsepsi 266 hari atau 38 minggu.
Perkembangan intrauterin dibagi dalam 3 tahap :
ü  Ovum     : sejak konsepsi sampai hari ke-14 (terjadi replikasi seluler, pembentukan blastosis, perkembangan awal selaput embrio lapisan germinal primer.
ü  Embrio : berlangsung dari hari ke-15 sampai 8 minggu setelah konsepsi atau sampai ukuran embrio sekitar 3 cm dari puncak kepala ke bokong.
Tahap ini merupakan masa yang paling kritis dalam perkembangan sistem organ dan penampilan luar utama janin, sangat rentan terhadap malformasi akibat teratogen.
©      Minggu ke-4
Dari diskus embrionik, bagian pertama muncul yang kemudian akan menjadi tulang belakang, otak dan saraf tulang belakang. Jantung, sirkulasi darah dan saluran pencernaan terbentuk. Badan tampak membentuk huruf C. Ukuran puncak kepala-bokong 0,4 – 0,5 cm. Berat 0,4 gr.
©      Minggu ke-8
Perkembangan cepat. Badan mulai terbentuk. Hidung rata, mata jauh terpisah, jari-jari sudah terbentuk, kepala mulai terangkat, ekor hampir hilang, mata,telinga dan mulut dapat dikenali. Ukuran 2,5 cm – 3 cm, berat 2 gram Jantung mulai memompa darah. Vili usus berkembang, usus halus menggulung dalam tali pusat, hati sangat besar.
©      Minggu ke-12
Embrio menjadi janin. Kuku terbentuk, lebih menyerupai manusia, kepala tegak tetapi besarnya tidak sebanding, kulit merah muda, lembut.
Ukuran 6-9 cm, berat 19 gram.
Denyut jantung dapat terlihat dengan ultrasound. Diperkirakan lebih berbentuk manusia karena tumbuh dan berkembang. Gerakan pertama dimulai selama minggu ke- 12. jenis kelamin dapat diketahui. Ginjal memproduksi urine.
©      Minggu ke-16
Kepala masih dominan, wajah menyerupai manusia, mata, telinga dan hidung menyerupai bentuk yang sebenarnya, perbandingan lengan-kaki sesuai, muncul rambut kepala. Ukuran 11,5- 13,5 cm, berat 100 gram Sistem muskuloskeletal sudah matang, sistem syaraf mulai melaksanakan kontrol. Pembuluh darah berkembang dengan cepat. Tangan janin dapat menggenggam. Kaki menendang dengan aktif. Semua organ mulai matang dan tumbuh. Berat janin sekitar 0,2 kg. Denyut jantung janin dapat didengar dengan Doppler. Pankreas memproduksi insulin.
©      Minggu ke-20
Verniks kaseosa muncul, lanugo muncul, tungkai sangat bertambah panjang, mulai terlihat kelenjar sabasea. Ukuran 16-18,5 cm, berat 300 gram.
Verniks melindungi tubuh. Lanugo menutupi tubuh dan menjaga minyak pada kulit. Alis, bulu mata dan ranbut terbentuk. Janin mengembangkan jadwal yang teratur untuk tidur, menelan dan menendang.
©      Minggu ke-24
Tubuh menjadi langsing tetapi dengan perbandingan yang sesuai, kulit menjadi merah dan keriput, terdapat verniks kaseosa, pembentukan kelenjar keringat.
Ukuran 23 cm, berat 600 gram. Kerangka berkembang dengan cepat
karena sel pembentukan tulang meningkatkan aktifitasnya.
Perkembangan pernafasan dimulai. Berat janin 0,7 – 0,8 kg.
©      Minggu ke-28
Badan langsing, keriput berkurang dan berwarna merah,
terbentuk kuku. Ukuran 27 cm, berat 1100 gram. Janin dapat bernafas, menelan dan mengatur suhu. Surfaktan terbentuk di dalam paru-paru. Mata janin mulai membuka dan menutup. Ukuran janin 2/3 ukuran pada saat lahir.
©      Minggu ke-32
Lemak sub kutan mulai terkumpul, tampak lebih bulat, kulit
merah muda dan licin, mengambil posisi persalinan. Ukuran 32 cm, berat 2100 gram. Simpanan lemak coklat berkembang di bawah kulit untuk persiapan pemisahan bayi setelah lahir. Bayi tumbuh 38-43 cm. Mulai menyimpan zat besi, kalsium dan fosfor.
©      Minggu ke-36
Kulit merah muda, tubuh bulat, lanugo menghilang di seluruh tubuh, tubuh biasanya gemuk. Ukuran 35 cm, berat 2200 – 2900 gram, Seluruh uterus terisi oleh bayi sehingga ia tidak bisa bergerak/berputar banyak. Antibodi ibu di transfer ke bayi. Hal ini akan memberikan kekebalan untuk 6 bulan pertama sampai sistem kekebalan bayi bekerja sendiri.
©      Minggu ke-40
Kulit halus dan berwarna merah muda, verniks kaseosa sedikit, rambut sedang atau banyak, lanugo hanya pada bahu dan tubuk bagian atas, tampak tulang rawan hidung dan cuping hidung. Ukuran 40 cm, berat 3200 gram atau lebih. Gerakan aktif, tonus baik, dapat mengangkat kepala., testis ada dalam skrotum pada laki-laki, labia mayora berkembang baik pada wanita.
Sistem peredaran darah fetomaternal
Proses Sirkulasi Darah Janin : Peredaran darah janin berbeda dengan orang dewasa,hal ini dikarenakan, pada janin organ vital untuk metabolisme masih belum berfungsi. Organ tersebut adalah paru janin dan alat gastrointestinal yang seluruhnya diganti oleh plasenta.Dalam sirkulasi darah janin ini diperlukan beberapa faktor untuk berlansungnya sirkulasi darah pada janin diantaranya adalah foramen ovale, duktus arteriosus bothalii, duktus venousus aranthii, vena umbilikalis, arteri umbilikalis dan plasenta .
Namun setelah janin lahir sirkulasi darah janin akan berubaha pada saat bayi lahir dan menangis,hal ini akan dapat meberikan perubahan pada organ paru dimana paru-paru mulai berkembang dan aliran darah akan berubah pada sirkulsi pada orang dewasa.
Sistem peredaran darah fetomaternal atau sirkulasi darah dari ibu ke janin yaitu ;
(1)   Foramen ovale
(2)   Duktus arteriosus Botali
(3)   Arteriae umbilikales lateralis
(4)   Duktus venosus arantii

Darah yang kaya O dan nutrisi yang berasal dari uri masuk ke tubuh janin melalui vena umbilikalis. Melalui duktus venosus arantii sebagian besar darh tersebut mengalir kevena kava inferior lalu masuk ke atrium dextra jantung. Sebagian kecil darah tadi mengalir ke hati dan seterusnya ke vena kava inferior seperti tadi. Dalam atrium dextra, sebagian besar darah ini akan mengalir secara fisiologi ke dalam atrium sinistra melalui foramen ovale. Dari atrium sinistra, darah mengalir ke ventrikel sinistra yang selanjutnya dipompakan ke aorta. Hanya sebagian kecil darah  dari atrium dextra mengalir ke ventrikel dextra bersama-sama dengan darah yang datang dari vena kava superior. Karena tekanan dari paru-paru yang belum berkembang, maka sebagian besar darah dari ventrikel dextra ini, yang semestinya mengalir ke paru-paru melalui aa.pulmonales, akan mengalir melalui duktus Botali ke Aorta. Sebagian kecil darah menuju paru-paru kemudian melalui vv.pulmonales ke  atrium sinistra. Dari aorta, darah akan mengalir ke seluruh tubuh membawa O dan nutrisi pada sel-sel organ tubuh janin. Hb yang dibuatoleh janin adalah hemoglobin fetal tipe F (HbF) sedangkan pada orang dewasa adalah HbA. Eritrosit yang mengadung HbF mempunyai daya penarik lebih tinggi terhadap oksigen dibanding HbA dalam keadaan PO dan pH darah yang sama.
Pada pernapasan janin intra-uterin, apabila saturitas O meningkat sampai melebihi 50% maka terjadi apnoe, tidak bergantung pada konsentrasi CO. Bila saturasi O menurun, maka pusat pernapasan menjadi menjadi sensitif terhadap rangsangan CO namun akan lebih sensitif bila kadar O turun dan saturasi O mencapai 25%. Sirkulasi utero-plasenter jelas berpengaruh terhadap pernapasan janin intra-utrin. Bila ada gangguan pada sirkulasi ini sehingga saturasi O turun, misalnya pada tetania uteri, eklamsi, tali pusat terjepit dan sebagainya, maka terjadi ketidakseimbangan asam basa pada janin yang berakibat lumpuhnya pernapasan janin.
Maturitas paru-paru dapat ditentukan dengan mengukur rasio lesitin-sfingomielin. Lipoprotein ini berfungsi untuk mengurangi tekanan pada permukaan alveoli dan memudahkan paru-paru berkembang pada penarikan napas pertama janin, refleks Marey adalah keadaan dimana bunyi denyut jantung janin melemah dan lambat setelah rahim berkontraksi. Keadaan ini adalah normal dan disebabkan adanya gangguan sememtara pada peredaran darah utero-plasenter. Di klinik, monitor denyut jantung janin adalah penting untuk mendeteksi adanya gawat janin.
Darah yang kembali dari sel-sel tubuh yang miskin O serta penuh sampah metabolisme dan lainnya akan dialirkan ke uri melalui aa.umbilikales.
Sewaktu bayi lahir, ia segera menangis fan menghirup udara yang menyebabkan paru-paru berkembang. Tekanan dalam paru-paru berkurang/mengecil dan darah tersebur ke dalam paru-paru. Dengan demikian duktus Botali tidak berfungsi lagi, karena tekanan dalam atrium sinistra meningkat, foramen ovale akan tertutup. Aa.umbilikales dan duktus Arantii akan mengalami obliterasi karena tali pusat dipotong dan diikat. Bayi yang baru lahir, kebutuhan O-nya hanya pada udara yang diisap ke paru-paru, dan kebutuhan makanan dan makanan yang dimakan.
PEREDARAN DARAH JANIN
Sebelum lahir, darah dari plasenta kira-kira 80% jenuh dengan 0 dialirkan kembali ke janin melalui vena umbilialis. Pada saat mendekati hati, sebagian besar darah ini mengalir melalui duktus venosus langsung masuk ke dalam vena kava inferior, dengan demikian memintas dari hati. Sebagian kecil daripadanya masuk ke sinusoid hati dan bercampur dengan darah yang berasal dari sirkulasi portal. Semacam mekanisme sfingter di dalam  duktus venosus,  di dekat tempat masuknya vena umbilikalis, mengatur aliran darah vena umbilikalis melalui sinusoid hati. Diperkirakan bahwa sfingter ini menutup apabila, karena kontrasi uterus, aliran balik vena terlampau tinggi, dengan demikiian dapat dicegah pembebanan jantung yang tiba-tiba.
Setelah melalui vena kava inferior yang pndek dan bercampur dengan darah yang tidak mengandung O yang kembali dari anggota badan bawah, darah ini memasuki atrium dextra. Disini darah diarahkan ke foramen ovale oleh katup vena kava inferior, dan sebagian besar darah mengalir langsung ke atrium sinistra. Tetapi sebagian kecil darah tidak dapat mengikuti jalan tersebut karena dihambat oleh tepi bawah septum sekundum, yaitu krista dividens, dan tetap berada di atrium dextra. Disini darah tersebut bercampur dengan darah desaturasi yang kembali dari bagian kepala dan lengan melalui vena kava superior.
Dari atrium sinistra, yang merupakan tempat percampuran darah ini dengan sedikit darah yang kembali dari paru-paru, darah memasuki ventrikel sinistra dan aorta asende. Oleh karena arteri koronaria dan arteri karotis merupakan cabang pertama aorta asenden, otot-otot jantung dan otak memperoleh darah yang kaya O. Darah yang rendah O dari vena kava superior mengalir melalui ventrikel dextra menuju ke trunkus pulmonalis. Oleh karena tahanan di dalam pembuluh pulmonal selama masajanin tinggi, sebagian besar darah ini mengalir langsung melaui duktus arteriosus menuju aorta desenden, dan bercampur dengan darah yang berasal dari aorta proksimal. Mulai berjalan melewati aorta desenden, darah mengalir menuju ke plasenta melalui kedua aa.umbilicales. angka kejenuhan O dalam aa,umbilicales kira-kira 58%.
Selama berjalan dari plasenta ke organ-organ janin, kadar O yang tinggi di dalam vena umbilikalis berangsur-angsur menurun karena bercampur darah yang jenuh CO. Secara teoritis, percampuran dapat terjadi di tempat-tempat berikut ;
-          Di hati (I),darah bercampur dengan sejumlah kecil darah yang datang dari sistem vena porta;
-          Di vena kava nferior (II),yang mengangkut darah yang jenuh CO yang kembali dari tungkai, panggul, dan ginjal,
-          Di atrium dextra (III), darah bercampur dengan arah yang kembali dari kepala dan lengan
-          Di atrium sinistra(IV), darah bercampur dengan arah yang kembali dari paru-paru
-          Di muara duktus arteriosus ke dalam aorta desendens (V).
Sirkulasi darah janin dalam rahim tidak sama dengan sirkulasi darah pada bayi, anak dan orang dewasa. Pada janin organ vital untuk metabolisme masih belum berfungsi. Organ tersebut adalah paru janin dan alat gastrointestinal yang seluruhnya diganti oleh plasenta. Dengan tidak berfungsinya mekanisme tersebut,harus terdapat mekanisme yang berfungsi sebagaialat ganti untuk :
1. Paru Janin
Terjadi pergantian O dengan CO melalui plasenta sehinggga paru-paru tidak memerlukan aliran darah.
2. Gastro intestinal
Gastro ientestinal yang belum berfungsi sebagaia alat penyerapan nutrisi,maka pembuluh darahnaya belum berfunngsi, kecuali pada janin digunakan untuk tumbuh kembang sendiri.
Perbedaan antara sirkulasi darah janin intra uterine dan ekstra uterine
antara lain adalah :
  1. Aliran darah arteri pulmonalis dari ventrikel kanan,darahnya akan dialirkan menuju aorta melalui erteria duktus Bothaki
  2. Darah dari vena umbilikal melalui liver langsung menuju vena cava inferior melalui duktus venous aranthi
  3. Darah dari vena cava inferior menuju jantung sebagian langsung menuju atrium kiri melalui foramen ovale
  4. Sebagian menuju ventrikel kiri dan selanjutnya ke aorta sebagian besar digunakan untuk konsumsi O  dan nutrisi susunan saraf pusat jantung .
Gambar.1 sirkulasi darah fetus intra dan ekstra urine

Faktor-faktor yang Mentukan Sirkulasi Darah Janin
a. Foramen Ovale
ü  Lubang antara atrum kanan dan atrium kirifadlie.web.id
ü  Aliran daranhnya : atrium kanan kiri
ü  Setelah janin lahir akan menutup
b. Duktus Arteriosus Bothali
ü  Pembuluh yang menghubungkan arteri pulmonalis dengan aorta
ü  Menutup setelah lahir
c. Duktus venousus Aranthii
ü  Pembuluh yang berada dalam hepar menuju vena cava inferior
ü  Menutup setelah lahir
d. Vena Umbilcalis
ü  Berjumlah dua buah
ü  Membawa zat makanan dan O dari sirkulasi darh ibu ( plasenta ) ke peredaran darh janin
e. Arteri Umbilicalis
ü  Berjumlah dua buah
ü  Membawa sisa zat makanan dan CO dari janin ke sirkulasi darah ibu
ü  Pembuluh darah yang menghubungkan vena umbilikalis dengan vena cava inferior
f. Palsenta
ü  Jaringan yang menempel pada endometrium
ü  Tempat pertukaran antara darah janin dengan darah ibu .
Proses Sirkulasi Darah Janin ( Fetus )
Gambar.2 Sirkulasi darah fetus
  1. Darah janin dialirkan ke plasenta melalui aa.umbilicaliesyang membawa bahan makanan ang berasal dari ibu .
  2. Darah ini akan masuk ke badan janin melalui vena umbilikacalis yang bercabang dua setelah memasuki dinding perut janin .
  3. Cabang yang kecil akan bersatu dengan vena porta,darahnya akan beredar dalam hati dan kemudian dianggkut melalui vena cava hepatica kedalam vena cava inferior. Dan cabang satu lagi ductus venusus aranthii,akhirnya masuk ke vena cava inferior. Sebagian O dalam darah vena umbilikalis akan direabsorbsi sehingga konsentrasi O menurun .
  4. Vena cava inferior, langsung masuk ke atrium kanan, darah ini merupakan darah yang berkonsentrasi tinggi nutrisi dan O yang sebahagian menuju ventrikel kanan dan sebahagian besar menuju atrium kiri melalui foramen ovale.
  5. Dari ventrikel kanan masuk ke paru-paru,tetapi karena paru-paru belum berkembang maka darah yang tredapat pada arteri pulmonalis dialirkan menuju aorta melalui ductus arteriosus Bothalli. Darah yang ke paru-paru bukan untuk pertukaran gas tetapi untuk memberi makanan kepada paru-paru yang sedang tumbuh.fadlie.web.id
  6. Darah ynag berda di aorta disebarkan ke alat-alat badan,tetapi sebelumnya darah menuju ke aa.hypogastricae ( cabang dari arteri iliaca comunis ) lalu ke aa. Umbilicalles dan selanjutnya ke plasenta.
  7. Selanjutnya sirkulasi darah janin akan berulang kembali. Menerima nutrisi dan O dari plasenta melalui ductus venousus aranthii, menuju vena cava inferior yang kaya akan O dan nutrisi .
Gambar.3 proses sirkulasi darah fetus
Sirkulasi Darah Janin Setelah Lahir
Pada saat persalinan sebahagian besar bayi langsung menangis maka akan terjadi perubahan besar terhadap sirkulasi darah, diantaranya adalah :
1. Paru-paru berkembang dengan sempurna dan langsung dapat berfungsi untuk pertukaran O dan CO. Akibat perkembangan paru-paru terjadi perubahan sirkulasi darah diantaranya adalah :
  • Arteri pulmonalis kini langsung mengalirkan darah ke paru sehingga ductus arteriosus Bothalli akan menutup.
  • Perkembangan paru-paru menyebabkan tekanan negatif pada atrium kiri,karena drah diserahkan langsung oleh ventrikel kanan dan dialirkan menuju paru-paru yang telah berfungsi.
  • Akibat tekanan negatif pada atrium kanan, foramen ovale akan menutup dengan sendirinya,dan tidak lagi menjadi tempat aliran darah menuju atrium kiri.
2. Pemotongan Tali Pusat
  • Tali pusat di potong setelah bayi menangis dengan nyaring sehingga akan menambah jumlah darah bayi sekitar 50 % .
  • Dengan dilkaukannya pemotongan tali pusat berarti perubahan sirkulasi pada bayi telah berubah menjadi sirkulasi orang dewasa.
Kesimpulan
Peredaran darah janin berbeda dengan orang dewasa,hal ini dikarenakan, pada janin organ vital untuk metabolisme masih belum berfungsi. Organ tersebut adalah paru janin dan alat gastrointestinal yang seluruhnya diganti oleh plasenta.Dalam sirkulasi darah janin ini diperlukan beberapa faktor untuk berlansungnya sirkulasi darah pada janin diantaranya adalah:
  • foramen ovale
  • duktus arteriosus bothalii
  • duktus venousus aranthii
  • vena umbilikalis
  • arteri umbilikalis dan plasenta
Jalur peredaran darah janin dapat digambarkan sebagai berikut :
Plasenta – vena umbilicalis -hati – ductus venosus /vena hepatica – vena cava inferior – atrium kanan – foramen oval – Atrium kiri – ventrikel kiri – aorta – kepala, tangan/ abdomen, thorax, kaki – arteri umbilicalis – plasenta.
Ini aliran darah yg kaya dengan nutrisi dan oksigen yang berasal dari sirkulasi darah ibu, namun setelah janin lahir sirkulasi darah janin akan berubaha pada saat bayi lahir dan menangis,hal ini akan dapat meberikan perubahan pada organ paru dimana paru-paru mulai berkembang dan aliran darah akan berubah pada sirkulsi darah seperti orang dewasa.

Referensi
Fadlie. 2011. Proses Sirkulasi darah Janin. Yogyakarta : http://www.fadlie.web.id/?p=2294 Dibuka Tanggal 03/04/2011 Pukul: 21:08 AM
Manuaba I.BG.2007.Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Prawirohardjo, Sarwono.2010. Ilmu Kebidanan.Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
Sadler.T.W. 2000.EMBRIOLOGI KEDOKTERAN LANGMAN.Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Translate